Mengikuti Remah-remah Eka Kurniawan dalam Senyap yang Lebih Nyaring


Judul Buku: Senyap yang Lebih Nyaring
Penulis: Eka Kurniawan
Penerbit: Circa
Catakan I: April 2019
Tebal: xii + 352 halaman
Peresensi: Sirajudin
trunojoyo.ac.id, 6 Okt 2019

Senyap membuat pengalaman melangkah lebih jauh, dan, ketika itu mati, memberinya martabat sebagaimana sesuatu yang kita sentuh dan tak lenyap.

Apa kerja penulis? Iya, secara umum tugas penulis dan intelektual ialah bersuara. Namun Eka, dalam salah satu tulisan di buku ini, meruntut tabir sejarah mengenai penulis yang memilih untuk memberi pesan dalam bisu. Mereka memilih diam, dari pada getol berdebat dan menciptakan polemik yang tak berkesudahan sebagaimana banyak dilakukan kaum intelek masa itu.

Eka mengingatkan kita pada peristiwa yang menimpa Gabriel Garcia Marquez dan Mario Vargas Llosa. Dimana pada suatu malam tanpa sebab yang jelas, mereka saling terlibat adu jotos. Namun, apa yang menyebabkan dua raksasa kesusastraan itu saling bertikai? Mereka, sampai akhir hayatnya memilih diam.

Kesenyapan juga pernah melingkupi Albert Camus dan Jean Paul Sarte. Kita tahu, dalam sejarah tak ada yang menyangka kalau dua sahabat yang amat dekat itu memilih jalan untuk saling membisu. Yang semakin membuat haru, perseteruan ini terjadi di ujung-ujung usia Camus. Sejak kedua tokoh itu memiliki pandangan yang berbeda terkait perang di Afghanistan, konflik semakin meruncing. Hingga pada suatu hari, Camus tewas dalam sebuah kecelakaan mobil.

Diamnya Camus, dikenang oleh Sarte dalam obituari yang dibacakan olehnya. Sarte mengakui kalau mereka bertengkar, ia menghormati keputusan Camus untuk diam. Akan tetapi, di setiap pagi, ia selalu bertanya, apa yang dipikirkan Camus ketika membaca koran hari itu, kadang ia juga mengaku kalau kebisuan Camus juga menyakitkan. Sarte yakin, suatu hari Camus akan bicara, Camus akan berubah sebagaimana dunia berubah. Tetapi ia salah, sampai akhir hayatnya Camus tetap membisu. Kebisuan yang terdengar nyaring, yang menggema panjang bahkan hingga hari ini.

Lalu, kembali pada pertanyaan awal; apa tugas penulis? Bagi Eka sendiri, di tengah kebisingan dan semua orang bisa bersuara, tugas penulis adalah diam. Ada saatnya penulis harus diam, menutup mulut dan berpikir lebih panjang. Sebab senyap, kata Eka, sering kali memberi pesan yang lebih nyaring dari apa pun.

Eka kurniawan merupakan seorang penulis kelahiran Tasikmalaya 1975, karyanya Cantik itu Luka sudah diterjemahkan ke berbagai bahasa. Buku ini sendiri merupakan kumpulan dari tulisan-tulisannya yang diposting di weblog atau blog. Ditulis dari rentang waktu 2012 sampai dengan 2014, buku ini memuat sekitar 109 tulisan. Tulisan-tulisan tersebut berupa resensi, pandangan penulis terhadap kesusastraan serta beberapa tips tekait menulis dan membaca.

Tulisan-tulisan di Blognya, bagi Eka tak ubah remah-remah roti yang ditabur Hansel dan Gretel sebagai penanda. Sebab kenangan –atau sesuatu yang hendak kita ingat – dari sebuah buku harus bersaing dengan nomer telepon, nama kenalan, pembayaran tagihan, atau materi kuliah di kepala kita. Sedang kenangan itu adalah sebuah hal yang membuat candu. Percakapan antar tokoh, adegan demi adegan di setiap plot, atau gambaran tokoh, menjadi sensasi tersendiri. Sensasi itulah yang membuat sebuah buku menjadi kenikmatan bagi pembacanya.

Maka blog adalah medium bagi Eka untuk mengekalkan sensasi itu. Remah-remah roti yang ditaburnya itu, kelak yang akan ia cari di sepanjang perjalanan hidupnya, sebagaimana yang dilakukan oleh Hensel dan Gratel.

Membaca buku ini, sama dengan mengintip ruang-ruang imaji seorang Eka Kurniawan. Lewat jurnal-jurnalnya, sedikit banyak kita dapat melihat gambaran mengenai proses kreatif Eka dalam dunia kepenulisan. Tulisan-tulisan yang terdiri dari satu paragraf dengan lima ratus sampai enam ratus kata tersebut, berhasil menjadi remah-remah yang ditabur penulis. Sehingga, bukan hanya Eka yang dapat menengok kembali jalan yang telah dilaluinya, tetapi kita sebagai pembaca bisa mengerti kemana Eka melangkah.

Di samping semua itu, ada hal menarik dari seorang Eka Kurniawan. Dalam satu tulisannya, ia mempertanyakan, apakah bacaan kita tumbuh dengan semestinya? Menjadi pembaca yang dewasa, menurutnya tidak hanya ditentukan oleh bacaan yang dipegang. Bagi Eka, yang terilhami oleh wawancara Javier Marias, dewasa adalah ketika seorang pembaca dapat menentukan kemana ia akan tumbuh. Buku-buku model apa yang harus dibaca sekarang, besok, dan selanjutnya.

Dari sana, Eka kemudian mencoba membaca karya-karya kontemporer karya penulis kelahiran tahun ’50 ke atas. Dalam satu tahun ia melahap karya-karya penulis, katakanlah, Enrique Vila-Matas, Cormac McCarthy, Miguel Syjuco, Michael Houellebecq, Javier Marias, Caesar Aira, dan Andrey Kurkov.

Tahun berikutnya, sesuai dengan target yang telah ditentukan, ia kembali membaca karya-karya klasik macam Don Qijote-nya Carvantes, membaca karya-karya Gabriel Garcia Maquez, kumpulan cerpen dari penulis Prancis, Maupassant ataupun penulis Rusia Dosteyovsky. Bahkan Eka juga membaca Aristoteles, Clairice Lispector, dan karya-karya penulis Amerika dari generasi El Boom.

Yang juga tidak dapat dikesampingkan dari seorang Eka Kurniawan adalah pandangannya mengenai dunia kesusastraan. Beberapa jurnalnya merekam komentar Eka terkait perkembangan dan jalannya kesusastraan di Indonesia, khususnya. Eka bahkan mengkritik redaksi dari Surat Kepercayaan Gelanggang yang mengatakan kalau kami –Seniman Gelanggang, merupakan ahli waris kebudayaan dunia yang sah. Redaksi ahli waris dalam perspektik wirausaha, mengasosiasikan sebagai penerima enaknya saja. Orang tua yang berusaha, ahli waris yang menikmati. Lebih jauh, Eka Kurniawan memandang manifesto tersebut merupakan cerminan dari sebuah jiwa-jiwa bermental tempe, jiwa inferior yang tak berani bertarung di kelas berat.

Selain membicarakan sastra, Eka juga mebicarakan hal lain seperti pengalaman hidup, pelajaran yang di dapat di satu hari, namun dari semua tulisan yang dibahasanya merucut kepada pembahasan sastra. Kemudian terakhir, pelajaran yang berharga dari Eka mengenai baragamnya karya sastra yang ada di pasaran. Baginya, hanya ada dua jenis karya sastra di dunia ini, yang kita sukai dan yang tidak kita sukai. Lalu, apakah karya sastra yang tidak kita sukai itu buruk? Belum tentu!

***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *