Pecinta Meminta -Mantera Orang Gila

Fajar Alayubi

aku tidak mengenal rupa pecinta kecuali di matanya tumbuh bunga. aku tidak tahu di mana cinta hingga seseorang jatuh mengaduh di depanku:
“hatiku sedang gelisah, dan pikiranku ada di tepinya. aku terus menunggu waktu tetapi selalu bertemu malu”
wajahnya pasrah sebait cerita, hatinya berkias bak pujangga, jemarinya sungguh tak berdaya.
“petikan cintaku dengan ragu, seolah daun sehelai dawai, agar ia tahu aku seorang bisu tertahan rindu.”
baginya, aku seorang majnun yang sakti, pengembala hujan bertongkat pelangi, biduk seterang bilangan, pengundi kesenangan bagi orang malang dan yang sialan, penyerbuk kembang dengan hayalan, pemecah pualam dengan gurindam, penyembuh luka dengan mentera.
“kemalangan ini terus kuperam, karena perkataanku tak semanis endapan. demi cinta, tampakanlah nasibku ke permukaan demi pujaan.”
tetapi masa telah dipenuhi orang gila, dan nasib kerap tertukar. tidakkah ia tahu–lebih baik sebagai pecinta yang bisu daripada orang yang gila?
“demi cinta, aku menunjukmu sebagai pembela, hakim yang bijaksana. engkaulah pengelana angkasa, pesirah sahara juga sabana, penyelam laut terdalam, perangkai manikam terulung, penyendiri paling sejati, penyejuk paling murni.”
betapa, penderitaan cinta bisa memaksa–seakan belati memutus nadi.
demi kebebasanku, oh tuan pemburu pujaan; aku akan membagi dua perasaan–sebelum bayanganmu ke puncak semara, karena kalimat tak layak terpenggal di tengah rasa.
“demi gairahku, kubebaskan dirimu bersama lembaran waktu. aku akan membisu di dalam mantera seribu kata.”
teruntukmu: setiap malam yang peram–meski cinta telah sesak sedalam relung. setengah bulan tanpa lelah bagaikan karang yang terbelah. pertemuan cinta mengandung rahasia bagaikan gerhana. engkaulah lautanku yang berderu–merasuki dadaku.
kisah dahulu sebagai lagu sendu. sesungguhnya irama bukanlah kata-kata. menarilah duhai bungaku–meski hampa udara.
biarlah biar–raga tanpa laku, sebagaimana aku tidak ragu meski tetap malu: istanaku hanya dari debu–bukan abu dari kayu.
tamanku hanyalah lalu-lalang. kubiarkan cinta selalu berjalan tanpa saksi. mawar ini tumbuh meski tak kudekati.
demi cinta, aku tak dapat memetik segala yang ada–pun meski cinta kulepas paksa.
engkaulah edelweis yang menari dalam kelembutan kabutku. dan ini adalah perbukitan cinta yang kurapal. oh betapa curamnya itu sebagai saksi.
tetaplah dirimu dalam persembunyianku, karena para pendaki suka mencari harga diri. sungguh aku tidak takut mati kecuali karenamu.
perhiasaan dariku hanyalah pengorbanan. jagalah keselamatanmu demi dirimu–bukan demi cinta serta aku.
manakala aku tiada, itu sebab dari mentari. betapa perjumpaan dengan cinta selalu kutahan. betapa perpisahan dengannya amat menawan.
seperti jemariku dengan pena, tinta sebagai cahaya. betapa malam terasa olehku lebih lama.
gemintang sebagai barisan kata; seandainya mataku dapat menangkap seluruhnya, yang terangkai lebih dari selembar. ini hanyalah lagu dari cinta, bukan syair semestanya.
“malam ini aku berada di pucuknya, seperti mimpi segera kulayangkan.”
oh tuan, sesungguhnya tiada mantera untuk cinta, meski mimpimu selembut udara.
“bukankah syair itu rayuan, sedangkan perasaan wanita itu seibarat kapas?”
oh tuan, engkau telah berprangka sebagai orang gila, sebagaimana aku menyangka kekasihmu sebagai bunga.

2021

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *