SECUIL PENGANTAR

Antologi Puisi “Balada-balada Takdir Terlalu Dini”


KRT. Suryanto Sastroatmodjo

“Kegilaan membimbing ke satu kubangan,
tiada tampak namun terasakan,
menggali kubur sendiri digali tanah,
membongkar nenek moyang; tulang belulang patah tak wajar,
berserakan, tumbang ditindih perang. Di mana tak berubah,
menjadi penggali bagi sanak-saudara.”
(Si Gila Menyapamu, XXXVII).

Ada sepercik nada dari rengkuhan-puisi di atas, dimana penyair Nurel Javissyarqi, yang memberikan sebuah renungan. Namun demikian, izinkanlah saya mengumpulkan buah renungan itu sebagai salah satu metafor yang unik: bahwa ada saatnya seorang Anak Manusia “merembug” tentang peristiwa kegilaan hidup atau semacam atmosfer redamnya satu tonggak perlawanan sejarah. Bahwa suatu realita bukan hanya harus dituding atau dihakimi, melainkan juga harus diseberangi, sebagai “et ultima factum;” detik dimana mesti diakui bahwa kesunyataan paling tinggi yang terjumpai adalah segores garisan nasib.

Kita bisa jadi gila tiba-tiba, sementara, atau sepanjang masa. Berapa jauh fakta itu dari elmaut? Penyair Nurel Javissyarqi yang sebelumnya juga memakai nama Nur Laili Rahmat dan Nurla Gautama (nama yang diberikan oleh cerpenis Joni Ariadinata) dalam antologi ini. Lho betapa terkikisnya kehidupan yang tanpa tukang gali kubur, dan tanpa kepedulian tentang tulang belulang yang nyaris jadi debu, sekiranya kita bisa sesekali “menggila” (secara temporer), agar bisa “meng-gali” memori-memori semesta, niscaya lelakon jagad bisa ditentukan menurut garis takdir yang lentur, nisbi, relatif. Soalnya, tatkala manusia menjadi pencetus gagasan-gagasan aktual (masa silam yang dianggap terbaik) maka aku dan diriku seolah-olah bagian dari jenjang gradasi nasib yang terserah kalbu batinku sendiri. Hendak kemanakah langkah kaki?

Takdir Terlalu Dini barangkali impelentasi kegelisahan si penyair yang mencoba mengais-ngais tlatah jelajah maha luas, namun ia bukan memetik bintang-bintang dari langit asing, melainkan cakrawala leluhur, antariksa budaya paling dekat. Terkadang ia harus mencatat betapa kadar “dirinya” kepastian nasib malang, sementara sifat-sifat nasib mujur justru malang melintang ke-Gaib-an.

Akhirul kalam sahabatku budiman silahkan terus menggali kenisbian hayat ini, agar tolak-tarik dan tegangan-tegangan antara Si Gila dan Si Pasrah di dalam jagad nan fana ini bisa menemukan makna. Toh, siapapun “kudu” melayarkan sampan fikir pelita hati.


Yogyakarta, 14 April 2001

http://pustakapujangga.com/2009/09/a-bit-prologue/

One Reply to “SECUIL PENGANTAR”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *