Catatan dari Webiner : Perempuan dan Anak-anaknya

-Membaca Cerpen Tentang Tragedi Masa Lalu


Martin Aleida

Tadi siang saya berpartisipasi dalam sebuah webinar, membicarakan buku “Perempuan dan Anak-anaknya” – Membaca Cerpen Tentang Tragedi Masa Lalu. Dua belas cerita pendek yang ditulis para prosais Indonesia dalam buku ini sebenarnya sudah terbit awal 1970-an, dihimpun dan diterjemahkan oleh Harry Aveling (Australia) sebagai Southeast Asian Studies Working Paper, University of Hawaii. Berjudul “Gestapu: Indonesian Short Stories on the Abortive Communist Coup of 30th September 1965.”

Saya tidak tergelitik untuk menukik dan membahas keselusin cerita pendek tersebut. Lantaran saya tak ingin mabuk berbesar kepala, tersebab cerita pendek saya ‘Malam Kelabu’ (‘Dark Night) nyempil paling akhir dalam deretan.

Yang membuat menit-menit penantian saya berbuka puasa menjadi saat yang menyesakkan, adalah ketika seorang pembicara menceritakan Usamah, (salah seorang yang ceritanya termaktub dalam buku tersebut), adalah anggota Lekra di Solo. Dan, kata si pembicara, dia telah berbalik menjadi tukang tunjuk dan memilah-milah siapa yang harus dibunuh pada hari-hari kelam dan tegang tak lama setelah geger G30S. Usamah, lanjut si pembicara dengan suara yang terdengar seperti ada sapuan angin kegairahan pada kata-katanya; kemudian pulang ke Pekalongan dan meninggal di sana.

Gatal hati dan cangkem saya mendengar paparan itu. Ketika saya diundang moderator untuk memberikan tanggapan, pada kesempatan pertama saya bertanya: kapan Usamah meninggal? Saya jelaskan, pada ulang tahun Tempo setahun lalu, saya bercakap-cakap, malah berpelukan dengannya. Dan dia undang saya mampir ke kedai kopinya yang ngepul di Bogor. Saya jelaskan juga, ketika saya bekerja sebagai reporter di Tempo, Usamah adalah atasan saya langsung. Dan bahwa dia penulis yang gesit, mengalir, memikat, dan baik. (Dialah penemu semboyan Tempo yang tak pernah didurhakai sampai kini: Enak Dibaca Dan Perlu.)

Dalam sanggahannya, si pembicara tidak menyebutkan kapan sasaran dendam kusumatnya itu meninggal. Malahan ngeles tentang sikap tak terpuji Usamah, penulis yang baru berusia 19 (sebelum G30S) sudah menulis sebuah novel bersuasana seperti musim semi di Eropa, dan dimuat bersambung di majalah ‘Sastra’ pimpinan HB Jassin.

Saya kontak beberapa wartawan Tempo, yang sudah pensiun maupun masih aktif. Tak ada yang tahu akan nasib Usamah yang dari belakangnya diperlakukan seseorang dengan sewenang-wenang. Tidak adil. Setelah menunggu beberapa lama, tiba-tiba layar WA berdenyar. “Ada ada saja,” tulis Usamah. “Siapa yang bilang begitu?”

Saya sudah menemukan kunci. Tak ingin berpanjang-panjang, saya sudahi dengan mengucapkan syukur Alhamdu lillah. “Itu isyarat Mas akan berusia panjang untuk beramal kebajikan.”

Pembicara dalam webinar itu, semoga kesan saya keliru, ingin mendominasi, merebut menguasai waktu yang terbatas. Dan saya merasa dia hendak membuat mulut saya berkata: bahwa Usamah adalah pengkhianat yang baik dan bukan penulis yang baik.

Ini orang mengerikan, teriak saya dalam hati. Sejuta kutukan pada kebengisan fasisme militeristis orde baru dengan tak disadarinya dalam pilihan kata, yang diperkuat dengan power point, telah berubah menjadi oligarki pikiran, yang kalau dibiarkan tak dibendung dengan kejernihan berpikir, maka apa yang dikutuk boleh jadi akan berubah menjadi kerangkeng, pulau pembuangan, dan bui dogmatisme.

Salam sehat. Tetap jaga kepekaan.

30 April 2021

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *