Kepada Wajah-Wajah Cemas Kita


Judul buku: Wajah Cemas Abu Nuwas
Penulis: Hairus Salim HS
Penerbit: Tanda Baca
Cetakan I: 2021
Tebal: x + 214 halaman
Peresensi: Bernando J. Sujibto
Jawa Pos, 25 April 2021

Topik-topik yang menjadi bahan renungan dalam buku ini menunjukkan jelajah dan keluasan bacaan, juga ”ziarah” yang mendalam, dari seorang Hairus Salim.

DI sebuah kafe di Jogjakarta, ada lingkaran diskusi membahas buku terbaru karya Hairus Salim berjudul Wajah Cemas Abu Nuwas. Ini sebentuk bedah buku yang menarik; penerbit dan penulis meminta dan mengundang secara khusus beberapa orang membaca serta mendiskusikannya secara intens dan mendalam. Saya termasuk satu di antara mereka yang diminta untuk membahas buku tersebut.

Buku ini, yang merupakan kumpulan esai yang terbit di majalah Gong tahun 2004–2010, menjadi tonggak bagi Salim untuk menegaskan posisi dirinya sebagai esais yang layak dibaca. Dia mencari bentuk penulisan esai dari intelektual dan penulis-penulis terdahulu; berada di antara Mahbub Djunaidi, Gus Dur, Goenawan Mohamad, Mohamad Sobary, dan Ignas Kleden untuk menyebutkan beberapa.

Topik-topik yang menjadi bahan renungan dalam buku ini menunjukkan jelajah dan keluasan bacaan, juga ”ziarah” yang mendalam, dari seorang Salim. Esai-esainya membentang dari tema filsafat, ilmu sosial, politik, agama, hukum, sastra, hingga ke dunia kesenian.

Di ranah ilmu sosial, Salim mencatut nama-nama seperti Weber, Giddens, Ried, Anderson, Geertz, Goffman, dan lainnya. Keberhasilan Salim adalah tidak terjebak pada hasrat pamer konsep dan istilah baru, tetapi dia menerobos ke dalam dan merenunginya dengan tautan konteks yang pas.

Mendiskusikan sebuah buku, bagi saya, setidaknya harus memberlakukan dua disiplin. Pertama adalah aspek-aspek struktur dari tulisan itu sendiri –bisa dibilang hal ihwal teknis-kreatif seperti bagaimana judul ditulis, diksi dipilih, kalimat disusun, paragraf diproduksi, dan tentu saja hal-hal teknis lain terkait dengan penulisan. Bagaimanapun, teroka ini sangat penting diberlakukan dalam membaca buku sehingga kualitas struktur tulisan bisa diselami dan didadarkan dengan diskusi dan perdebatan-perdebatan. Karena jalan ini menjadi prasyarat sebelum kita mendiskusikan konsep, teori, dan wawasan yang ditawarkan penulis.

Tetapi sayangnya, aspek ini, entah kenapa, cukup jarang disentuh secara saksama dan mendalam sehingga kekayaan dan eksplorasi terhadap ”bahasa” cenderung diabaikan. Padahal, sekali lagi, ini kunci untuk melihat distingsi sebuah karya tulis.

Orang-orang cenderung terjebak pada aspek kedua, yaitu membicarakan konsep, wacana, atau bahkan ideologi. Bagi pembaca buku (yang malas), aspek ini tentu faktor paling menarik untuk mendiskusikan sebuah buku. Kita cukup mengerti sedikit saja tentang sebuah konsep, misalnya dalam buku ini tentang toleransi (halaman 22), melting pot (halaman 30), dan dramaturgi (halaman 134), lalu berbicara setandas-tandasnya.

Hal ini terbukti, misalnya, dengan satu klaim dari peserta diskusi bahwa tulisan-tulisan Hairus tidak ada Mahbub sama sekali karena tidak memakai asosiasi-asosiasi. Padahal, dalam buku ini bentuk asosiasi dan bahkan personifikasi bisa ditemukan, misalnya ”Sufisme, terlebih yang terkait dengan al-Hallaj, bukanlah sepotong pizza yang gampang dikunyah” (halaman 48).

Andai saja kita memasuki buku ini dari langkah pertama, sebuah panorama bahasa dan belantara estetika dalam sebuah tulisan bisa dinikmati secara lebih kompleks dan komprehensif. Sejak pada judul buku saja, Wajah Cemas Abu Nuwas, yang merupakan judul tiga esai Wajah (hal), Cemas (hal), dan Abu Nuwas (hal), terbaca bagaimana usaha menghadirkan rima diksi terasa kuat. Apalagi sampai membaca keseluruhan esai, tentang wajah metafor, kecemasan manusia modern, dan Abu Nuwas sebagai simbol, sudah tak terelakkan kita bisa menangkap keutuhan struktur buku ini.

Selain itu, untuk menilai bagaimana Salim mempertimbangkan sebuah kalimat pembuka (dan penutup) dalam esai-esainya, silakan tengok pembukaan ”Mengingat Voltaire adalah di antaranya mengingat Jean Calas. Dan mengenang dua nama ini dalam satu napas adalah menyadari bahwa sikap toleransi, menegang, dan menghormati orang yang berbeda tidaklah datang secara serta-merta, tetapi melalui perjuangan, pengalaman, dan juga air mata (halaman 22). Atau, kalimat penutup ”Akhirnya, Israel Zangwil hanya perlu kita ingat kembali di sini untuk pada saat yang sama, tampaknya perlu segera kita lupakan” (halaman 33).

Keteledoran teknis tentu saja menjadi momok yang selalu ingin diperangi dalam dunia kepenulisan (penulis, editor, dan penebit), tetapi ia tetap saja bisa terjadi, misalnya di halaman 39–41. Salim hendak menjabarkan efek globalisasi ke dalam tiga bagian, tapi ternyata esai ini hanya menuliskannya satu: mondialisasi. Efek kedua dan ketiga tidak ditemukan.

Satu lagi. Ada satu statement yang sudah saya sampaikan ketika mendiskusikan buku ini, yaitu ketika Salim membahas tulisan Voltaire tentang tragedi Jean Calas yang dihukum mati karena, salah satunya, ”dijerat dengan undang-undang anti-Protestan” (halaman 24), yang secara konteks semestinya ”anti-Katolik”.

Semua yang saya kemukakan di atas adalah pendekatan yang pertama, pada struktur tulisan itu sendiri. Tetapi, jika mau masuk ke konsep dan wacana tentu semakin tidak terbatas. Bisa saya tunjukkan untuk membuka perdebatan, yang sekaligus bisa diklaim sebagai keterbatasan esai pendek, adalah ketika Salim menulis tentang ”cemas” dan kecemasan masyarakat dengan merefleksikan tentang kata ”risiko”.

Sampai di sini saya membayangkan Salim akan menyebutkan risk society (Risikogesellschaft) dan nama Ulrich Beck. Tetapi, Salim hanya menyebut Giddens sebagai refleksi pembacaan teoretis terhadap istilah itu. Padahal, jika mau lebih tepat dan berdisiplin akademis, nama Beck justru lebih memiliki otoritas dalam konsep yang sama.

Di luar semua itu, saya mengapresiasi buku ini sebagai pelengkap rak buku esai di Indonesia, yang bisa disejajarkan dengan para pendekar esai. Dan kita berharap Hairus Salim terus menulis.
***

*) BERNANDO J. SUJIBTO, Alumnus PP Annuqayah Sumenep dan staf pengajar Prodi Sosiologi Fishum UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *