SELAMAT JALAN MAS RADHAR…

Radhar Panca Dahana (26 Maret 1965 – 22 April 2021)

Aguk Irawan MN *

“Kalau ke Jakarta, jangan lupa singgah di Bale Sastra Kecapi ya, Guk?” Sms-nya dulu sering masuk ke hp saya. Begitu sesekali saya mampir, dengan niat menimba ilmu kebudayaan. “Orang besar” yang merasa kecil dan bersahaja itu kemudian mengumpulkan teman-teman, lalu pertemuan berakhir di meja makan dengan ia yang mentaktir. Ya, selalu begitu.

Perkenalan awal saya dengan almarhum, ketika masih menjadi mahasiswa di Mesir, lumayan sering mengirim tulisan esai budaya di Harian Kompas, berkali-kali dijawab atas nama RPD, katanya. “Gagasan kurang baru dan analisa belum memberi sumbangsih yang berarti pada kebudayaan Indonesia. Sehingga kami kesulitan memberi tempat.” Begitu jawabannya yang khas, tetapi saya tidak menyerah.

Esok harinya saya mengirim tulisan lagi dan lagi. Bahkan bertubi-tubi, tetapi malah dapat jawaban yang menohok. “Kelemahanmu sering menulis, sehingga pikiran tidak diberi waktu untuk istirahat, hasilnya ceruk analisa kurang dalam…” Setelah puluhan kali mengirim tulisan, alhamdulillah akhirnya tembus juga tulisan analisa budaya saya di Kompas, itupun dengan edit yang luar biasa. Belakangan saya tahu, redaktur kebudayaan Kompas itu adalah Radhar Pancha Dahana, mungkin dimuatnya tulisan saya karena ia kasihan.

Tahun 2003 saya pulang ke tanah air, setelah keluyuran sekian tahun di Mesir, beruntunglah melalui tulisan tanggap-menanggap di Kompas dan Republika, saya kenal baik dengan Cerpenis dan Esais yang luar biasa bertalenta, beliau adalah Damhuri Muhammad. Ternyata sahabat ini berkawan baik dengan almarhum, dan atas wasilah kawan ini, saya menjadi dekat. Jika Mas Radhar ke Yogya, saya nyaris selalu ditelpon untuk menemaninya. Meskipun saat saya menemuinya, sahabat saya Faisal Kamandobat sudah terlebih sering ada di sisinya.

Di Yogyakarta, seperti biasa, beliau sering memilih jalan kaki jika kemana-mana. Biasanya ketika lapar, ia ngajak kami Mecel Lele Lamongan. Iapun selalu bergurau soal makanan khas Kaki Lima Lamongan ini. Sambil bercerita mitos orang Lamongan tidak boleh makan lele. Pernah suatu malam kami jalan dari Balerung UGM ke Taman Budaya. Tidak terhitung berapa kali beliau harus berhenti. Katanya, “Alon-alon Guk, saya memang sehat, tapi tidak seperti dirimu. Doakan saya ya..” Saat istirahat sejenak, nafasnya tersengal-sengal, terkadang dia lalu menyandarkan tubuhnya yang kurus itu di bahu saya. Mas Radhar, setahu saya, sejak awal tahun 2000an memang divonis gagal ginjal dan harus cuci darah seminggu dua kali.

“Punya esai kebudayaan baru tidak, Guk? Esai-esai yang masuk minggu ini memang banyak, tapi saya kurang cocok.” Sayapun langsung menjawab dengan bohong, “ada Mas,” padahal saat itu belum ada. Setelah saya tulis, seperti biasa saya kirim ke email pribadinya, radhardahana@yahoo.com. Alhamdulillah setelah kenal baik esai-esai saya antara tahun 2003-2013 sering nyangkut di Kompas. (Belakangan saya kumpulkan dan menjadi buku antologi esai “Pesan Al-Qur’an untuk Sastrawan” terbit di Penerbit Jalasutra tahun 2014). Esai-esai di dalam buku ini paling banyak pernah terbit di Kompas. Jadi karena Mas Radhar ini, esai-esai saya yang buruk, nampak seperti bagus. Karenanya, kami sangat berhutang kepada almarhum.

Kata sahabat saya Zuhairi Misrawi, jika tidak ada Mas Radhar di Kompas, tulisan say tidak mungkin bisa dimuat Kompas. Karena dia tahu, Mas Radhar orang yang telaten dan menghargai gagasan, meski harus mengedit dengan berat. Ungkapan ini tidak salah, sebab sejujurnya memang Mas Radhar ini adalah andalan saya. Jika saya kirim ke rubrik opini atau sastra dan tidak lolos, maka Mas Radhar adalah harapan terakhir.

Tahun 2009, beliau pernah marah besar kepada saya, pasalnya tulisan “Buku, Peradaban dan Penguasa” saya kirim ke opini Kompas dan secara resmi ditolak oleh disk Opini Kompas, setelah itu tulisan saya kirim ke Jawapos dan dimuat di rubrik Di Balik Buku, ternyata tidak dinyana, tulisan itu berbarengan dimuat juga di Kompas oleh Mas Radhar di rubrik Teroka. Atas hal ini, katanya beliau ditegur sama Pimred Kompas. Sayapun minta maaf dan menjelaskan, bahwa saya kirim untuk rubrik Opini dan sudah resmi ditolak. Begitulah kebaikan Mas Radhar dengan siapapun. Tulisan itupun membuat almarhum Mas Arief Jawapos berang dan saya kena blacklist dua tahun.

Semalam sehabis shalat terawih, saya mengabari pada istri, “Mas Radhar meninggal…” Istri langsung menimpali, “Innalillahi wainna ilaihi rajiun. Mas Radhar yang kurus itu, biasanya ke sini sama Mas Damhuri…”, “Ya”, kataku. Selamat jalan sahabat, guru dan orang tua bagi kebudayaan Indonesia. Bahagia disisiNya. Amin


***

*) Aguk Irawan MN, sastrawan kelahiran Lamongan 1 April 1979. Karya-karyanya fiksi pun non fiksi. Selain menulis, menerjemahkan buku-buku berbahasa Arab ke bahasa Indonesia. Karyanya; puisi, cerpen, esai sastra, agama, budaya, dipublikasikan di Horison, Kompas, Suara Pembaharuan, Sinar Harapan, Jawa Pos, Republika, Media Indonesia, Indopos, Pikiran Rakyat, Kedaulatan Rakyat, Minggu pagi, Suara Merdeka, Surabaya Post, Sumut Pos, Basis, Merapi, Rakyat Sumbar, Fajar Makassar, Carawala Makassar, Kaki Langit, Syir’ah, Jurnal Analisis, Risalah, Majalah Tebuireng, Kuntum, Bende, NU Online, Jejak Bekasi, Merapi Pembaruan, Sidogiri Media, dll. Pendidikannya, MI dan SD di Kalipang, Sugio, Lamongan (1990), SMP Sunan Drajat (1993), MAN Babat sambil belajar kitab kuning di Darul Ulum, Langitan (1997), kuliah jurusan Aqidah-Filsafat, di Al-Azhar Cairo Egypt atas beasiswa Majelis A’la Islamiyah (2003), Pasca Sarjana di STAI Al-Aqidah (2010), program Doktoral di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (2017), keduanya beasiswa Kemenag RI. Pendiri Pesantren Kreatif Baitul Kilmah Yogyakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *