MENGGALI INSPIRASI TANPA TERJEBAK PLAGIARISME


Mashuri *

Perihal ini, mari kita mulai dengan tujuh contoh.
KRT. Ranggawarsita, pujangga Jawa yang mashur itu menulis Serat Wirid Hidayatjati dengan mengambil inspirasi dari kitab Ihya’ Ulumuddin karya Imam Ghazali. Dengan kepiawaiannya dalam membentuk metrum puisi Jawa, jenis macapat, intelektual bangsawan yang pernah nyantri di Pesantren Tegalsari di bawah asuhan KH. Hasan Besari, cucu dari Ki Ageng Muhammad Besari, ini berhasil menyajikan ajaran-ajaran sufi ke ruang kognisi masyarakat Jawa dengan cara-cara sastrawi. Meski para orientalis-kolonial secara politis melihat bahwa karya tersebut lebih dekat dengan nilai-nilai non-Islami, tetapi para cendekiawan generasi kiwari sudah banyak yang membalik anggapan tersebut.

KH. Abdul Hamid, Pasuruan, menulis nadham Sulam Taufiq bersandar pada kitab Sulam Taufiq. Dalam proses penulisan itu, kitab Sulam Taufiq berposisi sebagai penyedia bahan mentah atau sumber inspirasinya. Dengan kepiawaian dalam ilmu arrudl, qawafi, balaghah, dan lainnya, Mbah Hamid, demikianlah ia biasa disapa, menyusun nadham Sulam Taufiq.

Sebagaimana yang sudah kita ketahui, nadham memang dibedakan dengan syiir, karena meski bentuknya hampir sama, nadham biasanya untuk bidang keilmuan tertentu atau spesialisasi, sebagaimana kita tahu cukup banyak nadham dikarang dalam bidang ilmu tajwid, akhlak, tauhid, nahwu-sharaf, dan lain sebagainnya. Syiir, yang berasal dari bahasa Arab dan Persia: syair, biasanya digubah untuk hal-ihwal yang lebih bersifat umum yang di dalamnya juga melibatkan perasaan dan ekspresi, seperti sejarah, biografi, ungkapan perasaan atau pikiran, ajaran tasawuf, dan lainnya.

Ihwal bersyair, itulah yang dilakukan KH. R. As’ad Syamsul Arifin, Situbondo. Kiai As’ad menulis banyak syair berasal dari kitab-kitab lama. Syairnya ditulis dalam bahasa Madura, berhuruf pegon. Dengan kelihaiannya dalam penguasaan puitika dalam bahasa Madura dan tata-aturan syiir, hasilnya adalah karya yang tidak hanya bagus dalam bentuk saja, tetapi juga isi. Ihwal tradisi syiir ini, pada masa lampau, beberapa kiai kita memang pencipta syair yang mumpuni, sehingga di Jawa dan Madura, ada tradisi siiran atau singiran.

Soal mengambil inspirasi dari kitab sebelumnya, juga berlaku pada beberapa penulis berlatarbelakang pesantren lainnya, yang memang memiliki tradisi menulis yang kuat. Generasi pasca-para kiai tersebut, dan terhitung generasi baru, bisa dilihat pada sosok KH. A. Mustofa Bisri, yang karib disapa Gus Mus. Dalam salah satu sajaknya, Gus Mus memuisikan Hizib Nashr karya Syekh Abu Hasan as-Syadzili yang karib di kalangan pesantren, ke dalam bahasa Indonesia. Gus Mus juga pernah memuisikan sebuah diwan karya Syauqi, penyair Mesir yang pernah dinyanyikan oleh biduanita Arab legendaris, Ummi Kultsum. Karena hanya menerjemahkan, maka Gus Mus menyandarkan hasil karyanya pada pengarang tersebut, meskipun Sapardi Djoko Damono pernah menjelaskan bahwa menerjemahkan puisi adalah menulis puisi baru. Selain itu, cukup banyak karyanya yang memiliki tilas pada khasanah sebelumnya sebagai sumber inspirasi, termasuk juga cerpen-cerpennya yang terhimpun dalam Lukisan Kaligrafi. Hanya saja, Gus Mus menyajikannya dengan cara, tafsir, dan penghayatan yang baru, sehingga karya yang tersaji juga baru.

Penyair modern Indonesia yang tenar WS Rendra pun pernah pernah menulis karena terinspirasi oleh karya lain. Sahdan, ia pernah terpukau pada daya puitis Qashidah Burdah karya al Bushiri. Memang puisi Arab selalu menjanjikan kemilaunya bila dibandingkan dengan khasanah puisi di belahan dunia lainnya, baik untuk karya sastra klasik maupun kontemporer. Setelah masuk Islam, Rendra pun membuat puisi yang berjudul Qasidah Burdah. Ia hanya meminjam judul itu karena ia menulis puisi baru yang terinspirasi oleh Qashidah Burdah. Isinya juga tentang kerinduan pada Nabi.

Di luar tradisi pesantren, beberapa penulis Indonesia modern juga seringkali memasu inspirasi dari kearifan lokal atau cerita-cerita rakyat. Sebut satu di antaranya adalah Ajip Rosidi. Meski ia berlatar Sunda, karyanya tidak hanya mengangkat tentang lokalitas Sunda semata. Di tangannya, cerita-cerita lokal mendapatkan perlakuan yang baru karena ‘dibaca’ dengan cara baru, bahkan kadangkala dihadirkan dengan jenis sastra yang baru pula. Puisi-puisinya adalah pembacaan anyar pada cerita masa lalu atau karya sebelumnya. Sebuah karya dramanya yang cukup terkenal yaitu Masyitah, mengambil inspirasi dari kisah juru sisir raja Mesir pada masa lampau yang begitu legendaris karena direbus di dalam air karena keimanannya. Begitu pula dengan karya novelnya Candrakirana yang memasu inspirasi dari kisah Jawa tentang romansa Panji Asmarabangun dengan Dewi Candrakirana dari pada masa kerajaan Kediri.

Hal yang sama juga dilakukan oleh Gus Ishom Hadzik. Ia masih terbilang salah satu cucu KH. Hasyim Asyari, dan meninggal dalam usia yang cukup muda pada tahun 2000-an. Sepanjang hayat, ia dikenal sebagai esais, kolumnis, dan cerpenis. Salah satu cerpennya yang pernah dimuat di Jawa Pos, berbicara tentang Dajjal. Bagi kita kisah ini tidak asing lagi karena seringkali mendengarnya dari para guru dan kiai-kiai kita. Tetapi di tangan Gus Ishom, cerita itu mendapatkan notasi tersendiri dan baru, karena ia membaca sosok Dajjal dari kaca mata psikologi dan masa kini. Dalam cerpen itu, digambarkan bahwa Dajjal itu ternyata bukan sosok lain tetapi ‘aku’ si pencerita sendiri, karena kelakuannya sudah menabrak batas dan melanggar sendi-sendi hukum dan syara’, maka ‘aku’ pun berubah. Matanya menjadi tiga dan bengis.

Contoh-contoh itu adalah ikhtiar menggali inspirasi dengan lebih elegan dan yang dianjurkan. Dengan kata lain, mengambil inspirasi dari karya sebelumnya itu tidak haram, tetapi karya sebelumnya itu sudah dikunyah sedemikian rupa dalam perasaan, pemikiran dan imajinasi, sehingga yang hasilnya adalah karya sendiri. Bahkan ada sebuah pernyataan yang menyebut bahwa karya yang baik itu karya yang bisa dirunut kesejarahannnya. Dari situ, dapat dilihat bahwa sumbangan karya itu terhadap yang sudah ada. Sumbangan yang dilakukan bisa berupa menyempurnakan, memperindah, membantah atau memberi alternatif lain yang lebih segar dan baru sesuai dengan pemandangan zaman kini atau sesuai dengan kebutuhan pembaca/umat.

Dalam soal menggali inspirasi dari karya sebelumnya, dengan agak lebih ekstrim bisa dikatakan, jika kita makan sesuatu, tentu bukan sesuatu itu yang akan menjadi berak kita. Di dalam diri kita jelas sudah dicerna dan yang keluar adalah ampasnya atau sesuatu yang berbeda dengan yang dimakan. Logika tersebut berlaku ketika kita terinspirasi oleh karya orang lain dalam karya kita. Jadi karya lama itu sudah dikunyah lebih dulu, dalam arti sudah dibaca, ditafsirkan, dipikirkan dan diresapi lebih dulu, sebelum dituang ke dalam karya baru. Dalam dunia sastra, hal ini sudah menjadi kewajaran.

Sebagaimana contoh, hal itu telah dipraktekkan oleh pendahulu kita yang berlakang santri dengan sangat-sangat gemilang. Jejak-jejak inspirasi itu masih tetap ada dan tercium aromanya tetapi dengan pembacaan, tafsir dan bentuk yang baru. Mereka tidak dengan mentah menyajikan karya lama tanpa ditelan dan disaring lebih dulu. Mereka pasti menyebut sumber inspirasinya, baik secara langsung atau tidak langsung. Mereka tak akan mengakui karya orang lain menjadi karya sendiri.

Kita bisa menyerap pelajaran dari sana, bahwa dalam kerja kreatif, kejujuran adalah hal penting. Jangan karena takut dianggap tidak mampu kemudian mencari jalan pintas dengan mengutip karya orang lain tanpa disebut sumbernya atau membuat karya orang lain menjadi karya sendiri. Memang ada semacam adagium dalam dunia kepenyairan bahwa ‘penyair kecil itu hanya mengutip, sedangkan penyair besar adalah mencuri’. Tetapi ungkapan itu sangat tidak tepat bila diterapkan pada pembelajaran penulisan sastra, karena secara tidak langsung ungkapan itu mendidik untuk berbohong, bahkan menyuruh untuk mencuri karya orang lain.

Saya teringat sebuah sajak yang dikarang oleh seorang kawan yaitu K. M. Faizi Kailani, salah satu pengasuh Pondok Pesantren Annuqayyah, Guluk Guluk, Sumenep. Ia menulis sebuah sajak sederhana tetapi mengungkap secara tidak langsung bagaimana seharusnya kita bersikap dalam menulis. Pesan tersiratnya adalah menulis adalah sebuah latihan untuk berendah hati, bahwa orang lain dan sumber pengetahuan itu sebenarnya juga punya andil dalam membentuk karya kita, sehingga kita tidak bertindak lacur dengan menyepelekannya. Jika kita mengutip, seyogyanya kita tunjukan rujukan yang kita kutip dan bila kita berkarya, itu adalah hasil cipta sendiri meski inspirasinya dari karya orang lain. Hal ini tidak hanya untuk karya ilmiah saja, tetapi juga karya kreatif seperti puisi, cerpen, novel atau karya drama.

Pengasuh pesantren muda ini memberi judul puisinya ‘Ciri-ciri Orang Bodoh’. Sajak ini ditulis 2 Mei 2007 dan ‘kebetulan’ diunggah di Facebook pada 28 April 2013. Berikut ini saya kutip secara lengkap.

CIRI-CIRI ORANG BODOH

Jika berkata, meremehkan lawan bicara
jika menulis, menyepelekan para pembaca
jika mengutip, mendustakan rujukannya
jika berkarya, memalsukan kutipannya

Dia seperti pintar
hanya di saat diam

2/05/2007

Terlepas dari puisi tersebut, inspirasi puisi bisa digali dari mana pun, baik yang tersurat maupun yang tersirat. Hidup sendiri adalah sumber inspirasi paling murni dan menyegarkan karena hidup adalah buku yang selalu terbuka untuk dibaca dan ditulisi. Memang, sumber tersurat lebih mudah karena pesannya bisa langsung kita terima, seperti halnya kitab atau karya-karya puisi sebelumnya.

Bagi pembelajar sastra, jika ingin menulis puisi berdasar pada puisi sebelumnya ada beberapa kiat yang bisa diterapkan. Pertama, adalah meniru gaya puisi seorang penyair. Semisal meniru gaya balada Rendra atau meniru refleksi romantis Khalil Gibran. Kedua, bisa dilakukan dengan membahasakan isi puisi yang telah ada dengan bahasa sendiri. Semisal membahasakan puisi-puisi dari penyair Syria Ali Ahmad Said dengan bahasa Indonesia yang lebih membumi. Ketiga, memenggal puisi yang telah jadi, kemudian melanjutkan dengan kata dan gaya sendiri. Nah, puisi lanjutan itu bisa diaku menjadi puisi sendiri.

Selain itu, masih banyak lagi cara menggali inspirasi tanpa terjebak menjiplak, plagiat, atau plagiarisme.

2/
Saya mengunggah hal-ihwal yang terkait dengan inspirasi bukan tanpa sebab, karena berdasar pengalaman saya, beberapa waktu lalu. Pada saat saya membuka lembaran sastra di sebuah media, yang khusus pelajar, saya dilanda kegembiraan karena menemukan sebuah sajak bagus untuk ukuran pelajar, tetapi harus berakhir sedih. Ternyata sajak yang bagus itu adalah sajak orang lain, yang kebetulan saya pernah membaca bukunya dan saya kenal. Sebenarnya tidak masalah menjadikan sajak itu sebagai pijakan kreatif, tetapi ketika yang dibaca sajak itu kemudian yang ditulis juga sama persis, tentu itu bukan soal inspirasi, tetapi soal lainnya, yaitu plagiarisme, meskipun judulnya sudah diubah dan tipografinya juga sudah berubah.

Lebih terangnya, mari kita bandingkan dua sajak berikut ini.

DUKA MUARA

Aku tak mau menjadi laut
Hanya untuk merayu langit
Sebab aku tak mau tubuhku digarami tuhan

Dan disumpahi bintang bintang
Aku tetap ingin menjadi sungai hambar
Asal bisa menikmati pendaran cahaya bulan

Di punggungku batu batu
Membusungkan dada,
Karna darinya
Jaka tarub menemui cinta

Aku cukup bahagia menjadi sungai
Sebab angsa angsa lunglai
Kerap mencucup dosaku
Hingga darahku tak lagi pekat menggumpal

Aku sangat ingin melihat mutiara
Tapi ku enggan melewati mutiara
Muara yang kukenal tak seperti dahulu

Sekarang ia kerap berdusta pada
Sampan, nelayan
Juga anak-anak yang setiap pagi

Memunguti air mata bulan di wajahnya
Katanya “wahai sungai bukan maksudku sengaja berdusta,
Tubuhku telah dilumuri darah juga limbah oleh manusia berkepala dua,

Satu kepala berwajah penuh mutiara buat keluarga dan negara.
Satu kepala lagi wajahnya penuh luka, nanah juga getah merah buatku.”

Lalu aku pun mengirimkan seribu karangan anggrek hutan
Buatmu yang sedang terluka sampai waktu tak berhingga.
“Wahai muara ini aku hantarkan beberapa kecupan dari orang orang
yang setiap hari mendayungi kegelisahanmu”

2007

Puisi Duka Muara merupakan karya Arif Rahman yang terdapat dalam kumpulan karya bersama berjudul Duka Muara (kumpulan puisi kawan-kawan dari Komunitas Rabo Sore, tahun 2008), yang menghimpun karya tujuh penulis. Pada saat menulis puisi tersebut, Arif Rahman masih tercatat sebagai mahasiswa jurusan Bahasa Jepang, Universitas Negeri Surabaya. Ia aktif di Teater Institut, bahkan menjadi ketua hariannya. Adapun sajak satunya berikut ini.

DUKA MUTIARA

aku tak mau menjadi laut
hanya untuk merayu langit
sebab aku tak mau tubuhku
digarami Tuhan dan disumpahi bintangbintang

aku tetap ingin menjadi sungaisungai hambar
agar bisa menikmati pendar mata bulan
di punggungku batubatu membusungkan dada
karena darinya jaka tarub menemukan cinta

aku cukup bangga menjadi sungai
sebab angsa-angsa lunglai kerap mencucup dosaku
hingga darahku tak lagi pekat menggumpal
aku sangat ingin menjadi mutiara
tapi aku enggan melewati muaramuara
yang kukenal tak seperti dahulu
sekarang ia kerap berdusta pada sampan
melayang juga pada anakanak yang setiap pagi
memunguti air mata bulan di wajahnya.

Sajak Duka Mutiara diaku karya seorang pelajar sebuah lembaga pendidikan di Jawa Timur. Si pelajar memang cukup piawai dalam merajut puisi sebelumnya menjadi sesuatu yang baru. Begitu pun dengan cara dia memenggal puisi, sehingga puisi tambah lebih cantik dan menarik. Judulnya pun terlihat baru, meski hanya mengganti ‘muara’ dengan ‘mutiara’. Sayangnya, dalam konteks ini tidak termasuk dalam kapasitas inspirasi, tetapi sudah pada taraf menjiplak atau plagiat.

Saya khawatir jika kondisi ini marak dalam ‘dunia’ pendidikan sastra kita, terutama di kalangan pelajar, maka bisa menjadi bumerang bagi cita-cita pembelajaran sastra itu sendiri. Bisa jadi, karena didorong ingin berkarya secara instan, sehingga cara-cara tidak benar digunakan ‘oknum’ pelajar. Baru-baru ini dalam sebuah sayembara menulis sekaligus baca puisi di sebuah kabupaten di sekitar Surabaya, juga terjadi hal yang hampir serupa. Saya sebagai juri juga sempat terlonjak ketika menemukan salah satu peserta menyuguhkan sebuah karya tertulis yang nyaris sempurna. Hanya saja, ketika ia membacakannya, kelihatan bahwa karya itu bukan karya aslinya. Ia tampak begitu kebingungan dalam menghayatinya. Sebenarnya hal ini bukan sesuatu yang baru. Seringkali pada beberapa even lomba, cukup banyak yang melakukan plagiasi. Bahkan, hal ini juga menimpa beberapa media. Majalah sastra cukup beken di Indonesia pun pernah memuat karya hasil plagiat.

Saya ketengahkan hal ini tanpa maksud apa-apa. Saya mengungkapkan hal ini agar proses kreatif kita bersama tetap sehat, tidak menyimpang, dan kita tetap bisa menjaga api inspirasi dengan cara-cara yang sepatutnya dan elegan, sehingga tidak sampai terimbas pada masalah jiplak-menjiplak. Sebenarnya, ada hukum tidak tertulis dalam dunia kepenulisan, yakni dalam menulis bukan salah benar yang diutamakan, tetapi soal kejujuran. Dalam konteks ini, saya hanya ingin bahwa pembelajaran sastra yang mendewakan kerendahatian tidak menyepelekan hal-hal yang seharusnya dijunjung tinggi, termasuk jujur pada diri sendiri.

3/
Sajak-sajak kawan-kawan yang dimuat dalam Ijtihad edisi ini rata-rata menarik, dengan menggali kekayaan inspirasi dari berbagai hal, mulai orang terdekat, keluarga, kawan, diri sendiri, hingga pada rasa penghayatan pada Tuhan. Lubang dalam puisi mereka hanya beberapa, di antaranya penggunaan bahasa yang kurang mumpuni, lompatan imaji yang patah, dan terkesan terburu-buru. Artinya, terlihat bahwa beberapa di antaranya kekurangan jam terbang.

Dalam kesempatan ini saya hanya ingin mengajukan sebuah usul: bagaimana jika kawan-kawan yang mengirim karya ke rubrik ini mengirimkan karyanya lebih dari satu, atau dibatasi minimal 3, sehingga bisa diperoleh karya-karya yang cukup matang? Hal itu karena dengan hanya satu karya puisi, tidak ada kesempatan untuk melihat lebih jauh dalam potensi dari kerja kepenulisan kawan-kawan yang bersangkutan.

Kenapa saya mengusulkan demikian, karena saya masih percaya pada beberapa hukum dalam proses menulis. Pertama, menulis itu ibarat mengasah pisau. Semakin sering diasah, semakin tajam. Kedua, menulis ibarat melatih diri. Semakin sering dilatih, maka akan muncul kepekaaan pikiran, perasaan dan penggunaan bahasa dalam kerja kepenulisan. Ketiga, menulis itu seperti orang hamil. Butuh proses, mulai dari menikah secara sah, proses pembuahan, lalu mengandung yang tentu memerlukan asupan gizi yang cukup agar sang jabang kelak bisa sehat, juga asupan rohani agar sang jabang kelak selamat dan berkepribadian tinggi. Keempat, silahkan diteruskan sendiri…

Demikianlah. Semoga bermanfaat.

MA, On Sidoardjo, 2021


*) Mashuri, lahir di Lamongan, Jawa Timur, 27 April 1976. Karya-karyanya dipublikasikan di sejumlah surat kabar dan terhimpun di beberapa antologi. Dia tercatat sebagai salah satu peneliti di Balai Bahasa Jawa Timur. Tahun 2018, bersama Sosiawan Leak dan Raedu Basha, dipercaya jadi kurator yang bertugas memilih narasumber dan menyeleksi para peserta Muktamar Sastra. Hubbu, judul prosanya yang mengantarkan namanya meraih predikat juara 1 Sayembara Penulisan Novel Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), tahun 2006. Dia menggeluti hal-ihwal terkait tradisionalitas dan religiusitas. Mashuri, merupakan lulusan dua pesantren di tanah kelahirannya. Dia menyelesaikan pendidikannya di Universitas Airlangga dan Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Di luar aktivitas pendidikannya, berkiprah di Komunitas Teater Gapus, dan Forum Studi Sastra dan Seni Luar Pagar (FS3LP) Surabaya.

Keterangan:
Ilustrasi pembacaan puisi di Ponpes Darul Falah, Jeruk Macan, Mojokerto.
Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Ijtihad (Ponpes Sidogiri, Kraton, Pasuruan) dalam rubrik Apresiasi Puisi, April 2013.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *