SLI: Sambungan Langsung Indonesia

Arswendo Atmowiloto
suarakarya-online.com

Ini kisah lama yang berbau narsis. Di awal tahun 1980-an, kami berada di Jerman sambil membawa salah satu episode Jendela Rumah Kita, untuk mengikuti festival program televisi sejagat. Kami terdiri-dari saya, dan Dedi Setiadi (sutradara), Sandy Tyas ( produser, TVRI, kini almarhum), serta Dede Yusuf (pemain, kini Wakil Gubernur Jawa Barat).

Setelah berhasil lolos kualifikasi dan masuk 10 besar, kami melaporkan kabar gembira ke Tanah Air. Menghindari interlokal dari hotel yang biayanya mahal, kami lari-lari – dalam pengetian sebenarnya , ke stasiun kereta api bawah tanah. Lumayan mengherankan untuk kami, karena dari telepon umum, cukup dengan memasukkan koin recehan, bisa tersambung ke Indonesia. Meskipun, diomeli panjang pendek: maklum perbedaan waktu, dan penerima lagi asyik tidur.

Kabar gembira yang ingin sesegera mungkin disampaikan, naluri dasar manusia dalam berkomunikasi. Juga, misalnya, kabar duka. Ketergesaan menjadi faktor penting, sehingga untuk media pers menjadi taruhan utama. Namun, dalam keperluan yang menyangkut urusan pribadi pun, hal yang sama dirasakan. Unsur waktu, dan juga biaya menjadi yang utama. Demikian juga ketika anak bungsu saya kuliah di Australia, pengeluaran ekstra untuk pulsa menjadi anggaran tersendiri. Termasuk, direncanakan seperti kebutuhan pokok. Inilah masalah utama ketika masyarakat kita mau tidak mau butuh berkomunikasi.

Saluran Langsung Internasional, SLI, menjadi bagian pokok kebutuhan. Sekarang ini, bisa melalui nomor cantik 001 (mudah diingat), 007 (nomor ala agen rahasia James Bond) dan atau 009 (nomor unggul, karena angka 9 bagai magic number dalam masyarakat kita). Masalah utama bagi masyarakat pengguna adalah: apakah tidak mungkin nomor 00 yang lain. Persoalan pokoknya adalah bagaimana masyarakat bisa lebih nyaman, lebih murah, dan atau tidak merasa mengeluarkan secara berlebihan. Dalam contoh, kami menghindarkan menelepon dari hotel. Barangkali memang tata krama hotel mengharuskan begitu karena kopi yang sama pun harganya bisa berbeda jauh.

Hal ini terlintas ketika lagi-lagi ada wartawan yang mewawancarai, dan meminta pendapat. Bagi saya, sebagai pengguna, makin murah makin menguntungkan. Kemurahan harga atau tarif komunikasi itu makin dimungkinkan jika pemain, pengusaha jasa komunikasi, tidak hanya yang itu-itu saja. Sehingga, terjadi kemungkinan lain, yang pada akhirnya menguntungkan masyarakat. Itu intinya. Keuntungan yang serta-merta terjadi adanya tawaran dan berbagai bonus dalam penggunaannya.

Dengan sedikit bernostalgia, saya kemukakan bahwa menjelang tahun 1990, saya termasuk yang bersikeras bahwa TVRI sebaiknya mempunyai teman sebagai stasiun siar. Beban menjadi the one and only akan terasa berat, di samping model begini hanya terjadi di negeri komunis. Begitulah perkembangan pertelevisian hingga saat ini. Dengan segala minus dan banyak plus, masyarakat pula yang dimenangkan. Paling tidak diberi pilihan lebih banyak, dan paling tidak, leluasa memilih yang mana.

Mekanisme dinamis yang sama barangkali bisa dipakai sebagai pendekatan dalam penyelenggaraan Saluran Langsung Internasional. Bukan karena apa, terutama karena kebutuhan berkomunikasi internasional, makin lama makin luas. Bukan sekadar soal festival, melainkan misalnya saja komunikasi yang terjadi di antara para tenaga kerja wanita, mencapai angka jutaan. Dan, terus bertambah. Padahal, barangkali sepuluh tahun lalu belum terlalu diperhitungkan. Hal yang lebih besar lagi, misalnya, penggunaan internet yang sekarang menyusup jauh di pedalaman, yang bahkan aliran listrik pun baru sebatas dijanjikan.

Demam dan kebutuhan komunikasi secara internasional lebih menggiurkan manakala angkanya mencapai kenaikan 40% per tahun. Pada saat yang sama, angka 00 yang melayani masih yang itu-itu saja. Yang pada titik tertentu bisa kewalahan dan nasibnya mirip TVRI zaman dulu, yang menanggung kesalahan, atau sendirian.

Saya berbicara secara umum dan menyederhanakan persoalan, sebagai mana dulu mengusulkan kemungkinan tv swasta. Bahwa praktiknya tidak sederhana karena menyangkut permodalan, lobi, dan kecerdasan teknologi, adalah konsekuensi yang menyertai dan merupakan keniscayaan. Di sinilah pemerintah menjadi lebih arif dan mempunyai visi ke depan, dan bukan pragmatisme kebutuhan saat ini. Pada saat yang sama, orientasi utama adalah pelayanan ke masyarakat dalam arti seluas-luasnya.

Negeri ini, juga untuk urusan komunikasi, tak bisa dibebankan kepada hanya mereka yang kebetulan tetap memahami lekuk liku. Siapa tahu, ada pendekatan lain, kemungkinan lain yang tak terduga dari kreavitias megacommunications, yang ada. Kalau pun tidak ada juga, kemungkinan itu terbuka.

Kemungkinan yang terbuka dan terus bertambah, bukan lagi berapa juta jam setiap tahunnya akan dihabiskan untuk ini, melainkan mewadahi kebutuhan – untuk tidak memakai istilah pasar yang semata berbau bisnis – selama bertambah. Semakin maju budaya, termasuk ekonomi, termasuk kehidupan sosial, termasuk kegiatan, semakin memerlukan hubungan dengan manca negara.

Akan lebih membanggakan kalau – secara teori – semua ini berada dalam wadah, taruh kata namanya ‘Saluran Internasional Indonesia’. Siapa pun yang mengelola, berapa pun yang memang memenuhi kualitas, turut beperan serta. Kita tidak hanya bicara soal tarif, melainkan rasa arif yang berkeadilan. Kita tak hanya bicara nama pengelola, melainkan kebersamaan dalam bingkai Indonesia. Masalahnya, memang kembali kepada visi pemerintah melihat ke depan, menyadari kekuatan yang ada saat ini, dan membuat rumusan aman lahirnya 00 yang lain.

Ini akan menjadi kisah baru bagi masyarakat pengguna. Kisah yang mengistimewakan mereka dengan harga murah, dan perasaan aman. Ini yang diharapkan pemerintah, juga pengelola, dan terutama masyarakat pengguna yang akhirnya diuntungkan.
***

*) Penulis adalah budayawan dan pengamat komunikasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *