Memperingati Haul Sultan Hasanuddin ke 351 (II)

Sultan Hasanuddin (12 Januari 1631 – 12 Juni 1670)


Husni Hamisi

Apakah kau pernah kehilangan? Apakah kehilangan itu? Bagiku, kehilangan adalah sepoci air yang kau rampas dari kedalaman samudra rindu, lantas kau tuangkan ke mataku menjadikan danau.”

Saat Sultan Hasanuddin diusia muda, baginda menimba ilmu agama; syariat, thoriqat dan hakekat dari para tokoh ulama yang telah disebutkan pada catatan sebelumnya. Dan patut diketahui, umur baginda hanya berjarak 5 tahun lebih muda dari Syekh Yusuf, anak angkat kakek beliau, Sultan Alauddin. Jika tidak keliru, baginda sepantaran Abdul Hamid Karaeng Karunrung, anak dari Karaeng Patingalloang, yang kelak mendampingi beliau dan berperan signifikan tanpa kenal menyerah; melawan garis politik monopoli dagang imprealisme VOC Belanda, sewaktu baginda bertahta sebagai Somba ri Gowa pula sewaktu beliau telah berpulang ke rahmatullah.

Menurut hemat kami, meskipun tidak diceritakan secara rinci, atau karena belum mendengar maupun membaca sumber dari lontara yang sebagian belum dipublikasikan – ketiga tokoh ini, memiliki peran besar yang tercatat di lembar sejarah, yang telah saling mengenal betul satu sama lain sejak usia belia, sebab mereka hidup dan bergaul di lingkungan istana, juga menimba ilmu dari guru yang sama pula.

Dalam ilmu politik pemerintahan, baginda dibimbing baik secara teori maupun menunjukkan praktek langsung oleh ayahanda, khususnya paman baginda sendiri ilmuwan besar Karaeng Patingalloang, anak tercerdas dari Sultan Abdullah Karaeng Matowayya Sultan Tallo. Karaeng Patingalloanglah yang kelak menjadi Mangkubumi, mendampingi ayah baginda ketika berkedudukan Sultan Gowa-Tallo.
***

Tahun 1639 M., tepat di usia 8 tahun, kakek baginda yakni Sultan Alauddin Tumenanga ri agama’na berpulang ke rahmatullah. Ayah baginda diangkat jadi Raja Gowa ke 15 di tahun yang sama, setelah sebelumnya bertitah “Saya tidak akan mau menjadi Raja Gowa, kecuali saudaraku I Magadacinna Daeng Sitaba Karaeng Patingalloang berkenan menemaniku sebagai Pabicarabutta / Mangkubumi Kerajaan Gowa –Tallo”.

Kenapa kisah ini ada? Disebabkan tahun dimana baginda Malikussaid diangkat menjadi Somba ri Gowa, yang menjadi Raja di Tallo adalah Karaeng Kanjilo Sultan Muzaffar, yang menggantikan ayahnya -memilih turun tahta sebagai Raja Tallo tahun 1923 M.

Sultan Abdullah awalul islam menghabiskan 13 tahun sisa umurnya sebagai dai’ dan tokoh sentral; tempat para bangsawan lintas kerajaan datang berkeluh kesah, menimba ilmu demi mendapati nasehat dalam kehidupan duniawi maupun ukhrawi, itulah mengapa lebih dikenal sebagai Karaeng Matowayya atau raja yang dituakan, tidak lebih lantaran kedalam ilmu agama yang dimiliki, dan kebijaksanaan pula keistiqamahan di dalam amal sholeh. Beliau berpulang ke rahmatullah tahun 1636 M., 3 tahun sebelum Sultan Alauddin mangkat. Karaeng Matowayya, adalah anugrah dari-Nya yang tak ternilai memberkah.

Sultan Muzaffar Raja Tallo ini kakak kandung Karaeng Patingalloang sendiri. Maka jika sahabat yang budiman dapat menyempatkan waktu berziarah ke pemakaman raja-raja Tallo, makam Sultan Muzaffar termasuk yang dikeramatkan, beliau Raja Tallo yang menyebarkan ajaran islam ke Bima, Sumbawa dan wilayah timor. Makam beliau berdampingan dengan makam I Yandulu Karaeng Senrijala, di depan makam ini, terdapat mata air sumur segar nan jernih yang telah ada sejak ratusan tahun silam. Dulu sebelum dipagari besi, kami bersama beberapa sahabat berziarah di malam hari, kadang menyempatkan mandi di sumur tua itu.
***

Pola kebijakan ini rupanya berlanjut, semasa baginda Sultan Hasanuddin naik tahta, Pabicarra butta / Mangkubuminya yang beliau usulkan adalah Abdul Hamid Karaeng Karunrung, anak dari Karaeng Patingalloang. Sekalipun ada kisah tersendiri, dimana posisi Mangkubumi Kerajaan Gowa – Tallo berpindah tangan ke Karaeng Sumanna, kemudian kembali lagi ke Karaeng Karunrung, yang Mulia Karaeng Karunrung dan Karaeng Sumanna tidak pernah diangkat menjadi Raja Tallo, karena Raja Tallo di jaman Sultan Hasanuddin adalah Sultan Harun Arrasyid, anak dari Karaeng Kanjilo Sultan Muzaffar, yang dilantik setelah Karaeng Patingalloang Raja Tallo berpulang ke rahmatullah.

Kebijakan ini, barangkali diambil atas kompleksnya persoalan yang dihadapi kerajaan Gowa-Tallo semasa Sultan Hasanuddin bertahta.
***

Saat baginda Sultan Hasanuddin berusia 13 tahun, kejadian yang patut dicatat adalah kakak seperguruan baginda, Syekh Yusuf yang berumur 18 tahun mulai merantau memperdalam ilmu sekaligus melakukan ibadah haji ke tanah suci, atas petunjuk para guru beliau; Dato ri Pagentungan, Maulana Sayyid al Aidid ri Cikoang, juga Sayyid Ba’alawi ri Bontoala.

Di tahun yang sama dari umur baginda, Karaeng Patingalloang mengangkat anak sekaligus murid pangeran dari Kerajaan Bone, cucu Puatta Sultan Adam La tenri Rua, Raja Bone pertama yang masuk islam atas tangan ayahnya Karaeng Matowayya. Pangeran berusia 11 tahun yang gagah dan cerdas ini, beliau beri nama Daeng Serang. Yang kelak disaat bertahta, kita kenal bernama Puatta Arung Palakka.

Kedatangan La tenri Tatta Daeng Serang muda beserta orangtuanya ke Gowa juga kita ketahui latarbelakangnya; setelah Kerajaan Gowa bersama sekutunya Wajo dan Soppeng, dua kali menang dalam peperangan dari Kerajaan Bone, yang rajanya saat itu Puatta La Maderemmeng.

Perang inipun tercipta atas permintaan sebagian bangsawan Soppeng dan Bone, khususnya ibunda raja dari Puatta Lamaderemmeng sendiri, sebab anaknya yang berkuasa di Bone adalah seorang visioner dan “garcep / kalau bisa sekarang, kenapa harus nanti!” Baginda ingin langsung menghapus perbudakan di Kerajaan Bone; semua yang bekerja harus mendapatkan upah setimpal, pula menggerus budaya dan kepercayaan lama. Inilah sebuah terobosan ijtihad visioner, sebab di zajirah Arab Saudi saja, tempat turunnya wahyu bisa bebas dari perbudakan sepenuhnya baru di awal abad 20.

Sultan Malikussaid Somba ri Gowa menulis surat yang isinya tak ingin mencampuri ini jika kebijakan demi kebesaran agama-Nya, tetapi akhirnya baginda memutuskan turun ke gelanggang perang, setelah Bone mulai memaksakan ijtihad ini dengan menyerang Wajo, yang menyebabkan beberapa bangsawan Wajo terbunuh dimasa Puatta La Maderemmeng.

[Maka terjadilah apa yang telah menjadi takdir Allah Swt. Andaikan waktu mengalir itu berupa benang layang-layang, telah kita gunting saja kejadian yang tidak diinginkan terjadi, dan menggantikan dengan kejadian yang diharapkan]
***

Bersambung…

3 Replies to “Memperingati Haul Sultan Hasanuddin ke 351 (II)”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *