SESUDAH DI PUNCAK GUNUNG SCOPUS

Djoko Saryono *

Scopus itu nama gunung — tepatnya bukit — di Israel sekarang. Sejak dahulu Gunung Scopus menjadi wilayah atau tempat penting, bahkan sangat strategis bagi kelompok orang atau pun rezim penguasa. Berbagai pihak menjadikan Gunung Scopus sebagai basis pertahanan dan atau penyerangan ke kota. Maka, pendek kata, Scopus memang gunung melegenda.

Mungkinkah karena ke-melegenda-an tersebut membuat kelompok Elsevier [satu raksasa korporasi publikasi dan/atau penerbitan ilmiah internasional berbasis di Belanda] menjadikan Scopus sebagai nama lembaga layanan atau penyedia pangkalan data artikel ilmiah dan indeksasi/sitasi artikel ilmiah secara masif dan global? Di antara puluhan lembaga layanan indeksasi/sitasi artikel ilmiah secara global dan internasional, sekarang dapat dibilang Scopus-lah yang paling dominan dan kuasa di sebagian besar wilayah dunia. Asia terutama Indonesia bisa dibilang negara yang sudah dicengkeram kuat-kuat oleh Scopus akibat adanya kebijakan pemerintah dan didukung oleh berbagai institusi terkait dunia akademik. Sekali lagi, Indonesia telah tercengkeram begitu kuatnya oleh Scopus. Bisa jadi, mimpi akademikus Indonesia adalah mimpi Scopus.

Walhasil semua insan ilmu atau akademikus Indonesia berbondong-bondong mendaki — wajib mendaki dengan ngos-ngosan ataupun riang gembira — Gunung Scopus. Sejak 6/7 tahun lalu mereka berbondong-bondong naik ke Gunung Scopus dengan mengerahkan segala daya dan usaha — mulai dana yang besar, pikiran yang diperas, bahkan sampai tindakan tak terpuji. Dalam waktu relatif cepat para akademikus atau ilmuwan Indonesia tiba di puncak Gunung Scopus. Pihak pemerintah kemudian mengumumkan bahwa Indonesia telah di puncak tertinggi Gunung Scopus, mengalahkan atau menyalip beberapa negara jiran Indonesia. Di Asia Tenggara, oleh pihak pemerintah, Indonesia dinyatakan sebagai jawara Scopus. Tentu disertai bukti-bukti statistik dan infografis yang aduhai.

Sesudah Indonesia dinyatakan sendiri tiba di puncak Gunung Scopus, apakah ilmu pengetahuan dan teknologi di Indonesia berarti melaju pesat dan mendapat pengakuan oleh komunitas internasional? Apakah jawara Scopus di Asia Tenggara itu berdampak kuat pada tegaknya etika dan etos keilmuan dan akademik di Indonesia? Apakah masyarakat Indonesia memperoleh manfaat besar dari publikasi dan indeksasi Scopus yang telah memeras dana dan pikiran kita sedemikian banyak? Apakah artikel-artikel ilmiah yang terindeks dan tersitasi di Gunung Scopus telah mengubah masyarakat Indonesia menjadi lebih baik? Sebandingkah dana dan usaha yang sudah dikeluarkan oleh pihak Indonesia dengan faedah nyata bagi ilmu pengetahuan Indonesia dan masyarakat luas di Indonesia? Entahlah. Beberapa pertanyaan besar tersebut di luar kapasitas saya. Mungkin yang bisa menjawab Gus Dawud, Gus Moch Syahri, Tuan Thobroni Kaltara, Puan Ida Nurul Chasanah, Puan Novi Anoegrajekti dan kawan-kawan. Yang saya tahu, di puncak gunung tinggi, kita harus segera turun, tak bisa berlama-lama bila tak ingin terperangkap halusinasi dan hipoksia.

11 April 2021


*) Prof. Dr. Djoko Saryono, M.Pd., Guru Besar Jurusan Sastra Indonesia di Fakultas Sastra pada kampus UNM (Universitas Negeri Malang). Telah banyak menghasilkan buku, artikel apresiasi sastra, serta budaya. Dan aktif menjadi pembicara utama di berbagai forum ilmiah kesusatraan tingkat Nasional juga Internasional.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *