Kisah Mimpi Anak-anak dalam Ingin Bertemu Peri

Musa Ismail *
Riau Pos, 6 Jan 2013

Ulam Kata

Sastra merupakan seni tanpa batas. Semua cakupannya mampu melampaui segala aspek kehidupan, baik ditinjau dari unsur intrinsik maupun unsur ekstrinsiknya. Karena itu, tak berlebihan jika saya mengatakan bahwa sastra ibarat induk seni. Tak salah juga kalau Taufik Ikram Jamil menegaskan bahwa sastra merupakan rajawali seni. Melalui sastra, semua orang bisa mengeksplorasi kehidupan yang mampu mengungkapkan etika, logika dan estetika. Eksplorasi ini juga tak terbatas, termasuk di dunia anak-anak.

Dalam hal ini, sastra memberi ruang khusus terhadap dunia anak-anak. Secara psikologis, anak-anak bukanlah bentuk mini dari manusia dewasa. Dunia mereka merupakan dunia yang dipenuhi imajinasi murni. Melalui sastra juga, anak-anak akan berproses mengembangkan imajinasinya sehingga jadi lebih matang, berprikemanusiaan dan berkebudayaan yang ranggi. Anak-anak yang imajinasinya bisa dikembangkan melalui sastra akan membentuk karakter budaya yang kuat. Dalam hal ini, menurut saya, pendidikan karakter sebaiknya didasari dengan karya sastra.

Menurut Wahidin, sastra anak adalah sastra yang secara khusus bisa dipahami oleh anak-anak dan berisi tentang dunia yang akrab dengan anak-anak yang berusia antara 6 hingga 13 tahun. Namun, Wahidin memberi batasan—yang tak sepantasnya menurut saya—yaitu sifat sastra anak adalah imajinasi semata. Menurut saya, sifat imajinasi anak-anak justru menjadi dasar suatu fakta secara psikologia, sesuai dengan karakteristik dunia mereka. Pendapat Tarigan, sastra anak adalah sastra yang mencerminkan perasaan dan pengalaman anak-anak masa kini yang dapat dilihat dan dipahami melalui mata anak-anak. Sementara itu, Lynch-Brown dan Tomlinson mengatakan, sastra anak adalah buku bacaan yang baik, diperuntukkan pada anak sejak lahir sampai remaja, mencakup topik-topik yang relevan dan menarik bagi anak melalui prosa dan puisi, fiksi dan nonfiksi.

Sebagian orang berpendapat, sastra anak kurang dapat perhatian khusus, terutama dalam hal pemberian penghargaan. Apalagi jika penulisnya adalah anak-anak. Fenomena ini merupakan kekeliruan fatal jika dikaitkan dengan pembentukan tradisi tulis di negara kita. Cikal bakal penulisan anak-anak sudah seharusnya mendapat tempat khusus dalam apresiasi seni. Dalam ulam kata ini, kita berharap ada lembaga khusus yang peduli untuk memberi penghargaan terhadap penulis cilik dan penulis cerita anak-anak umumnya.

Kisah Mimpi Anak-Anak

Saya yakin, kita tak pernah mengenal Wiska Adelia Putri. Dara kecil ini lahir di Tanjungpinang, Kepulauan Riau (Kepri), 8 Maret 2002. Ananda pasangan Maswito dan Kartina ini, kecil-kecil punya karya cerpen anak-anak. Sungguh luar biasa karena Wiska sudah punya kumpulan cerpen perdananya bertajuk Ingin Bertemu Peri (IBP) di usia sembilan tahun. Karyanya ini terdiri atas 14 cerita anak yang diterbitkan Framepublishing (Jogjakarta, 2011). Untuk tradisi tulis di Riau dan Kepri, Wiska patut mendapat perhatian karena negeri Melayu ini sangat langka dengan penulis cilik. Bahkan, cerita yang ditulisnya sudah diterbitkan Media Indonesia.

Dari 14 cerita anak yang terangkum dalam IBP, terdapat 4 cerita yang terlahir dari dunia fantasi Wiska, itupun tak fantasi murni, yaitu ‘’Impian Ibu Pina’’, ‘’Ingin Bertemu Peri’’, ‘’My Dream’’, ‘’Barbie Bisa Bisa Bicara’’ dan ‘’Pohon Ajaib’’. Di dalam fantasinya, Wiska masih mampu bermain dengan imajinasi dan kenyataan sehari-hari. Dengan bahasa khas anak-anak, Wiska justru mampu memunculkan jiwa anak-anak bagi pembaca yang bukan berstatus anak-anak lagi.

Ide-ide yang dituangkan dalam 14 kisah tersebut mengandung nilai-nilai luhur kemanusiaan. Secara telaah konten, ada beberapa nilai yang ingin disampaikan Wiska (meski dia tak secara sadar ingin menyampaikan pesan tersebut). Pertama, nilai kekompakan atau persatuan dan saling memaafkan. Nilai ini dapat kita temukan dalam kisah ‘’One Heart’’. Kedua, keikhlasan dan tidak sombong, terkandung dalam kisah ‘’Impian Ibu Pina’’. Ketiga, di dalam kisah Pizza Hut (menurut saya, ide yang menarik), terkandung nilai menabung dan menjaga jatidiri. Keempat, nilai-nilai religius terdapat dalam kisah ‘’Puasa’’, ‘’Hari Raya’’ dan ‘’Pelukan Doa’’. Kelima, nilai-nilai giat berusaha, saling menolong dan mencintai lingkungan terdapat dalam kisah ‘’Sepeda Baru’’, ‘’Pohon Ajaib’’ dan ‘’Kakak Beradik yang Suka Membantu’’.

Seperti pada umumnya, cerita anak-anak identik dengan dongeng atau cerita rakyat (folklore). Namun, tak demikian halnya dengan kisah-kisah yang dituangkan Wiska dalam IBP. Wiska boleh dikatakan berhasil menepis anggapan bahwa cerita anak hanya fantasi, tanpa mengeksplorasi kenyataan hidup sehari-hari. Ide-ide yang dituangkan Wiska justru lebih realistis-imajinatif dan sangat dekat dengan kehidupan anak-anak. Imajinasi-imajinasi Wiska juga tak kalah liar, segar dan provokatif dalam tulisannya. Wiska juga telah membuktikan bahwa imajinasi itu sangat penting. Tentang imajinasi, Albert Einstein mengatakan, imajinasi jauh lebih penting daripada pengetahuan. Pengetahuan hanya terbatas pada apa yangkita tahu dan mengerti, sedangkan imajinasi mencakup seluruh dunia, termasuk untuk yang diperlukan untuk tahu dan dimengerti.

Kendatipun di sana sini masih terdapat kekurangan dalam kisah yang ditulisnya, tetapi Wiska telah menunjukkan kecerdasan linguistik. Kelemahan-kelemahan yang bisa diperbaiki untuk masa mendatang, yaitu peramuan konflik. Wiska perlu latihan yang banyak untuk membangun konflik-konflik dalam kisah-kisah yang ditulisnya. Apalagi saat ini, Wiska sedang menulis novel. “Baru dua bab,” kata Bundanya. Semoga Wiska menjadi penerus penulis masa depan bumi Melayu.
***

*) Musa Ismail, Sastrawan Riau yang telah menghasilkan banyak karya. Karya-karyanya telah pula dimuat di berbagai media massa. Musa juga meraih beberapa penghargaan bergengsi dalam bidang budaya dan sastra. Kini tercatat sebagai guru SMAN 3 Bengkalis dan bermastautin di Kota Bengkalis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *