Kemelut Kasta di Ngada


Yohanes Sehandi *
Warta Flobamora (Surabaya), Edisi 87, Th 9, 2021

Pada akhir 2020 terbit novel bagus dalam sastra NTT berjudul Kemelut Kasta karya Aris Woghe. Novel ini diterbitkan Penerbit CV Jejak, Sukabumi, dengan tebal 264 halaman. Aris Woghe lahir di Ngada, Flores, NTT, pada 1986. Menyelesaikan pendidikan dasar di SDI Warikeo dan SDN Sobo, pendidikan menengah di SMP dan SMA Seminari Mataloko, dan pendidikan tinggi di UPN Veteran Surabaya dan UGM Yogyakarta. Kini berkarya di Ngada, Flores, NTT.

Novel ini dibedah secara virtual oleh Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero (STFK Ledalero) pada Sabtu, 13 Februari 2021. Menghadirkan Aris Woghe sebagai penulis novel, Yohanes Sehandi sebagai pengamat dan kritikus sastra NTT dari Universitas Flores, dan Emilianus Yakob Sese Tolo sebagai peneliti dan sosiolog dari STFK Ledalero. Moderator bedah novel Anita Naja, mahasiswa STFK Ledalero. Dihadiri sekitar 250 peserta yang tersebar di seluruh Indonesia.

Novel ini mengangkat tema feodalisme kasta tinggi dalam masyarakat Ngada. Feodalisme ini mengekang kebebasan individu dan menghambat terbentuknya masyarakat yang terbuka, egaliter, dan demokratis. Feodalisme yang dimaksudkan di sini adalah sistem sosial dan budaya yang memberikan kekuasaan besar kepada golongan masyarakat tertentu.

Awal kisah terjadi di Desa Manusolu, sebuah desa kecil di Ngada, sewaktu Simon bertemu dan jatuh cinta pada gadis Maria. Keduanya berpacaran. Kemelut terjadi karena orang tua Maria beserta pemangku adat Desa Manusolu menolak Simon menikahi Maria. Alasannya, Maria anak Pak Lambert dari kasta tinggi, sedangkan Simon anak Pak Tani dari Desa Binti dari kasta rendah. Kemelut semakin runyam, karena Maria dan Simon melarikan diri menjadi TKI di Malaysia.

Sebagai pemangku kepentingan tradisi kasta tinggi, Pak Lambert sudah mengingatkan anaknya Maria, agar jangan berpacaran dengan Simon anak miskin dari kasta rendah. Dengan tegas ia mengingatkan Maria: “Kamu perempuan, ahli waris keluarga sekaligus penerus keturunan. Sekali darahmu bercampur dengan darah pria yang tidak sederajat, ternoda oleh karena cinta buta, rusaklah generasi kita. Di pundakmu, martabat keluarga dipertaruhkan” (halaman 10).

Tentu saja, Maria menolak sikap feodalisme kedua orang tuanya. Bukan sekali dua Maria menentang sikap feodalisme itu. Namun, tidak mampu meredakan sikap arogansi Pak Lambert kepada Maria: “Diam, anak durhaka!” bentak bapaknya memotong Maria. “Dari mana kamu belajar pandangan sesat seperti itu? Sekali lagi kamu bicara sembarang, saya sumbat mulut kamu yang lancang dan kurang ajar. Bapak hanya ingin mempertahankan kemurnian keturunan kita. Apa kamu mau kehilangan kehormatan hanya gara-gara mempertahankan cinta butamu itu?” (halaman 44-45).

Kepada anak mantunya Simon, Pak Lambert, tidak pernah kendor mengumpat harubiru dan serampangan: “Dasar biadab, miskin dan tidak tahu adat. Mau lari sampai ke mana! Suatu saat akan berhadapan juga dengan saya. Jangan panggil saya Lambert, bila parang ini tak menebas leher dan mengakhiri kebiadabanmu,” katanya sambil mengacungkan parang tinggi-tinggi (halaman 188).

Klimaks novel ini terjadi pada waktu Maria diusir dari Desa Manusolu lewat upacara adat pengusiran yang berlangsung di ngadhu atau rumah adat. Antiklimaks terjadi pada waktu Pak Lambert menjemput anak mantunya Simon untuk kembali ke Desa Manusolu, agar hidup bersama istri, anak, dan keluarga besar. Seluruh rangkaian alur novel ini dibangun dengan bagus dengan alur cerita yang menarik, menggetarkan, dan di bebarapa bagian penuh kejutan.

Seperti kata pepatah, sebiadab apapun seseorang, yang namanya manusia, tetap mempunyai hati nurani. Itu yang terjadi pada diri Pak Pak Lambert pada waktu usianya sudah senja dan sakit-sakitan. Raut wajah penyesalan, tersirat di balik keriput wajah tuanya. Kepada Simon ia meminta: “Pulanglah ke Manusolu. Setiap jam, setiap menit dan setiap detik, Maria merindukan kehadiranmu. Kembalilah ke rumah kalian berdua dan berbahagialah hingga malaikat maut datang menjemput. Jangan kamu ragu. Buang semua prasangka buruk, karena saya ingin kita terlahir sebagai manusia baru” (halaman 261).


Tinjauan kritis saya terhadap novel ini, dari segi nama para tokoh dan ciri khas bahasa yang mereka gunakan. Semua nama tokoh dalam novel ini tidak membumi. Nama mereka adalah nama santu dan santa dalam agama Katolik. Tidak ada satu pun nama tokoh yang menunjukkan mereka orang Ngada, misalnya Bagho, Watu, Dhiu, Bhebe, Mogo, Lako, Djawanai. Untuk panggilan sehari-hari, boleh pakai nama santu dan santa, seperti Simon, Maria, Lambert, Vero, Teresa, Anton, dan lain-lain, tetapi sesekali harus disebutkan juga nama lengkapnya sebagai orang Ngada. Dari segi nama, terkesan novel ini tidak membumi, tidak kontekstual, padahal berlatar Ngada.

Penggunaan bahasa Indonesia para tokoh juga tidak menunjukkan logat berbahasa orang Ngada. Dialog-dialog para tokoh menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Tidak ditemukan sekalipun bahasa daerah Ngada dipakai para tokoh. Mama Teresa dan Mama Vero yang tidak sekolah saja, bahasanya cukup bagus. Mestinya, bahasa setiap tokoh dalam dialog-dialog yang dibangun novelis harus menunjukkan kekhasan dan latar belakang pendidikan, sosial, ekonomi, budaya setiap tokoh. Dalam novel ini, terkesan bahasa para tokoh sama saja dengan bahasa penulis novel, kurang menunjukkan ciri khas cara berbahasa orang Ngada.

Unsur gaya bahasa atau seni berbahasa dalam novel ini digarap penulis dengan bagus. Penulis dengan piawai melukiskan suasana batin (psikologis) para tokoh yang sedang bergejolak dengan pelukisan suasana alam dan lingkungan yang mendukung. Misalnya, kalau ada tokoh yang sedang dilanda asmara, alam dan lingkungan sekeliling ikut riang gembira. Sebaliknya, kalau ada tokoh yang sedang dirundung malang, alam dan lingkungan juga ikut berduka.


Novelis, Pembicara, dan Moderator Bedah Novel, 13 Februari 2021
***

*) Yohanes Sehandi, Pengamat dan Kritikus Sastra NTT dari Universitas Flores, Ende.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *