PEMBELAJARAN SASTRA (1)

Djoko Saryono

Kita tahu, sekarang kedudukan dan peran literasi, kecakapan baca-tulis, dan kemampuan berpikir kritis-kreatif sangat strategis, malah fundamental dalam bingkai kebudayaan dan/atau pendidikan. Pada sisi lain, kita juga tahu, berbagai kalangan juga memandang penting pengembangan sastra Indonesia sebagai aset kebudayaan Indonesia, karena sastra Indonesia tergolong “spesies sastra baru” yang masih muda yang masih perlu terus dikembangkan secara berkelanjutan.

Pengembangan sastra Indonesia secara berkelanjutan tersebut dapat menggunakan berbagai jalan, jalur, atau instrumen. Salah satunya ialah pendidikan (khususnya pembelajaran), mengingat demikian fundamental dan strategis keberadaan, kedudukan, dan peranan pendidikan dalam suatu sistem kebudayaan dan peradaban – termasuk kebudayaan dan peradaban Indonesia.

Di situlah dapat dipertemukan dua kepentingan di atas. Implikasinya, perlu dikembangkan pembelajaran sastra Indonesia berlandasan literasi, tradisi baca-tulis, dan kemampuan berpikir kritis-kreatif. Dalam hubungan ini tidak perlulah ditanyakan atau diperdebatkan perkara landasan spiritual, filosofis, dan kultural pengajaran, pemelajaran dan pembelajaran sastra Indonesia karena literasi, tradisi baca-tulis, dan kemampuan berpikir kritis-kreatif dapat bersumbu pada spiritualitas/religiositas, filosofi dan budaya tertentu.

Kenapa demikian? Bukankah ajaran agama-agama wahyu menekankan dan menempatkan literasi, tradisi baca-tulis dan kemampuan berpikir kritis-kreatif pada tempat yang utama dan sangat terhormat? Bukankah semua sistem atau paham filsafat dapat berkembang baik di atas landasan literasi, tradisi baca-tulis dan kemampuan berpikir kritis-kreatif? Bukankah semua budaya berhasil bertahan dan berkembang berkat alas literasi, tradisi baca-tulis, dan kemampuan berpikir kritis-kreatif? Hal tersebut memerlukan arsitektur baru pembelajaran sastra Indonesia, sehingga perlu dilakukan rekonstruksi pembelajaran sastra Indonesia yang menekankan literasi, baca-tulis, dan kemampuan berpikir kritis-kreatif.

Bersambung: http://sastra-indonesia.com/2021/02/pembelajaran-sastra-2/

One Reply to “PEMBELAJARAN SASTRA (1)”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *