EKSISTENSI DAN PERAN NAHDLATUL ULAMA DALAM PUISI

Catatan Kesan atas Antologi Puisi “Muhasabah Warna”

A. Syauqi Sumbawi *

Keberadaan Nahdlatul Ulama (NU) sebagai ormas Islam terbesar di Indonesia hingga sekarang ini, tidak bisa dilepaskan dari lintasan historisnya dalam mengemban peran keagamaan dan kebangsaan. Pada titik ini, dialektika konstruktif dalam bingkai Islam dan ke-Indonesia-an, merupakan proses penting yang menjadikannya sebagai ormas Islam moderat (wasathiyah) serta mengakar pada kepribumiannya.

Secara historis, lahirnya NU pada tahun 1926 bertepatan dengan periode paling dinamis dari kebangkitan Islam dan pergerakan nasional, baik Indonesia maupun bangsa-bangsa lain di kawasan Asia-Afrika. Gerakan Islam modernis yang bergema di seluruh Dunia Islam serta menguatnya paham Wahabi dalam kehidupan politik di Arab Saudi—terutama berkaitan tuntutan penyamaan madzhab—, tidak dipungkiri melahirkan polarisasi aliran dan pemikiran keislaman yang harus dijawab oleh kalangan Islam tradisionalis. Di sisi lain, pergerakan nasional Indonesia dan kesadaran politik yang semakin kuat sejak tahun 1920-an untuk mencapai kemerdekaan dari cengkeraman pemerintah kolonial Belanda, mensyaratkan dukungan rakyat secara luas.

Tidak dipungkiri, kalangan Islam tradisonalis yang secara kultural berada di bawah kepemimpinan para ulama pesantren merupakan kelompok mayoritas pribumi Muslim. Dikuatkan dengan proses Islamisasi yang mengarah pada pribumisasi Islam, kalangan ini lahir dan bersama-sama mempraktikkan ajaran Islam sejak masuknya agama tersebut di Indonesia. Maka, tidak heran NU kemudian menjadi ormas Islam terbesar mengingat keberadaan basis pendukungnya yang telah jauh terbentuk sebelum organisasi formalnya.

Kemudian, mengiringi perkembangan Islam dan pergerakan nasional di atas, para ulama yang semula terikat dalam hubungan kekeluargaan dan jaringan keilmuwan—kyai dan santri—, serta perayaan haul yang mengikat para ulama dengan masyarakat luas, mulai merasakan kebutuhan terhadap sebuah jam’iyah atau organisasi. Di samping sebagai penguatan identitas serta konsolidasi dan intensifikasi Islam berhaluan ahlussunnah wal jama’ah, keberadaan NU juga dimaksudkan untuk memupuk kesadaran nasionalisme di kalangan pribumi.

Terkait hal di atas, setidaknya terdapat dua proses dialektika yang terjadi secara bersamaan dan menyertai eksistensi NU hingga dewasa ini, yaitu dialektika Islam dan budaya serta dialektika Islam dan kebangsaan, terutama untuk meneguhkan identitasnya. Intensitas dalam proses dialektika ini, pada gilirannya menjadikan NU semakin mapan dalam mengemban peran keagamaan dan kebangsaan sekaligus, sebagaimana bisa dilihat dari slogan “NU penjaga Aswaja dan NKRI” dan ungkapan lain dengan makna yang sama. Tentunya, hal ini akan sulit terwujud tanpa adanya manhaj keberagamaan NU yang berpegang pada prinsip tawasuth, ta’adul, tawazun, dan tasamuh serta kesadaran amar ma’ruf nahi munkar dengan pendekatan kultural.

Konstruksi “Muhasabah Warna”: Merefleksikan NU dengan Puisi

Eksistensi dan peran NU di atas, menjadi konteks penulis dalam pembacaan atas antologi puisi “Muhasabah Warna”. Hal tersebut ternyata juga merupakan proyeksi besar dari sepai-sepai tematik 70 puisi karya 22 penyair yang hadir di dalamnya. Bukan sebuah kebetulan, melainkan inilah tujuan dari Lesbumi PCNU Babat, bahwa antologi ini dimaksudkan untuk merefleksikan eksistensi dan peran NU yang secara eksplisit dirumuskan dalam tema “NU Penjaga Aswaja dan NKRI”.

Satu hal yang menjadi perhatian, bahwa mencipta puisi sesuai dengan arahan tema, merupakan tantangan tersendiri. Pada sebagian kasus, tema acapkali muncul sebagai “jebakan” dalam kreativitas, dimana pada gilirannya, keberadaan puisi lebih tampak sebagai jargon. Atau puisi lebih mengarah pada keberadaannya sebagai pesan-pesan tersurat dengan kata-kata yang lugas. Di sinilah, pengalaman seorang penyair dalam menuangkan ide dan perasaannya dalam bentuk puisi menjadi penting. Baik pengalaman ketika berhadapan dengan bahan dan inspirasi puisi, pengalaman terkait kebahasaan puisi, maupun pengalaman dalam mengekspresikannya. Luasnya pengalaman seorang penyair pada gilirannya menentukan kualitas sebuah karya.

Lepas dari masalah pengalaman di atas, antologi puisi ini merupakan hasil pembacaan mengenai NU dan seluk-beluknya, yang sekaligus menjadi identitas sosial dari para penyair. Dalam ekspresinya, puisi-puisi dalam antologi ini setidaknya dapat dikategorisasikan dalam beberapa concern pembacaan, yaitu aswaja yang menjadi manhaj keberagamaan, kesadaran dan identitas NU, tradisi pesantren dan masyarakat tradisional lainnya.

Membaca Aswaja; Dialektika Islam, Pluralitas Budaya, dan Kebangsaan

Aswaja menjadi concern pertama dalam antologi ini. Keberadaannya sebagai manhaj keberagamaan yang rahmatan lil alamin menjadi modal penting dalam dialektika antara Islam dan budaya, Islam dan kebangsaan, serta dalam menjalin harmoni dalam pluralitas. Hal ini menjadi kesan umum dari puisi “Muhasabah Warna” karya Ahmad Shodiq, yang sekaligus menjadi judul antologi ini. Dalam interpretasinya, penerapan aswaja dalam kehidupan sehari-hari digambarkan dalam tradisi keberagamaan NU yang lebih menekankan substansi dengan pendekatan kultural. Bukan simbolis dan politis, sebagaimana gerakan ideologi (Islam) trans-nasional dan gerakan (Islam) radikal lainnya.

Terkait hadits tentang tujuhpuluhtiga firqah dalam Islam, puisi “Ahlussunnah wal Jama’ah”, karya Muhammad Afif Junaidi, menghadirkan pemahaman aswaja secara substansial, yakni kesadaran dan jalan hidup yang berpedoman pada al-Qur’an dan Sunnah, beramal shalih, serta amar ma’ruf nahi munkar. Hal ini terutama untuk menghindari klaim kebenaran dari satu golongan serta memandang sesat golongan lainnya. Sementara pada 3—bagian dari— puisi “NU Penjaga Aswaja dan NRKI” karya Achmad Farid Ali Irsyadi, aswaja ditampilkan secara fungsional, yakni sebagai benteng dari ekstremisme madzhab dan radikalisme yang mengatasnamakan Islam, serta pengikat keragaman agama dan budaya dalam satu bingkai ke-Indonesia-an.

Peran aswaja sebagai pengikat keragaman, dilatarbelakangi oleh pemahaman dan kesadaran bahwa pluralitas adalah sunnatullah. Pesan utama dari hal tersebut adalah li ta’arafu, agar manusia saling mengenal, yang pada gilirannya berlanjut dengan proses tasamuh (toleransi), tafahhum (saling memahami), hingga dapat bekerjasama dalam satu kesatuan (takafful) untuk mengaktualisasikan peran kemanusiaaan secara luas. Hal inilah yang menjadi gambaran umum dari puisi “Berjuanglah Kesadaran” karya Fathun Nasihin.

Membaca Nahdlatul Ulama: Identifikasi Jam’iyah dan Kesadaran diri sebagai Jama’ah

Pembacaan terhadap NU menjadi ekspresi mayoritas dari antologi puisi ini. Berbagai ragam pengalaman mempengaruhi sudut pandang para penyair dalam proses identifikasi jam’iyah dan kesadaran diri sebagai jamaah.

Keberadaan basis massa terbesar, yakni kalangan muslim tradisionalis yang hidup di pedesaan, menjelaskan posisi NU yang krusial dalam peran keagamaan dan peran kebangsaan, sekaligus menggambarkan tantangan besar yang dihadapi mengiringi perjalanan sejarahnya. Di sini, ngemong menjadi pola umum dari dakwah kultural yang dikembangkan para kyai NU dalam membangun pemahaman dan kesadaran beragama dan bernegara, sebagaimana juga dilakukan oleh para Walisongo yang menjadi inspirasinya. Karena itu, wajar jika NU kemudian menjadi identitas sosial kalangan mayoritas pribumi Muslim, baik dalam pola keberagamaan maupun keberadaannya sebagai bangsa Indonesia.

Kesuksesan dalam mengemban peran keagamaan dan kebangsaan di atas disebabkan oleh keberhasilan NU dalam dialektika antara universalisme Islam dengan partikularitas budaya. Begitu juga dalam dialektika antara agama dan negara. Tentunya, hal ini tidak bisa dilepaskan dari manhaj keberagamaan NU, yakni aswaja an-nahdliyah—sebagaimana dijelaskan di atas—. Begitu juga ushushul khamsh—tujuan penerapan syariat—, yang diinterpretasikan secara prosiporsional dengan pendekatan kultural.

Proses identifikasi terhadap eksistensi dan peran NU di atas, menjadi gambaran umum dari beberapa puisi dalam antologi ini, antara lain yaitu 4 puisi karya Agung Suprayitno—berjudul “Bahtera”, “Cahaya Kebangkitan”, “Sebuah Kesaksian”, dan “31 Januari Lagi”—, 3 puisi karya Ahmad Zaini—berjudul “Penyelamat Hidup”, “Tentang Kehadiranmu”, dan “Tradisi Dakwah”—, 2 puisi karya Moh. Agung Santoso—berjudul “Dimanakah Tempat Itu” dan “Kembalilah Anakku”—, puisi karya Muhammad Afif Junaidi berjudul “Ihwal Menjaga Kewarasan”, puisi karya Mbah Lamong (Arengga Putra) berjudul “Fasilitas Sembilan Bintang”, puisi karya Ahmad Shodiq berjudul “Tawasul Cinta”, dan puisi karya M. Alief Mubaidillah Sm. berjudul “NU dan NKRI”.

Pembacaan terhadap keberadaan NU dalam dimensi spiritual, ditunjukkan oleh 4 puisi karya Jadid Al Farisy berjudul “Melibas Prahara”, “Maka Lahirlah Keberkahan”, “Masihkah”, dan “Tali Jagad”. Kesan utama dari puisi-puisi ini, bahwa NU bukan sekedar organisasi lahiriyah, melainkan lebih sebagai “anak” spiritual dari para Kyai. Di balik keberadaannya, berdiri daya spiritual yang besar berupa doa dan laku tirakat. Daya spiritual inilah yang kemudian menjelma sebagai pengikat antara NU dan jama’ahnya serta mengobarkan semangat perjuangan NU di kalangan kadernya. Maka wajar, jika NU tidak hanya terjaga eksistensinya hingga sekarang, tetapi semakin mapan dan terus berkembang.

Selain dimensi spiritual, keberadaan kyai sebagai pemimpin sosial-kultural juga mengisi dimensi psikologis, yaitu sebagai teladan dalam perjuangan NU di kalangan jama’ahnya, sebagaimana digambarkan dalam puisi karya Sukirno Waska berjudul “NU dan Kyai NU”. Keteladanan dari para kyai yang dilihat sebagai idealitas konkrit, pada gilirannya mengisi ruang kesadaran dan mensugesti para santri dan masyarakat sekitar untuk mendekat kepadanya. Ringkas kata adalah berusaha untuk mengikuti jejaknya. Juga, loyal dan militan menyertai perjuangan para kyai.

Loyalitas jamaah, kebanggaan, harapan, dan militansi kader NU dalam antologi ini ditampilkan oleh beberapa puisi antara lain, yaitu 3 puisi karya Luluk Dianah—berjudul “Sampai Waktuku”, “Tafakur Santri”, dan “Nostalgia Hijau”—, 2 puisi karya Ulumi Khaifi Mubasyiroh—berjudul “NU Penjaga Aswaja”, “NU Penjaga Kedaulatan NKRI”—, puisi karya M. Alief Mubaidillah Sm. berjudul “Aku dan NU”, 2 puisi karya Sri Utami Affrilia Dewi—berjudul “Bunga Senja” dan “Nafas”—, 2 puisi karya Sukirno Waska—berjudul “Aku Ini NU” dan “Tirai NU”—, puisi karya Lia Puji Okdzatul Fatimah berjudul “NKRI, Aswaja dalam NU-Ku”, puisi karya Fathun Nasihin berjudul “Dari Mu, Karena Mu, Menujumu”, puisi karya Saada_lm berjudul “Kebangkitan (Nahdlatul Ulama)”, dan puisi karya Rizma Yasha berjudul “Aku Cinta NU”.

Militansi dan semangat perjuangan kader NU di atas, dapat dilihat dari pengalaman dalam kegiatan yang dilakukan oleh keluarga besar NU, sebagaimana diekpresikan dalam 5 puisi karya Yusro, yaitu “Jelajah Santri”, “Harlah NU”, “Gelombang Infaq”, “RAKOR 3” dan “LESBUMI”. Hal yang perlu digarisbawahi dari puisi-puisi di atas, bahwa keberadaan pemahaman dan kesadaran terkait perintah dakwah serta amar ma’ruf nahi munkar yang diinterpretasikan secara luas dengan pendekatan kultural, menjadi dasar dan motivasi dari kegiatan-kegiatan di atas. Dari pengalaman konkrit tersebut, evaluasi atas segala kekurangan, baik dalam sosialisasi dan konsolidasi kelembagaan maupun koordinasi dalam kegiatan, juga menjadi catatan dari beberapa puisi tersebut.

Dunia Pesantren dan Nasionalisme; Keteladanan Kyai serta lahirnya Ulama-nasionalis dan Nasionalis-religius

Pesantren merupakan basis utama dari keberadaan NU, dimana seorang kyai menempati posisi sentral di dalamnya. Tidak hanya dalam kegiatan mengaji, shalat berjama’ah, dan aktivitas dunia pesantren lainnya, tetapi juga dalam memberikan gambaran konkrit dari nilai-nilai ideal baik agama maupun budaya, di kalangan para santri. Di samping itu, intensitas interaksi dalam keseharian pesantren, pada gilirannya melahirkan ikatan kuat secara psikologis dan kultural, antara santri dan kyai. Pada titik ini, ungkapan “santri nderek kyai” memberikan pemahaman bahwa segala sesuatu yang disandarkan pada kyai merupakan representasi dari harapan seorang santri terkait hidupnya.

Peran sentral dan keberadaan kyai sebagai teladan hidup bagi para santri secara umum ditunjukkan dalam beberapa puisi antara lain, yaitu puisi karya Muhammad Afif Junaidi berjudul “Kiai”, puisi karya Enha Zen berjudul “Pangilon dari Beratkulon”, puisi Sukirno Waska berjudul “Lingkar Kyai” dan puisi karya Rizma Yasha berjudul Guruku Adalah Kyai”. Kemudian sebagai kelanjutannya, identitas santri dan perannya diungkapkan oleh “Puisi 3” karya Turhan Badri, yang menekankan pentingnya sifat dinamis, baik dalam menjaga tradisi, maupun menjawab tantangan zaman, sebagaimana juga digambarkan Rizma Yasha dalam puisi berjudul “Santri Jadi Pemimpin.”

Aspek lain dari pesantren sebagai sub kultur yang khas di masyarakat, yakni keberadaannya sebagai ruang penyemaian benih-benih kesadaran nasionalisme. Karena itu wajar, jika ulama-ulama yang lahir dari komunitas pesantren adalah ulama yang nasionalis. Sementara para nasionalis yang “dekat” dengan pesantren adalah nasionalis religius. Nasionalisme komunitas pesantren ini ditampilkan oleh Ahmad Shodiq dalam puisi berjudul “Takbir!”, di mana lintasan sejarah perang 10 November 1945 menjadi bagian dari ilustrasinya. Di sini, epidose tentang sowan-nya Bung Tomo di hadapan KH. Hasyim Asy’ari, lahirnya “resolusi jihad”, dan pekik takbir Bung Tomo untuk mengobarkan semangat menjadi ingatan kolektif komunitas pesantren dan kalangan NU, sekaligus menjadi kepingan-kepingan diri yang menegaskan identitas dan perjuangannya.

Nasionalisme komunitas pesantren bukanlah kesadaran yang baru tumbuh, melainkan telah mengakar di dasar kepribumian mengiringi sejarah perjuangan bangsa dalam melawan kolonialisme Barat. Hal ini menjadi kesan dari puisi karya Jadid Al Farisy yang berjudul “Seratus Tahun”, dimana dalam pembacaannya, perjuangan Pangeran Diponegoro bersama para kyai dan santri melahirkan inspirasi kesadaran nasionalisme bagi komunitas pesantren periode berikutnya. Jika pada tahun 1825 lebih mengarah pada perjuangan fisik—Perang Diponegoro—, maka pada tahun 1926 perjuangan komunitas pesantren termanifestasikan pada lahirnya NU, yang memang sesuai dengan zamannya, yaitu periode kebangkitan Islam dan pergerakan nasional di kalangan pribumi.

Tradisi Masyarakat: Pribumisasi Islam dan Dakwah kultural

Kepemimpinan sosial-kultural para kyai dapat dilihat kehadiran masyarakat pada peringatan haul dan sebagainya. Hal tersebut juga dipancarkan melalui kehadiran para santri dalam kehidupan sosial masyarakat, setelah pulang dari mondok di pesantren. Dapat dikatakan, bahwa para santri ini merupakan “kepanjangan tangan” dari kyai, yang secara praksis memainkan peran sosial-kulturalnya, terutama mengarah pada upaya menjaga tradisi dan harmoni masyarakat dalam bingkai ke-Indonesia-an.

Salah satu cara yang dilakukan, yakni dengan melestarikan tradisi-tradisi seperti ziarah, diba’an, yasinan, tahlilan, dan lain-lain, yang tidak hanya dipandang bernilai sebagai amaliyah ibadah atau mendekatkan diri kepada Allah, tetapi juga berfungsi sosial untuk mempererat solidaritas sosial di masyarakat. Secara tidak langsung, tradisi tersebut juga merupakan cara mendidik masyarakat terkait praktik dalam amaliyah ibadah di luar shalat, dimana pada gilirannya menumbuhkan pemahaman dan kesadaran mengenai posisi tradisi dalam ajaran Islam.

Ekspresi dari pengalaman serta pemahaman dan kesadaran terkait tradisi diungkapkan oleh beberapa puisi sebagai berikut, yaitu 2 puisi karya Enha Zen— berjudul “Ziarah” dan “Pencari Syafa’at”—, dan puisi karya Fathun Nasihin berjudul “Panorama Kamis Malam”. Begitu juga puisi karya Nuruddin Zanky berjudul “Doa Para Peziarah”, yang lebih menggambarkan pengalaman dimensi mistik-spiritual ketika berziarah. Sementara puisi berjudul “Wahai Sabdo” karya Saada_lm, menampilkan tantangan besar yang dihadapi oleh para penjaga tradisi, yakni globalisasi yang menghadirkan pertarungan budaya, serta ditengarai dapat menggerus identitas sosial-kultural masyarakat pribumi.

Membaca Kauniyah: Kontekstualisasi Aswaja dalam Kehidupan Sehari-hari

Sebagaimana dijelaskan di atas, aswaja sebagai manhaj keberagamaan berprinsip pada tawasuth, ta’adul, tasamuh, tawazun, dan amar ma’ruf nahi munkar, yang mana kesemuanya merupakan nilai-nilai universal dalam Islam. Maksudnya, aktualisasi dari nilai-nilai di atas dalam kehidupan sehari-hari bersifat partikular, dengan bentuknya yang beragam. Hal inilah yang juga dipahami dari hubungan antara universalisme Islam dan partikularitas budaya. Pada seluruh konstruksinya, hal ini diarahkan untuk membumikan tujuan kerasulan, yakni sebagai rahmatan lil alamin.

Pada konteks “Muhasabah Warna”, manifestasi rahmatan lil alamin digambarkan oleh interaksi dan hubungan yang baik (bil ihsan) lahir dan batin di antara sesama manusia, baik antara orang tua dan anak, antar sesama teman, dan sebagainya. Hal ini menjadi kesan umum dari beberapa puisi berikut, antara lain yaitu 4 puisi karya Nuruddin Zanky—berjudul “Cahaya di Tanganmu”, “Dari Cangkir Kecil”, “Doa Kecil”, dan “Episode Pemakaman”—, dan puisi karya Luqman Alm berjudul “Detik Tak Berdetak”—.

Dalam ekspresi lain, yakni keberadaan kritik, penolakan, dan kecaman atas berbagai perilaku manusia. Kritik mengenai hilangnya idealisme di masyarakat menjadi kesan dari 3 puisi karya Turhan Badri berjudul “Puisi 1”, “Puisi 2”, dan “Puisi 3”. Sementara penolakan dan kecaman terhadap radikalisme dan terorisme ditunjukkan oleh puisi karya Sri Utami Affrilia Dewi berjudul “Kabar Paksaan” dan puisi karya Luqman Alm berjudul “Air Mata Chistchurch”.

Pesan rahmatan lil alamin yang lebih bersifat ekologis tersirat dari puisi karya Sri Utami Affrilia Dewi berjudul “Sinar Lobang”. Begitu juga puisi karya Luqman Alm berjudul “Paradoks Pagi” yang satiris, serta menampilkan harmoni kehidupan di sekitar manusia dan spiritualitas dalam sunatullah.

Proyeksi penerapan aswaja dalam kehidupan sehari-hari tergambar dari puisi karya Enha Zen berjudul “Tasbih dan Parfume” yang secara tersirat menampilkan dasar pegangan dan mata rantai ajaran serta hikmah yang terkandung di dalamnya. Sederhananya, beraswaja adalah berusaha meningkatkan iman dan taqwa kepada Allah, mencintai Nabi dengan menjalankan sunnahnya secara proporsional, serta apresiasi terhadap karya-karya salafus shalih—sahabat, tabi’in, dan seterusnya hingga sampai pada ulama di sekitar kita—. Hal ini menjadi kesan umum dari puisi karya Enha Zen berjudul “Tasbih dan Parfume”.

Pada hubungan antara manusia dengan Tuhannya, taqwa merupakan posisi atau derajat ideal yang menjadi tujuan dari amaliyah ibadah. Dari keseluruhannya, hal tersebut tidak mungkin bisa tanpa dibuka dengan pengenalan kepada-Nya. Salah satu tahapan pertama, yaitu dengan bertafakkur atau membaca kauniyah— sebagaimana episode sebelum turunnya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad Saw—, seperti yang ditunjukkan oleh puisi karya Sri Utami Affrilia Dewi berjudul “Rembulan Beku”.

Menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya, sebagai gambaran umum dari menuju derajat taqwa, tentu tidak mudah. Dari keseluruhannya, syaitan dijelaskan dalam al-Qur’an sebagai musuh manusia yang terus-menerus mengarahkan manusia agar menjauh dari Tuhannya. Juga hawa nafsu, sebagaimana diungkapkan dalam puisi Saada_lm berjudul “Terngiang”.

Penutup

Ulasan di atas merupakan pembacaan sederhana terhadap seluruh puisi dalam antologi ini. Dengan lebih diarahkan untuk mencari makna umum dan kategorisasinya, tentunya catatan ini memiliki banyak kekurangan, serta belum mewadahi seluruh unsur yang terkandung di dalamnya, baik intrinsik maupun ekstrinsik. Lepas dari itu, inilah “Muhasabah Warna” yang menghadirkan Eksistensi dan Peran NU melalui puisi.

[Catatan ini disampaikan pada acara Launching dan Bedah Buku Antologi Puisi “Muhasabah Warna” Lesbumi PCNU Babat di Aula Kantor LP Maarif PCNU Babat, Ahad, 28 April 2019]


*) Ahmad Syauqi Sumbawi, sastrawan kelahiran Lamongan 28 April 1980. Menulis cerpen, puisi, novel, esai, kritik, dll. Sebagian karyanya dipublikasikan di media massa. Puisi-puisinya terkumpul dalam antologi: Dian Sastro For President; End of Trilogy (Insist, 2005), Malam Sastra Surabaya; MALSASA 2005 (FSB, 2005), Absurditas Rindu (2006), Khianat Waktu (DKL, 2006), Laki-Laki Tanpa Nama (DKL, 2007), Gemuruh Ruh (2007), Kabar Debu (DKL, 2008), Tabir Hujan (DKL, 2010), Darah di Bumi Syuhada (2013), Pesan Damai di Hari Jumat (2019), Menenun Rinai Hujan (2019). Dan beberapa cerpennya dapat dibaca pada kumpulan: Sepasang Bekicot Muda (Buku Laela, 2006), Bukit Kalam (DKL, 2015), Di Bawah Naungan Cahaya (Kemenag RI, 2016).
Sementara antologi tunggalnya: Tanpa Syahwat (Cerpen, 2006), Interlude di Remang Malam (Puisi, 2006), dan #2 (SastraNesia, Cerpen 2007). Novel-novelnya yang telah terbit: Dunia Kecil; Panggung & Omong Kosong (2007), Waktu; Di Pesisir Utara (2008), dan “9” (2020). Sedangkan bukunya dalam proses cetak ulang “#2,” dan Limapuluh (kumpulan puisi) segera hadir. Selain menulis, juga berkebun, dan mengelola Rumah Semesta Hikmah, dengan kajian dibidang sastra, agama dan budaya, di dusun Juwet, Doyomulyo, Kembangbahu, Lamongan. Blog pribadinya: syauqisumbawi.blogspot.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *