Catatan : Penjajahan Israel di Palestina


Puisi Karya: Nizar Qabbani
Penerjemah: Taufiq Ismail
wartamantra.com, 19 Mei 2021

Sobat:
Kusesalkan bahasa kuno kita, buku-buku tua
Pidato kita yang seperti sepatu menganga
Kata-kata kumuh, fitnah dan cerca
Kusesalkan
Terkuburnya kecendikiaan, hingga saat kekalahan

Puisi, pahit di tenggorokan
Cadar, pahit mata memandang
Duh negeriku yang pilu
Cepat nian engkau mengubahku
Dari penulis bait-bait asmara
Jadi penyair yang menulis tetesan luka

Aku malu menyimak puisi
Sendiri. Rasa telah mencekik kata

Tak heran. Kita kalah perang*)
Karena kita membukanya dengan pidato
Gaya Laut Tengah
Yang terlampau gagah
Karena kita memulainya dengan logika
Tambur dan kecapi

Tragedi kita bukan rahasia
Bakat kita bersorak, bukan bertindak
Pedang orang ternyata lebih perkasa dari kata kita

Kita kenakan wajah penuh adab
terpasang
Tragedi telah mencapai ini:
Kita simpan watak penuh debu

Suling dan kecapi
Tidak menjamin kemenangan
Pidato-pidato lantang
Membuat 50.000 kemah

Tidak satu bisa dipersalahkan
Apalagi Tuhan
Dia beri kemenangan pada siapa Dia mau
Dia bukan tukang besi penempa senjatamu
Ngilu daku mendengar warta berita pagi hari
Menyimak gonggong kawanan anjing
Orang Israel bukan merampas perbatasan
Mereka tusuk titik lemah kita
5000 tahun kita hidup dalam kolong
Kita brewok, uang kita tak dikenal
Mata kita dikepung belatung

Sobat:
Dobrak pintu, bersihkan pikiran, cuci pakaian
Sobat:
Baca buku, tulis buku
Tanam surat, delima dan anggur
Pergi berlayar ke tanah salju dan kabut
Karena kau tak dikenal tanpa kolongmu kelam
Engkau memang sebangsa serigala

Kita batu, perasaan tiada
Sukma kita mandul dan papa
Kita hidup antara main catur dan tidur
Adakah kita manusia pilihan?

Minyak kita yang menggenangi padang pasir
Mestinya bisa jadi tombak menyala
Tapi, betapa malu para bangsawan Quraisy
Nizar dan Awsa
Semuanya, sudah terlanjur tumpah
Kita berlarian di jalan raya, mengepit tali
Memanjat tanpa pertimbangan
Memecah kaca dan gembok pintu
Menyanjung-nyanjung cara kodok
Bercarut-marut cara kodok
Si cebol kita jadikan jagoan
Si luhur kita jadikan bajingan
Ya. Kita tidur-tiduran di masjid
Mengarangkan syair, mengulang pepatah
Mengemis kemenangan kepada Tuhan

Jika saja tanpa takut aku bisa menghadap Tuhan
Kukatakan pada-Nya: Paduka
Anjing paduka mengoyak stelan jasku
Spion anda mencintai daku
Dengan mata, hidung dan kaki mereka
Mencucukkan teror sebelit tubuhku
Mereka menginterogasi istriku
Dan mencatat nama sahabat-sahabatku
Paduka: aku panjat dinding angker paduka
Untuk melaporkan nyeri dan duka
Tapi kaki tangan anda menghantamkan sepatu mereka
Dan memaksaku menguyah sandalku
Paduka, tuanku:
Dua kali kamu kalah perang
Karena seperdua rakyat ditindas pikirannya
Dan diamankan dalam perangkap tikus
Bagaimana mungkin, rakyat dibungkam terus?

Bilamana longgar dari teror orang sekitarnya
Dan aku bisa menghadap sultan
Aku akan bilang begini: Paduka
Dua kali anda kalah
perang
Karena paduka lecehkan hak-hak rakyatmu

Persatuan dikubur dalam pasir
Kalau saja tidak kita sendiri mengoyaknya
Kita tidak begini jadi
Umpan mangsa serigala

Kita perlu keturunan baru
Yang melesat ke cakrawala
Menukik ke dalam akar sejarah
Menghunjam
dalam
pemikiran
Generasi dengan ciri baru
Tidak malu mengaku keliru
Tidak suka pura-pura
Kukuh. Luhur

Anak-anak (dari Samudera hingga Teluk)
Kalian tempat menopang harapan
Yang akan mematah belenggu
Menghancur candu
Menggebrak kemacetan
Anak-anak, kalian lugu
Tanpa bintik seperti embun atau salju
Jangan baca sejarah generasi ini
Karena kami orang kalah
Kami cuma kulit semangka
Tanpa arti. Membusuk
Seperti sepatu tua
Jangan baca berita kami
Jangan lacak jejak kami
Jangan terima pikiran kami
Kami generasi sakit, boros, suka menipu
Generasi pemain akrobat
Wahai anak-anak
Kalian gerimis musim semi
Kelopak yang pelahan membuka
Benih subur dalam hidup kami yang mandul
Kalian, yang akan
Menaklukkan kekalahan.

***

*) Maksudnya perang enam hari.

Nizar Tawfiq Qabbani, lahir di ibukota Suriah Damaskus 21 Maret 1923, dari keluarga pedagang kelas menengah. Nizar dibesarkan di Mi’thnah Al-Shahm, salah satu tetangga Damaskus lama. Menempuh pendidikan di Scientific College School nasional di Damaskus, antara tahun 1930 dan 1941. Sekolah tersebut dimiliki dan dijalankan teman ayahnya, Ahmad Munif al-Aidi. Nizar mempelajari hukum di Universitas Damaskus, yang disebut Universitas Suriah sampai 1958, lulus dengan gelar sarjana pada bidang hukum tahun 1945. Ketika masih pelajar, menulis kumpulan puisi berjudul The Brunette Told Me. Sumber puisi di atas diambil dari: Kembang Para Syuhada.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *