Obrolan penerjemahan karya dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia bersama Anton Kurnia (I)

Wawancara di bawah ini, diambil dari Grup Facebook Apresiasi Sastra (APSAS) Indonesia


Anton Kurnia, lahir di Bandung 1974. Sempat belajar sebentar di jurusan Teknik Geologi ITB dan Ilmu Jurnalistik di IAIN Sunan Gunung Djati Bandung, selebihnya ia berproses secara autodidak. Kini ia dikenal sebagai penulis, penerjemah, dan editor. Berkecimpung di dunia penerbitan sejak akhir 1990-an, pada 2016 mendirikan Penerbit Baca. Sejak tahun itu juga ia menjadi penanggung jawab Program Pendanaan Penerjemahan LitRI di Komite Buku Nasional yang dibentuk oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan hingga akhir 2019.

Kumpulan cerpen pertamanya, Insomnia (2004) yang diterbitkan ulang sebagai Sepasang Mata Kelabu dan Burung-Burung yang Mati (2019), telah diterjemahkan ke bahasa Inggris sebagai A Cat on the Moon and Other Stories (2015—diterjemahkan oleh Anton Kurnia dan Atta Verin) dan ke bahasa Arab sebagai Qithah ’alal Qamar (diterjemahkan oleh Fatimah Abbas, terbit di Kairo, Mesir, 2020). Buku itu kini sedang dijajaki penerbitannya dalam terjemahan bahasa Spanyol oleh sebuah penerbit di Medellin, Kolombia, dan dalam bahasa Serbia oleh satu penerbit di Novi Sad, Serbia.

Esai-esainya terkumpul antara lain dalam buku Mencari Setangkai Surga: Jejak Perlawanan Manusia atas Hegemoni Kuasa (2016), Buah Terlarang dan Cinta Morina: Catatan dari Dunia Komik (2017), dan Menuliskan Jejak Ingatan (2019). Buku mutakhirnya antara lain Ensiklopedia Sastra Dunia: Pengantar Menjelajah dan Kawan Membaca (2019), kumpulan cerpen Seperti Semut Hitam yang Berjalan di Atas Batu Hitam di Dalam Gelap Malam (2019), dan Menulis dengan Cinta: Pengantar Belajar Menulis Kreatif (2021). Buku travelognya, Banyak Jalan Menuju Praha: Catatan Perjalanan dan Pertemuan akan diterbitkan tahun ini.

Sejak 1997 ia telah menerjemahkan ratusan cerpen dan puluhan novel dari khazanah sastra dunia. Buku terjemahannya yang telah diterbitkan sejak 2000 berjumlah lebih dari 70 judul, baik fiksi maupun nonfiksi. Sebagian besar terjemahan dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia, sebagian kecil dari bahasa Indonesia ke bahasa Inggris. Buku tersebut di antaranya Lolita (novel Vladimir Nabokov), Les Miserables (novel Victor Hugo), The Book of Saladin (novel Tariq Ali), The Balthasar’s Odyssey (novel Amin Maalouf), dan Haroun and the Sea of Stories (novel Salman Rushdie). Sebagai editor, ia telah menyunting lebih dari seratus buku fiksi dan nonfiksi sejak 2000, termasuk Big Breasts Wide Hips (novel Mo Yan), Istanbul (memoar Orhan Pamuk), dan Gunung Jiwa (novel Gao Xingjian).
***

Nurel Javissyarqi: “Untuk mengawali pertanyaan sebagai admin Apsas yang secara tak sengaja mungkin, atau mulanya saya didapuk menjadi admin Apresiasi Sastra (APSAS) Indonesia oleh Mas Sigit Susanto, lantaran dirinya dikejar-kejar oleh orang-orang yang terlalu fanatik terhadap aliran keagamaannya hingga membuta, saat beberapa tahun lalu, semacam dijadikan bempernya barangkali, padahal diri ini lebih cenderung mendekati sesosok konseptor hahaha… mengucapkan terima kasih kepada orang-orang yang telah berkenan mengisi ruang profil pada grup fb Apsas dalam obrolan seputar sastra. Kepada para penerjemah karya, sedari bahasa atau bangsa asing ke dalam bahasa Indonesia, sungguh hatur nuwon sanget, karena dengan hadirnya karya-karya terjemahan, para pembaca di seluruh penjuru Indonesia, lebih banyak bersentuhan atas kebudayaan bebangsa lain demi tingkatkan mutu keadabannya, atau begitulah cara bergaul terbaik di dalam memperkaya khazana keilmuan, sehingga bebatang pohon dengan kekuntum bunganya peradaban di Tanah Air tercinta, dapat tumbuh subur harum semerbak bermekaran, sekaligus memperkuat mata rantai nilai-nilai lama yang tertanam jauh di negeri Nusantara ini bisa terus bernapas indah, yang semogalah mencapai purna. Dan kepada Mas Anton Kurnia, mungkin saya sering ‘berjalan’ dengan napas-napas hasil terjemahan sampean, maka secara pribadi hatur terima kasih sangat. Sebagai pertanyaannya: 1. Buku karya siapa, dan atau karya terjemahan siapakah yang pertama kali sampean nikmati/baca? 2. Apakah sebagai penerjemah dan penulis, sampean merasa berkecukupan (maaf agak pribadi) atau pernahkah terbersit goda untuk mengakhiri hidup dari jalan kepenulisan? Sementara itu dulu, nanti disambung yang lain, suwon…”

Anton Kurnia: “Mas Nurel, terima kasih atas kesempatan yang diberikan. Salam untuk seluruh warga Apsas.
1. Seingat saya novel Enid Blyton, diterjemahkan Pak Agus Setiadi, judulnya Minggat. Termasuk seri Lima Sekawan. Saya baca saat umur 5 tahun. Sebelumnya saya lebih banyak baca komik atau majalah Bobo. Novel Minggat itu sogokan dari abang saya. Usia kami terpaut 6 tahun. Satu hari saat kami bermain, dia dijemput kawannya untuk pergi. Saya ingin ikut. Abang saya membujuk agar saya tidak ikut dengan memberi saya buku itu. Akhirnya saya asyik membaca, lupa dengan keinginan untuk ‘ngintil’ abang saya.
2. Sejauh ini sih saya masih bisa bertahan dan tak pernah berniat untuk minggat dari dunia kepenulisan. Ini soal cinta sih. Hehe. Sebetulnya penghasilan seorang penulis atau penerjemah bisa sangat lumayan untuk ukuran umum pendapatan orang Indonesia. Namun, harus dilihat juga hidup seperti apa yang (ingin) dijalani dan kebutuhan-kebutuhan yang dimiliki oleh yang bersangkutan.”

Nurel Javissyarqi: “Pertanyaan selanjutnya Mas, 3. Apakah LitRI sudah berjalan dengan baik, menurut pandangan sampean? Dan ke 4. Kira2 berapa judul buku yg telah dihasilkan oleh LitRI, kemudian drpd dampak manfaatnya, apakah telah memenuhi harapan di waktu itu? Matur suwon sanget sebelumnya…”

Anton Kurnia: “3. Menurut saya, dalam 4 tahun (2016-2019), LitRI terus membaik dan grafik pencapaiannya terus naik, tetapi tentu masih perlu banyak perbaikan. Sayang sekali program ini tidak dilanjutkan oleh Kemendikbud. 4. Dalam masa hanya 4 tahun, LitRI telah berhasil mendanai penerjemahan lebih dari 200 judul buku (fiksi, nonfiksi, buku anak, komik) karya penulis Indonesia ke berbagai bahasa dan diterbitkan di banyak negara. Dengan penerjemahan ini, karya para penulis Indonesia diperkenalkan di pentas dunia. Kita menyumbang pada khazanah sastra dunia. Ini menjadi semacam etalase bagi buku-buku karya penulis Indonesia yang dapat memancing minat dan perhatian lebih luas. Saya pribadi belum puas dan berharap inisiatif ini dapat terus berlanjut, dengan atau tanpa bantuan pemerintah.”

Nurel Javissyarqi: “Matur suwon sanget Mas atas jawabannya…”

Moh Rudi: “Halo admin dan kawan-kawan. Terima kasih sudah membuka diskusi pembelajaran semacam ini. Tentu saja ini sangat bermanfaat, karena saya yakin banyak orang ingin belajar. Group ini saya kira anggotanya bukan hanya mereka yang sudah menjadi penulis, tapi juga mereka yang memiliki ketertarikan pada sastra dan mempelajarinya, termasuk saya. Ada satu yang ingin saya tanyakan terkait penerjemahan (Mohon dimaafkan jika pertanyaannya terlalu receh). Pertanyaan saya adalah, apakah jika seseorang yang menerjemahkan, misalkan sebuah cerpen, lalu hasil terjemahan itu dimuat di media, hal ini tak melanggar hak cipta seperti misalkan jika menerjemahkan sebuah novel lalu diterbitkan. Sekian pertanyaan saya pada Kang Anton Kurnia. Hatur nuhun.”

Anton Kurnia: “Ya, ini agak rumit karena bisa dipandang dari berbagai sudut. Idealnya memang penerbitan di media itu dengan seizin proprietor (pemegang hak cipta). Maka dari itu, sejumlah media (seperti Jawa Pos) menyatakan hanya akan memuat karya terjemahan yang sudah public domain.”

Bamby Cahyadi: “Mas Anton Kurnia, apakah menerjemahkan teks bahasa Inggris ke Indonesia sebaiknya dilakukan perkalimat atau perparagraf? Lalu apakah kita sebagai penerjemah boleh mengembangkan hasil terjemahan untuk deskripsi suatu hal tertentu. Terima kasih.”

Anton Kurnia: “Penerjemahan sebaiknya tidak dilakukan kata per kata, karena bisa jadi akan mengaburkan makna dan konteksnya dalam bahasa sasaran. Bisa dilakukan per kalimat. Tapi yang perlu diingat adalah mempertimbangkan konteksnya secara keseluruhan. Maka, sebagai narasumber dalam pelatihan penerjemahan, saya biasanya menyarankan untuk membaca dulu atau memahami teks asli sebelum mulai menerjemahkan. Dalam teknis penerjemahan, ada beberapa jurus yang bisa dilakukan untuk menjelaskan makna, misalnya dengan melakukan parafrase atau memberikan deskripsi agar pembaca dalam bahasa sasaran dapat memahaminya.”

Willie Xue: “Akan sangat ‘mempengaruhi’ dunia, kalau belajar langsung kepada Anton Kurnia, justru penerjemahan karya Sastra Indonesia ke dalam Bahasa Inggris. Karena proses-nya lebih rumit dari sekadar ‘penukaran kata-frasa-kalimat’ ke dalam bahasa lain. Baca dan paham akan sudah jadi Tantangan Pertama. Setia pada isi karya, konteks dan pilihan kata yang tepat akan antri jadi tantangan berikut-nya. Dan rasanya, aku ingin belajar juga ‘cara’nya.”

Anton Kurnia: “Mas Willie, saya tidak banyak menerjemahkan karya ke bahasa Inggris. Di antara yang sedikit itu adalah cerpen-cerpen saya sendiri (diterjemahkan berdua dengan Atta Verin) yang kemudian diterbitkan oleh The Jakarta Post dan terkumpul dalam buku A Cat on the Moon and Other Stories yang lolos kurasi seleksi buku terjemahan untuk Frankfurt Book Fair 2015, dan mendapat dana penerjemahan dari Badan Bahasa/Kemendikbud. Saya lebih menguasai penerjemahan ke bahasa Indonesia ketimbang sebaliknya.”

Anissa Fitri: “Esai paling pertama yang pernah om terjemahkan apa? Dan motiv secara pribadi menjadi penerjemah apa sih?”

Anton Kurnia: “Saya tidak ingat persis. Tapi kalau tidak keliru saya pernah mencoba menerjemahkan satu esai Leon Trotsky semasa mahasiswa, sekitar 25 tahun lampau.”

Anissa Fitri: “Pertanyaan kedua, om?”

Anton Kurnia: “Silakan. Oh, maaf. Bentar saya jawab.”

Anton Kurnia: “Motif awalnya ingin belajar teknik menulis dari para penulis hebat dunia. Juga ingin menyumbang dan berbagi sesuatu bagi para pembaca di Indonesia agar dapat menikmati karya bagus tanpa terhalang sekat bahasa. Setelah itu, menerjemahkan menjadi hobi yang menyenangkan dan ada motif ekonomi juga. Buat tambahan ngasih uang jajan ke anak.”

Alie Ahsan Al-Haris: “Baik, terimakasih untuk kesempatan yang telah diberikan oleh Pak Nurel Javissyarqi. Pertanyaan untuk Pak Anton Kurnia:
1. Honor penerjemah akadnya bagaimana ya? Per halaman atau langsung satu buku.
2. Bagaimana tanggapan Pak Anton mengetahui judul yang sama diterjemahkan dan diterbitkan oleh penerbit lain?
3. Saya pernah dengar kalau Pak Anton menjadi Manajer Sheila On 7. Jika benar, apa Pak Anton ada andil dalam pembuatan lirik dan set up panggung saat konser?
4. Apakah pernah menerjemahkan Non Fiksi?
5. Genre Novel apa yang paling Pak Anton sukai & tidak dalam proses menerjemahkan?
6. Bagaimana cara Pak Anton dalam mencari padanan yang tepat dari bentuk gaya bahasa dari sumber yang asli ke Bahasa Indonesia?
7. Apakah penerbit Baca fokus menerbitkan karya terjemahan? Seperti yang Mas Eka lakukan di Moooi Pustaka?
Sekian terimakasih. Semoga berkenan menjawab semua yang saya tanyakan.”

Anton Kurnia: “1. Tergantung kesepakatan, tapi honor penerjemahan buku biasanya dihitung per karakter (dengan atau tanpa spasi) atau per halaman. Ada juga yang dibayar dengan royalti.
2. Tidak masalah untuk yang sudah public domain. Bahkan pembaca akan diuntungkan karena memiliki banyak pilihan. Jika sebaliknya (tidak public domain), tentu bisa menimbulkan persoalan.
3. Itu tampaknya Anton yang lain. Sejauh ini saya belum pernah menjadi manajer grup musik. Menjadi manajer pelatih klub sepak bola mungkin pernah terpikirkan, tapi jalan ke sana sudah telanjur jauh menyimpang.
4. Pernah.
5. Saya cenderung memilih novel yang sesuai dengan minat saya meski minat saya luas. Tapi utamanya saya menyukai novel menantang dari khazanah sastra dunia seperti Lolita (Nabokov) atau Namaku Merah (Pamuk). Saya beberapa kali menolak tawaran menerjemahkan novel yang kurang cocok dengan selera saya, misalnya novel pop tentang vampir-vampiran dan fiksi sains berlatar Scientology.
6. Salah satunya dengan mencari referensi seluas-luasnya. Di antaranya dengan memanfaatkan ensiklopedi, kamus, dan tesaurus. Riset dan banyak membaca bahan juga sangat membantu dalam kerja penerjemahan.
7. Tidak. Penerbit Baca juga menerbitkan karya-karya penulis Indonesia seperti Achmad Chodjim, Jalaluddin Rakhmat, dan Prof. Musdah Mulia.”

Sasti Gotama: “Terima kasih, Mas Nurel Javissyarqi. Saya sudah menunggu-nunggu kedatangan Mas Anton Kurnia di sini, hehehe. Salam, Mas. Yang saya tanyakan, bagaimana jika penerjemah menemui kata atau kalimat yang tidak memiliki padanan kata dalam bahasa Indonesia. Lebih luasnya lagi, jika bukan hanya sekadar kata, tetapi juga kebiasaan ataupun budaya yang berbeda. Bagaimana menyiasatinya, sehingga pembaca tetap dapat membayangkan apa yang dimaksud penulis? Terima kasih.”

Nurel Javissyarqi: “Sasti Gotama, tadinya sampean hendak saya jawil, tapi syukurlah sudah tahu postingan ini. Matur suwon sanget…”

Anton Kurnia: “Mbak Sasti, upaya penerjemahan memang tak hanya menafsirkan kata dan mengurai makna, tapi juga terkait bagaimana menerjemahkan konteks budaya dan adat yang berbeda. Ada kata-kata atau istilah khas yang tidak bisa diterjemahkan atau dicarikan padanannya dalam bahasa lain. Untuk menyiasatinya, terkadang penerjemah memberikan catatan kaki atau penjelasan deskriptif. Tetapi, tentu disesuaikan juga dengan konteks secara umum.”

Sasti Gotama: “Nurel Javissyarqi, sami2.”

Sasti Gotama: “Anton Kurnia, terima kasih atas jawabannya, Mas. Sangat jelas dan menarik. Tetapi saya pernah membaca, seorang penerjemah menyamakan suatu budaya dengan budaya setempat yang lebih bisa dipahami konteksnya oleh pembaca. Misalnya saat itu, lagu Jepang yang mengiringi langkah seseorang, diibaratkan lagu Holopis Kuntul Baris (lagu Jepang itu dipadankan dengan lagu lokal yang membuat pembaca lebih bisa membayangkan konteks cerita). Atau misalnya buskin (sepatu khusus aktor drama Yunani) langsung diterjemahkan sepatu bot kulit? Karena terkadang, terlalu banyak deskripsi di footnote, akan mengganggu kenikmatan proses membaca, apalagi untuk fiksi. Bagaimana menurut Mas Anton? Terima kasih banyak.”

Anton Kurnia: “Ya, itu yang disebut domestikasi. Jadi, mencari padanan dalam konteks domestik (bahasa sasaran) meski tidak tepat benar. Saya setuju, catatan kaki atau deskripsi yang terlalu kerap bisa mengganggu kenikmatan membaca. Saya termasuk penerjemah penganut “mazhab” domestikasi. Namun, seperti yang sampaikan sebelumnya, perlu dilihat konteksnya secara umum. Ada kalanya penerjemah perlu membiarkan istilah-istilah asal untuk memperkuat nuansa teks. Ada kata-kata khusus yang lebih pas dibiarkan apa adanya dan dianggap sudah dipahami maknanya secara universal, misalnya vendetta (Italia) atau saudade (Portugis).”

Sasti Gotama: “Baik, Mas. Dapat saya pahami. Berarti penerjemah bisa melakukan domestikasi atau tetap dibiarkan apa adanya sesuai dengan kebutuhan teks. Terima kasih banyak atas jawabannya.”

Bersambung….

2 Replies to “Obrolan penerjemahan karya dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia bersama Anton Kurnia (I)”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *