PASEMON HIDUP KORUPTIF


Djoko Saryono

Begitu mambaca judul Nggragas: Sehimpun Esai Triyanto Triwikromo (IRCiSoD, Februari 2021), entah kenapa ingatan saya langsung tertuju pada perkara korupsi yang sekarang semakin membuat orang kebanyakan atau sebagian dag-dig-dug dan gemas atau malah geram. Saya seperti salfok menangkap pesan umum-utuh dan keseluruhan buku esai Mas Triyanto ini gara-gara kata “nggragas”. Lebih jauh, kata itu menyeret saya untuk mengingat kembali kata “cluthak, alu amah, nggrangsang”, dan lain-lain kata sejenis. Padahal Nggragas hanyalah salah satu judul esai di antara 56 judul esai yang termuat dalam buku himpunan esai ini! Apakah lantaran pengaruh media yang saya baca pagi, yang rata-rata memberitakan merosotnya indeks persepsi korupsi Indonesia, yang menandakan korupsi makin meruyak atau tetap menggerogoti Indonesia? Entahlah.

Sebab itu, setelah membaca daftar isi, segera saya mencari halaman esai berjudul Nggragas yang diletakkan di urutan 52. Kendati ada di urutan 52 dari 54 esai, saya pikir esai berjudul Nggragas paling penting karena dijadikan judul buku. Boleh jadi menjadi simpul pokok semua esai. Itu sebabnya, pertama-tama saya menikmati esai yang berkisah watak rakus Bakasura, yang dibunuh oleh Bima yang mengakibatkan Bima mengandungi watak rakus Bakasura. Seperti digumamkan Bima, “…pada akhirnya di dalam diri setiap makhluk ada sosok lain bernama Bakasura.” Dengan mengambil kisah Bakasura dalam pewayangan itu, Mas Triyanto agaknya sedang berpesan bahwa kerakusan merupakan watak inheren dan laten setiap manusia, yang bisa muncul, menjadi-jadi, dan merajalela bila situasi dan kondisi memungkinkan atau ekosistem hidup mendukungnya.

Begitulah cara Mas Triyanto memotret kejadian dan kenyataan hidup sehari-hari, lalu menarik kandungan nilainya dan merefleksikannya sebagai bahan permenungan bagi pembaca. Tak lupa juga mengkritik. Semua dilakukan dengan cara tak langsung, simbolis, dan reflektif dengan meminjam kisah, kejadian, pelajaran, dan lain-lain dari khazanah dunia lain. Dalam budaya Jawa, dapat dibilang Mas Triyanto menggunakan cara “ngepuk lor kena kidul” atau “nabok nyilih tangan” untuk menanggapi fenomena-fenomena kehidupan sehari-hari yang terentang luas. Dia “nabok” koruptor dengan “nyilih tangan” kisah Bakasura, misalnya. Contoh lain, dia “nabok” kelompok puber beragama dengan “nyilih tangan” puisi Joko Pinurbo tentang balsem buat Gus Mus. Mas Triyanto memang menggunakan perspektif atau bingkai-pikir budaya Jawa, bahkan khazanah nilai dan kearifan Jawa, untuk seluruh esai yang terhimpun dalam buku ini. Selain itu, dengan leluasa dan enteng dia mengambil referensi dari khazanah wayang, sastra, serat, babad, petuah, tamsil, dan lain-lain dari mana pun baik khazanah Jawa, Indonesia maupun Islam dan lainnya sekalipun sebagian besar khazanah nilai dan kearifan Jawa. Sebagai sastrawan, budayawan, dan wartawan, Mas Triyanto begitu piawai meracik esai-esainya dengan ramuan sastra, fakta, simbol, dan nilai atau perjumpaan berita, sastra, dan opini. Ini bisa membuat pembaca terlena atau terpedaya untuk terus membaca sampai tuntas.

Meskipun ke-54 esai yang terhimpun dalam buku Nggragas ini diurutkan sedemikian rupa, dengan pertimbangan tertentu dan bahkan diberi judul (satu kata), namun pembaca dapat memilih dan membaca dari mana saja dan apa saja, melompat-lompat tak perlu urut dan kronologis, karena tiap-tiap esai bersifat utuh dan mandiri sebagai satu esai. Tiap esai menaratifkan (mengisahberitakan) satu fenomena, yang ditangkap dengan kacamata budaya Jawa, kemudian disuling kristal makna di dalamnya untuk dijadikan refleksi-refleksi. Refleksi yang terkandung dalam tiap esai begitu tenang, lembut, terbuka, dan kadang kocak serta berlumur plesetan Jawa, tak memaksa pembaca untuk mengiyakan atau menolak. Kekocakan cerdas dan plesetan itu bernada Jawa betul. Dengan kata lain, kalau dikatakan dengan ungkapan klise, esai-esai Mas Triyanto sama sekali tak hendak menggurui, hanya menunjukkan, mengingatkan atau mengajak pembaca membuka pintu permenungan dengan pulang ke dalam nurani masing-masing.

Tanpa terasa, tahu-tahu pembaca tiba di dalam ruang permenungan karena ke-54 esai di dalam buku ini bergaya naratif semua. Bukan hanya dipenuhi oleh dialog-dialog, setiap esai serasa mengajak pembaca berdialog dengan penulis dan persoalan yang diangkat. Kejagoan Mas Triyanto di bidang cerpen dan puisi sekaligus kepiawaiannya di bidang jurnalisme bertemu di dalam esai-esai dalam buku ini. Itu sebabnya, pembaca mungkin akan dibawa ke dunia antara: antara esai dan cerpen/sastra karena “gaya cerpen dan puisi” kental sekali dalam esai buku ini — tentu saja selain gaya pasemon “ngudarasa” Jawa. Inilah mungkin esai sastrawi Mas Triyanto.

Ke-54 esai sastrawi Mas Triyanto tersebut diberi judul menggunakan istilah Jawa semua dan dikelompokkan menjadi 8 kelompok. Judul-judul yang berupa satu kata atau frasa itu ada yang sudah dikenal umum, ada yang plesetan khas penulisnya, dan racikan baru penulisnya. Kita akan bertemu judul-judul dalan padhang, tijitibeh, sampyuh, dan ngapusi, misalnya. Kita akan bertemu judul plesetan Usu Gedhe Kalah Kerahe dan Ula Mara Nyokot. Yang menarik, kita akan bertemu judul bagian atau kelompok (satu kata Jawa semua) yang membayangkan siratan makna bahaya atau ketakberesan. Kedelapan kelompok esai di buku ini diberi judul lemah, lenga, pedhut, jurang, lendhut, bruwet, nggubet, dan pituwas, yang semuanya berkomponen semantis “ketaknyamanan, ketakberesan, dan bahaya” yang menuntut kita semua harus berhati-hati dan senantiasa waspada. Mungkin di sinilah letak pesan dasar yang tersembunyi di buku himpunan esai ini, yang tak dikatakan secara eksplisit dalam buku ini. Sebab itu, bagi saya, himpunan esai ini bagaikan senandika atau ngudarasa (solilokui) penulis yang dibocorkan kepada pembaca untuk mengabarkan adanya kehidupan yang sedang penuh bahaya, yang dikorupsi segolongan manusia.

Memang, harus diakui, tak semua pembaca bisa menangkap kebyar pijaran makna yang terpancar dari ke-54 esai di dalam Nggragas tanpa penguasaan budaya Jawa yang cukup dan pengalaman bertungkus lumus dengan budaya Jawa. Bahkan mungkin pembaca bisa tak memahami judul-judul yang ada, apalagi pepatah atau aforisma Jawa yang bertebaran dalam buku. Andaikan di akhir buku disertai dengan senarai istilah Jawa dengan padanan bahasa Indonesia, mungkin pembaca umum sangat terbantu. Namun, mungkin memang penulis atau editor sengaja tak membuatkan senarai istilah Jawa bagi pembaca agar para pembaca bisa menangkap kebyar-kebyar pijaran makna yang beraneka. Pembaca dibiarkan masuk hutan pijaran makna simbol, nilai, dan kearifan Jawa yang menyilaukan tanpa harus memahami sumber pijaran makna.

29 Jan 2021

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *