PEMBENTUKAN KEPRIBADIAN TERCERAHKAN MELALUI PENDIDIKAN HUMANIORA (2)

: Kepribadian Tercerahkan dalam Dunia yang Berubah

Djoko Saryono *

Kita memang tidak harus menjadi insan cendekia atau cendekiawan sebagaimana dituntut Benda, Gramsci, Dhakidae, dan lain-lain. Tapi, agaknya, kita perlu menarik substansi ciri atau tanda manusia insan cendekia ke dalam diri dan hidup kita. Dengan kata lain, kita perlu membatinkan dan menginternalisasi berbagai ciri atau tanda manusia insan cendekia menjadi kepribadian kita – yang dapat kita sebut kepribadian insan cendekia, yaitu kepribadian yang bercirikan intelek, rasional, berpengetahuan (berilmu), dan imajinatif; kepribadian yang kuat berpikir, bernalar, berangan-angan, dan menggunakan pengetahuan untuk menjalani dan menjaga metabolisme kehidupan yang sehat. Kepribadian insan cendekia ini dapat dan memang penting kita miliki sekarang – apalagi bagi kita yang menjadi kaum terdidik. Mengapa kita memerlukan kepribadian insan cendekia? Karena perkembangan dunia tampaknya memerlukan kemudi kepribadian insan cendekia sekaligus rasional, spiritual, dan imajinatif. Seperti apakah kecenderungan perkembangan dunia yang memerlukan kepribadian insan cendekia yang tangguh?

Sebagaimana kita ketahui, sekarang kita melihat masa depan manusia makin dilanda oleh integrasi dan globalisasi yang makin bertubi-tubi. Anthony Giddens menengarai bahwa globalisasi ini telah membawa dunia dan masa depan manusia berlari kencang tunggang langgang, lepas kendali alias senantiasa mrucut. Manusia di berbagai belahan dunia kini berada dalam runaway world, kata Giddens. Menurut hemat saya, di sini manusia – termasuk kita di Indonesia – akan dihadapkan pada empat kenyataan atau kecenderungan pokok dalam kehidupan sehari-hari mereka, yaitu (a) kecepatan perubahan yang demikian dahsyat dan susah diperkirakan jalan, proses, dan dampaknya [termasuk kecepatan perubahan informasi dan isi pengetahuan], (b) kebaruan segala sesuatu yang berlangsung sedemikian cepat dan kilat [termasuk kebaruan informasi dan isi penge-ahuan], (c) keusangan segala sesuatu yang sedemikian cepat dan kuat [termasuk keusangan informasi dan isi pengetahuan], dan (d) kesesaatan segala sesuatu dalam kehidupan manusia sehari-hari [termasuk keseaatan informasi dan isi pengetahuan]. Kecenderungan ini mendorong tumbuhnya budaya pakai-buang.

Budaya pakai-buang ini merombak kehidupan kita secara mendasar pada masa sekarang, lebih-lebih pada masa depan. Jika memiliki kemampuan dan kepribadian insan cendekia yang tangguh, maka kita dapat mengarungi globalisasi dengan baik dan selamat secara bermartabat Jika tidak memiliki kemampuan dan kepribadian insan cendekia yang tangguh, kata Alvin Toffler, maka kita niscaya terserang gegar budaya dan atau gegar masa depan (future shock). Gegar masa depan ini ditandai gejala awal berupa adanya pelbagai persoalan psikologis atau antropopsikologis yang mendera manusia, misalnya kepanikan, kebingungan, disorientasi, dan sebagainya. Dengan kepribadian insan cendekia dan rasional kita bisa terhindar dari pusaran arus kompleks masalah antropopsikologis atau neurotis tersebut. Kita bisa berdiri tegak dan hidup bermartabat di tengah dunia yang tunggang-langgang.

Berboncengan dengan globalisasi beserta segala eksesnya tersebut kita menyaksikan kapitalisme lanjut berseri-seri merayu-rayu kita – kalau bisa sampai kita terlena. Kapitalisme ekonomi, kapitalisme insan cendekia, dan kapitalisme hiburan merangsek kehidupan kita. Dengan kapitalisme ekonomi keadilan memperoleh sumber-sumber material dinafikan pada satu sisi dan pada sisi lain libido ekonomi kita diumbar sepuasnya (inilah yang disebut libidonomics oleh Baudrillard). Dengan kapitalisme insan cendekia, pengetahuan (ilmu) telah menjadi barang dagangan yang harus dibeli dan kehilangan dimensi kemanusiaan atau kemaslahatan umat sehingga petani harus membeli benih atau kaum miskin tak beroleh manfaat perkembangan bioteknologi. Di pelukan kapitalisme, tiba-tiba pengetahuan (ilmu) berwajah dan bertabiat Franskenstain, Faust, atau Gerandong (Mak Lampir juga boleh). Dengan kapitalisme hiburan, kita menghibur diri sampai mati (istilah Neil Postman); bermacam-macam hiburan (seks, sinetron, film, musik, dan lain-lain) dinikmati terus-menerus.

Pendek kata, dalam tiga varian kapitalisme ini pelbagai sendi kehidupan kita dijadikan modal sehingga menjadi komoditas yang laku dan laris dijual yang mendatangkan kapital. Hutan, tanah lapang, air, karya ilmiah, pemikiran, peperangan, rahasia perkawinan, percekcokan dan kegagalan berumah tangga, riwayat hidup, bagian-bagian vital tubuh kita, pakaian-pakaian bekas para bintang, dan lain-lain dikocok-kocok dan disulap menjadi komoditas – menjadi modal dan uang – oleh kapitalisme sehingga bisa mendatang¬kan kapital. Bahkan agama atau keyakinan juga disulap menjadi komiditas. Dalam konteks seperti ini, kita memilih menjadi partisipan atau pihak yang kritis? Menjadi partisipan mungkin memang enak, tapi boleh jadi kita cuma mengejar mimpi. Kalau hal ini sampai kita pilih, dengarlah dendang Iwan Fals://sampai kapan mimpi-mimpi itu kita beli/sampai habis sampai terjual harga diri//. Kalau kita hendak menjadi pihak yang kritis atas perkembangan kapitalisme, maka kepribadian insan cendekia (rasional, spiritual, dan imajinatif) kita harus tangguh.

Seiring dengan integrasi, globalisasi dan kapitalisme tersebut, kita juga sedang menyaksikan hadirnya abad pengetahuan. Drucker (1999) dan Stewart (1997) telah mencatat bahwa pada masa sekarang dan lebih-lebih pada masa depan keberadaan, kedudukan, dan peranan pengetahuan sangat vital, strategis, dan utama. Masa depan manusia dikendalikan, malah ditentukan oleh pengetahuan sehingga dunia bergantung pada sekaligus berpilar pengetahuan. Pada abad pengetahuan, semua hal bertumpu dan mempersyaratkan pengetahuan: ekonomi berbasis pengetahuan, pemerintahan berbasis pengetahuan, pekerja berpengetahuan, dan masyarakat pun berpengetahuan. Implikasinya, modal pengetahuan menjadi sangat penting, aset paling berharga, dan sekaligus dibutuhkan oleh semua orang selain modal alam dan modal sosial. Tanpa modal pengetahuan, orang akan terpinggirkan dan menjadi pecundang. Dengan modal pengetahuan yang baik dan kuat, orang akan mampu banyak berkiprah dan menjadi pemenang dalam berbagai aktivitas kehidupan. Ini menunjukkan bahwa brainware sangat strategis dibandingkan hardware dan software. Namun, modal pengetahuan saja tak cukup; manusia masih memerlukan ketahanan-kemantapan mental-emosional di samping kecakapan mempraksiskan modal pengetahuan dan ketahanan-kemantapan mental-emosional secara sinergis. Sebagai bagian modal pengetahuan, kepribadian insan cendekia, rasional, spiritual, dan imajinatif tentu saja menjadi sangat penting dan aset sangat berharga. Karena itu, sudah sewajarnya kepribadian intelektual dikembangkan secara sungguh-sungguh.

Selain argumen atau tiga dasar pemikiran tersebut, bermacam-macam argumen lain tentu saja masih dapat ditambahkan untuk menyimpulkan bahwa kepribadian insan cendekia (rasional, spiritual, dan imajinatif) penting dikembangkan. Kita bisa menambahkan argumen pentingnya kepribadian insan cendekia untuk menyelesaikan kompleksitas permasalahan nasional dan lokal di Indonesia. Misalnya, masalah kontradiksi kebudayaan Indonesia atau kesemrawutan cara berpikir sebagaimana terlihat pada berbagai permasalahan sosial, lingkungan, ekonomi, dan politik yang diselesaikan secara ritual dan simbolis (mengganti istilah, melaksanakan ruwatan, melakukan berbagai upacara, dan salaman elite yang disorot kamera teve); bukannya diselesaikan secara rasional dan imajinatif.

Tiga ilustrasi di atas diharapkan sudah cukup untuk meyakinkan kita semua betapa pentingnya mengembangkan (bukan sekadar membentuk!) kepribadian insan cendekia. Persoalannya sekarang, bagaimanakah kita bisa melakukan pengembangan kepribadian insan cendekia sekaligus rasional, spiritual, dan imajinatif? [Lho kok empat? Ya, karena kata Ali bin Abi Thalib dalam 1001 Pintu Ilmu: Filsafat Hidup Pencinta Ilmu: //makrifat itu cahaya hati; ilmu adalah benih makrifat; ilmu itu pelita akal; ilmu itu keindahan yang tidak tersembunyi dan keturunan yang tidak terputus; ilmu itu membantu pikiran//]

Bersambung…


*) Prof. Dr. Djoko Saryono, M.Pd., Guru Besar Jurusan Sastra Indonesia di Fakultas Sastra pada kampus UNM (Universitas Negeri Malang). Telah banyak menghasilkan buku, artikel apresiasi sastra, serta budaya. Dan aktif menjadi pembicara utama di berbagai forum ilmiah kesusatraan tingkat Nasional juga Internasional.

2 Replies to “PEMBENTUKAN KEPRIBADIAN TERCERAHKAN MELALUI PENDIDIKAN HUMANIORA (2)”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *