CINTA TAK ADA CONTOHNYA

A. Syauqi Sumbawi *

Puisi berjudul “Sajak Cinta” karya A. Mustofa Bisri (Gus Mus) pada buku antologi “Wekwekwek: Sajak-sajak Bumilangit” (Surabaya: Risalah Gusti, 1996), diungkapkan sebagai berikut:

Sajak Cinta

cintaku kepadamu belum pernah ada contohnya
cinta romeo kepada juliet, si majnun qais kepada laila
belum apa-apa
temu-pisah kita lebih bermakna
dibanding temu-pisah yusuf dan zulaikha
rindu-dendam kita melebihi rindu dendam adam hawa

aku adalah ombak samuderamu
yang lari-datang bagimu
hujan yang berkilat dan berguruh mendungmu

aku adalah wangi bungamu
luka berdarah-darah durimu
semilir sampai badai anginmu

aku adalah kicau burungmu
kabut puncak gunungmu
tuah tenungmu

aku adalah titik-titik hurufmu
huruf-huruf katamu
kata-kata maknamu

aku adalah sinar silau panas
dan bayang-bayang hangat mentarimu
bumi pasrah langitmu

aku adalah jasad ruhmu
fayakun kunmu
aku adalah a-k-u
k-a-u
mu

Rembang, 30.9.1995 (tipografi puisi di atas, center)
***

Secara teologis, cinta merupakan anugerah-Nya. Dia yang Maha Cinta dan cinta-Nya tidak pernah berhenti tercurah kepada seluruh makhluk-Nya, terutama manusia. Cinta Tuhan kepada manusia, dapat dipahami dari keberadaan manusia yang ditahbiskan sebagai khalifah fi al-ardl, yang sekaligus menunjukkan kedudukan manusia tidak dibeda-bedakan, satu dengan yang lainnya.

Hanya satu sebab yang menjadikan perbedaan di antara semua manusia di hadapan-Nya, yakni terkait usaha manusia dalam menjaga cinta-Nya. Dalam arti lain, ketakwaan manusia itulah yang menyebabkan perbedaan derajat manusia di sisi-Nya. Di sini, takwa tidak dapat dipisahkan dari cinta. Bahkan cinta merupakan dasar bagi ketakwaan manusia kepada-Nya. Karena itu, cinta kepada-Nya merupakan hal esensial dan menjadi dasar bagi seluruh aktivitas manusia dalam kehidupan di dunia. Dan hanya dengan dasar itu pula, seluruh aktivitas manusia bernilai ibadah.

Lebih jauh, cinta kepada-Nya dapat menjadi kekuatan dan energi dalam diri manusia yang mendorong dan mengarahkan manusia dalam kehidupannya secara positif, menundukkan semua bentuk cinta yang lain, serta menjadikan manusia dapat mencintai diri sendiri, sesama, dan seluruh makhluk-Nya. Hal ini disebabkan, seluruh wujud yang ada dalam kehidupan, tidak lain adalah manifestasi dari Tuhan yang membangkitkan kerinduan spiritual.

Perspektif teologi-tasawuf ini, agaknya menjadi konteks puisi di atas. Yakni, tentang cinta seorang hamba kepada Tuhan. Bukan cinta sepasang anak manusia. Karena itu,… cintaku kepadamu belum pernah ada contohnya/. Tak seperti… cinta romeo kepada juliet (,,,)/, yang memadu janji sehidup semati. Atau seperti cinta gila… si majnun qais kepada laila/. Selain menggambarkan tragedi dan kegagalan sepasang pecinta untuk hidup bersama, keduanya pun hanya ada pada drama (Shakespeare) dan kisah fiksi (Nizami). Kedua kisah cinta yang mewakili Barat dan Timur tersebut,… belum apa-apa/, kendati banyak orang yang menganggapnya “besar”, serta menjadikannya sebagai referensi dalam lagu, puisi, dan cerita-cerita tentang cinta berikutnya.

Dalam cinta dan hubungan hamba dengan-Nya,… temu-pisah kita lebih bermakna/. Lebih dalam dan hikmat,… dibanding temu-pisah yusuf dan zulaikha/. Begitu pula… rindu-dendam kita melebihi rindu dendam adam hawa//. Dua kisah cinta anak manusia yang diungkapkan dalam kitab suci. Dua kisah cinta yang bertemu bahagia, usai melewati lika-liku perjalanan hidup yang menyepuhkan iman. Dua kisah cinta yang hadir dalam doa-doa pernikahan.

Akan tetapi, cinta hamba dan kepada-Nya, bukan cinta yang mungkin gagal atau bersatu. Lebih dari itu. Bahkan menjadi dasar kaitan yang menggerakkan hidup manusia. Cinta yang selalu ada. Karena… aku adalah ombak samuderamu/ yang lari-datang bagimu/ hujan yang berkilat dan berguruh mendungmu//, yang mengungkapkan keberadaan manusia (aku) adalah penampakan-Nya. Seperti bayang-bayang yang terlihat di bumi (ombak) dan langit (hujan dan mendung).

Kemudian,… aku adalah wangi bungamu/, luka berdarah-darah durimu/ semilir sampai badai anginmu//, seperti menjelaskan keberadaan manusia yang selalu bisa merasakan kehadiran-Nya. Meskipun hadir dan tidak hadir merupakan kondisi yang lebih patut bagi manusia. Baik bersama sesuatu yang terasa menyenangkan (wangi bunga), sesuatu yang terasa menyakitkan (luka) dan peringatan hukuman, maupun sesuatu yang mempengaruhi kondisi hidup manusia—cobaan dan ujian—, mulai yang kecil (semilir) hingga yang besar (badai).

Kehidupan manusia tak lain adalah tanda-tanda keberadaan-Nya, diungkapkan yaitu… aku adalah kicau burungmu/ kabut puncak gunungmu/ tuah tenungmu//. Bukan sembarang tanda, melainkan tanda-tanda khusus (kicau burung) dari yang semua terdengar. Tanda-tanda (kabut) yang menyembunyikan puncak (gunung) rahasia-Nya. Tanda-tanda yang “nyata”, yang bisa dipahami, dan selalu menyambungkan manusia kepada-Nya.

Sementara hidup dan kehidupan manusia atau seseorang sebagai tanda-tanda untuk dibaca oleh sesamanya, dikemukakan… aku adalah titik-titik hurufmu/ huruf-huruf katamu/ kata-kata maknamu//. Ungkapan yang agaknya menyiratkan tentang kalam-Nya. Lebih lanjut dalam sebuah analogi sederhana, bahwa ketika kita menyaksikan di televisi ada seorang politikus nyinyir pada sebuah forum diskusi, sebenarnya itu adalah “petunjuk” agar kita menjauhi perilaku nyinyir itu.

Pada diri setiap orang terkandung “petunjuk” bagi orang lain. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh kitab suci: laqad kaana lakum fi rasulillahi uswatun hasanah—Sesungguhnya telah ada pada (diri) rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu—[QS. al-Ahzab: 21]. Entah, pada setiap diri kita. Entah, contoh baik atau contoh buruk.

Kehidupan manusia yang digambarkan tidak bisa lepas dari takdir-Nya, diungkapkan… aku adalah sinar silau panas/ dan bayang-bayang hangat mentarimu/ bumi pasrah langitmu//. Tentang orang-orang yang mendapat (sinar) petunjuk , yang lalai dan (silau) tidak bisa melihat kenyataan, yang (panas) menjauh dan menghindar dari-Nya. Juga manusia yang ridla pada ketentuan-Nya serta berserah diri kepada-Nya.

Berikutnya,… aku adalah jasad ruhmu/, yang bergerak mengikuti… fayakun kunmu/. Pada hubungan yang lebih dekat antara hamba dengan-Nya, dijelaskan bahwa… aku adalah a-k-u/ k-a-u/ mu//. Di sini, (aku) lebur dalam fana. Hingga tidak ada lagi kedudukan antara hamba dengan Tuhan. Yang ada terkait hubungan tersebut, yang ma’nawiyyah yakni (mu), milik-Nya.

Dari semuanya, barangkali inilah sajak cinta itu. Tentang cinta yang belum pernah dan tak akan ada contohnya. Cinta yang sunyi, dimana pada setiap diri manusia, tersimpan benih.
***

rumahsemestahikmah, februari 2021


*) Ahmad Syauqi Sumbawi, sastrawan kelahiran Lamongan 28 April 1980. Menulis cerpen, puisi, novel, esai, kritik, dll. Sebagian karyanya dipublikasikan di media massa. Puisi-puisinya terkumpul dalam antologi: Dian Sastro For President; End of Trilogy (Insist, 2005), Malam Sastra Surabaya; MALSASA 2005 (FSB, 2005), Absurditas Rindu (2006), Khianat Waktu (DKL, 2006), Laki-Laki Tanpa Nama (DKL, 2007), Gemuruh Ruh (2007), Kabar Debu (DKL, 2008), Tabir Hujan (DKL, 2010), Darah di Bumi Syuhada (2013), Pesan Damai di Hari Jumat (2019), Menenun Rinai Hujan (2019). Dan beberapa cerpennya dapat dibaca pada kumpulan: Sepasang Bekicot Muda (Buku Laela, 2006), Bukit Kalam (DKL, 2015), Di Bawah Naungan Cahaya (Kemenag RI, 2016). Sementara antologi tunggalnya: Tanpa Syahwat (Cerpen, 2006), Interlude di Remang Malam (Puisi, 2006), dan #2 (SastraNesia, Cerpen 2007). Novel-novelnya yang telah terbit: Dunia Kecil; Panggung & Omong Kosong (2007), Waktu; Di Pesisir Utara (2008), dan “9” (2020). Sedangkan bukunya dalam proses cetak ulang “#2,” dan Limapuluh (kumpulan puisi) segera hadir. Selain menulis, juga berkebun, dan mengelola Rumah Semesta Hikmah, dengan kajian dibidang sastra, agama dan budaya, di dusun Juwet, Doyomulyo, Kembangbahu, Lamongan. Blognya: http://syauqisumbawi.blogspot.com/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *