Sastrawan Betawi: Pemilik Rumah atau Kuli Bangunan?

Chairil Gibran Ramadhan *
Riau Pos, 2 Des 2012

Sekitar tahun 1994, sepulang dari belajar fotografi di Prancis, Yudhi Soerjoatmodjo mengadakan pameran esai foto bertajuk ‘’Paris Metro’’ di Galeri Cipta Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Jakarta (waktu itu belum ada Galeri Cipta I dan Galeri Cipta II). Wartawan Majalah Tempo ini kemudian diajak bergabung oleh pihak Institut Kesenian Jakarta untuk membagi ilmu ‘esai foto’ yang saat itu baru dikenal di Indonesia. Yudhi diakui banyak pihak membawa gaya baru dalam komposisi fotografi. Ironisnya, murid-muridnya di Jurusan Fotografi FFTV (Fakultas Film dan Televisi) -serta Galeri Jurnalistik Antara- kemudian menjadikan Yudhi sebagai kiblat dalam komposisi esai foto. Karya mereka pun tak lagi beridentitas lantaran telah mengimitasi mentah-mentah komposisi khas Yudhi.

Sempit Sebatas Kulit

Kasus mengimitasi seperti di atas bukan kali pertama terjadi. Dalam berbagai bidang terjadi pula kasus serupa. Namun memang yang paling banyak terjadi ada di dunia seni. Sekadar menyebut contoh yang sempat mengemuka adalah gaya membaca puisi Rendra yang dimaknai sebagai kiblat, hingga seakan jadi satu-satunya gaya dalam membaca puisi. Tengok pula apa yang terjadi dalam dunia penulisan cerita Betawi.

Setelah kepergiannya akibat stroke, Firman Muntaco adalah kiblat. Karya dan profilnya selalu menjadi acuan ketika orang bicara tentang cerita Betawi dan penulis berdarah Betawi. Seakan bila ada karya yang tak seperti karyanya maka dianggap bukan cerita Betawi dan penulis Betawi pastilah hanya Firman Muntaco. Selama puluhan tahun ia dikenal sebagai maestro cerita humor Betawi, yang keberadaaannya diakui bahkan Paus Sastra Indonesia, HB Jassin. Sketsa-sketsanya di rubrik ‘’Tjermin Djakarte’’ (kemudian jadi ‘’Gambang Djakarte’’) di harian Berita Minggu antara akhir 1950-an hingga pertengahan 1960-an pun, terlepas dari alasan bisnis yang melatarinya atau semata ingin mendokumentasikan supaya tak berserakan, dibukukan dalam Gambang Djakarte I (Suluh Indonesia, 1960) dan Gambang Djakarte II (Pantjaka, 1963).

Ia juga kerap menulis cerita silat dengan latar Betawi yang dipublikasikan secara bersambung di berbagai media cetak nasional dan hingga awal tahun 1990-an sketsa-sketsa khasnya masih tampil di berbagai media cetak nasional dengan beragam nama rubrik, di antaranya ‘’Gambang Betawi’’ (suratkabar Berita Minggu). ‘’Sketsa Betawi’’ (suratkabar Buana Minggu) atau ‘’Cerita Betawi’’ (suratkabar Suara Pembaruan). Hingga kini gaya itu dijadikan kiblat oleh banyak orang bagi penulisan cerita humor Betawi. Firman Muntaco, utamanya, diuntungkan lantaran muncul lebih dulu dan ada media yang memberinya ruangan khusus.

Pada lomba (tentu saja seharusnya dinamakan sayembara) penulisan cerita Betawi yang diadakan sebuah lembaga kesenian pada Mei 2010 misalnya, pihak panitia sayembara dalam siaran pers yang dikeluarkan menyantumkan persyaratan bahwa karya yang dikirim ‘’haruslah bahasa Betawi dan bukan bahasa Indonesia yang dibetawikan’’. Ini, jelas, ‘’sangat Firman Muntaco’’, mengingat bila kita menilik karya-karya SM Ardan dalam kumpulan cerpen Terang Bulan Terang di Kali, ia hanya menggunakan bahasa Betawi pada bagian dialognya sedang bagian naratifnya menggunakan bahasa Indonesia.

Dengan persyaratan tadi, tujuan panitia sayembara memang nyaris tercapai: Karya-karya yang datang menggunakan bahasa Betawi dan bukan bahasa Indonesia yang dibetawikan (dikatakan ‘nyaris’, karena faktanya, banyak juga dan masih banyak yang menggunakan bahasa Indonesia yang dibetawikan, yakni dengan memberi prefiks nasal dan sufiks-in, seperti: Ngedatengin, milikin, ngebenihin, ngusahain, dilakuin, dilahirin, diberiin dan disembunyiin. Padahal seharusnya: Maranin, munyain, ngebibitin, ngelakonin (atau ngejabanin), diberanakin (atau diperocotin), dikasiin dan diumpetin. Dan secara isi, roh serta atmosfir Betawi dalam latar kejelasan antropologis, sosiologis dan psikologis, sama sekali tak tertangkap bahkan belum terlihat.

Dengan kata lain, karya-karya yang datang dan akhirnya terpilih ‘’terasa masih jauh panggang dari api’’ untuk patut disebut sebagai sebuah cerita, utamanya cerita Betawi (kesampingkan dahulu kategori cerpen atau sketsanya). Sebab alangkah dangkalnya jika kita memaknai bahwa cerita Betawi sekadar ‘’sudah menggunakan bahasa Betawi’’ atau ‘’bukan bahasa Indonesia yang dibetawikan’’. Sama dangkalnya jika kita memaknai bahwa fiksi islami semata memuat kata alhamdulillah, subhanallah dan tokohnya mengenakan jilbab atau berjenggot, ditambah atribut-atribut khas Islam lainnya.

Jika cerita Betawi dimaknai secara sempit dan hanya sebatas kulit seperti ini, boleh jadi dunia cerita Betawi terus mengalami kemandekan atau hanya berjalan di tempat.

Manusia Imitasi

Kemestian mengimitasi Firman Muntaco jelas memasung kreatifitas dan menyesatkan. Dikhawatirkan, seseorang akan takut menghasilkan karya yang berbeda. Terlebih jika memiliki keinginan kuat untuk disebut sebagai Sastrawan Betawi -dengan Firman Muntaco sebagai kiblatnya. Padahal semasa hidupnya, sangat pasti (atau mungkin), Firman Muntaco tak ingin dijiplak gaya menulisnya.

Begitu pula mendiang Rendra. Begitu pula Yudhi Soerjoatmodjo. Sudah saatnya bayang-bayang Firman Muntaco dilepaskan. Biarlah ia menjadi ‘ayah’ dari sebuah ‘keluarga besar’ dan generasi sesudahnya adalah ‘anak-anak’ yang merdeka: Berkreasi dan berpikir. Tanpa melupakan prestasi yang telah dicapainya dan jasanya dalam mengenalkan Bahasa Betawi ke tingkat nasional, kita harus membuka pikiran dan wawasan bahwa selain Firman Muntaco masih ada nama-nama lain, seperti Sapirin Bin Usman al-Fadli, Muhammad Bakir, Ahmad Beramka, Abdullah bin Muhammad al-Misri, Ahmad Insab, Ahmed Mujarrab, Oom Piet, Tio Ie Soei, Kwee Kek Beng, M. Balfas, Zaidin Wahab, dan N. Susy Aminah Aziz. Dan haramkah bila seseorang membuat gaya baru dalam penulisan cerita Betawi?

Seorang penulis harusnya kreatif dan menolak kemestian yang berujung pada tindakan mengimitasi gaya penulis yang pernah ada. Jika kemestian itu terjadi dalam koridor tema, tentu sangat dapat diterimanamanya saja sayembara. Namun jika sudah menyangkut cara bertutur atau gaya penulisan, dan itu artinya berkaitan erat dengan kreatifitas, ini sungguh sangat mengkhawatirkan lantaran merupakan pembodohan yang nyata. Sebuah lomba melukis dengan kiblat karya Affandi, sebuah lomba khutbah dengan kiblat gaya KH Zainuddin Mz, dan sebuah lomba menulis cerpen dengan kiblat gaya Firman Muntaco, tentu hanya akan menghasilkan tiruan-tiruan Affandi, KH Zainuddin MZ dan Firman Muntaco. Tidak mungkin tidak!

Mateng Pu’un

Menilik asal katanya, author, penulis adalah orang yang memiliki kewenangan, otoritas. Ia bukan kuli bangunan yang membuat rumah semata menuruti pesanan orang ingin memiliki rumah. Ia adalah pemilik rumah itu sendiri. Bentuk dan warna cat tembok rumah itu, adalah otoritas dirinya sepenuhnya. Maka kita harus menyambut hangat munculnya para penulis berdarah Betawi yang memiliki kewenangan pada dirinya sendiri lalu membawa gaya berbeda dalam sastra Betawi yang tak berkiblat pada gaya Firman Muntaco yang menggunakan bahasa Betawi dan berhumor-humor atau siapapun.

Simak Catatan Seorang Pejalan dari Hadrami (Zeffry Alkatiri, Komunitas Bambu, 2004); Rumah Kawin (Zen Hae, Katakita, 2004); atau Sebelas Colen di Malam Lebaran (CGR, Masup Jakarta, 2008). Karya pernah disebut seseorang sebagai mateng puun alias bukan karbitan, dengan roh dan atmosfir Betawi dalam latar kejelasan antropologis, sosiologis dan psikologis yang kuat meski tak sepenuhnya menggunakan bahasa Betawi dan berhumor-humor. Karya mereka sangat serius, terkadang surealis dan menyentuh wilayah-wilayah mitos, folklor, sejarah, budaya, bahkan politik. Lantas apakah karya mereka tidak pantas disebut sebagai sastra Betawi dan mereka pun tak layak disebut sebagai sastrawan Betawi?

Dalam esai ‘’Anak Betawi Sebagai Sastrawan’’, peneliti sejarah dan sastra JJ Rizal menyebut mereka adalah kabar menggembirakan jika membicarakan masa depan dan percaturan anak Betawi sebagai sastrawan. Generasi baru yang telah mengambil estafet dengan caranya sendiri-sendiri dari sastrawan Betawi terdahulu, seperti SM Ardan dan Firman Muntaco, namun dengan sikap dasar dan tempat berangkat yang sama, yaitu masa lalu, tradisi, dan kampung halaman sendiri. ‘’1 Rizal tentu tidak asal menulis. Ia telah meneliti karya-karya mereka dengan baiksesuai kapasitas dirinya. Ia pun tahu karya Zeffry Alkatiri, Dari Batavia Sampai Jakarta 1619-1999: Peristiwa Sejarah dan Kebudayaan Betawi-Jakarta dalam Sajak (Indonesia Tera, 2001), menjadi pemenang pertama Anugerah Buku Puisi Terbaik Dewan Kesenian Jakarta tahun 2001; Zen Hae begitu berbeda memandang dan menuangkan Betawi; dan Chairil Gibran Ramadhan, oleh Ahmadun Y Herfanda ketika masih menjadi redaktur sastra Republika pernah diduduksejajarkan dengan Danarto (Islam-Kejawen), Korrie Layun Rampan (Dayak), Kuntowijoyo (Jawa) dan Taufik Ikram Jamil (Melayu-Riau), sebagai ‘penulis yang membuat karya-karya bernuansa lokal dengan nilai-nilai budaya etniknya serta sebelumnya dalam buku Leksikon Sastra Jakarta (DKJ dan Bentang Budaya, 2003), dengan kekhasan pada cerpen-cerpen bernuansa Betawi.

Namun jika pada faktanya Zeffry Alkatiri, Zen Hae dan CGR juga menulis karya-karya yang tak bernuansa Betawi, tentu hanya lantaran ada ide-ide yang tak cocok dituangkan dalam nuansa Betawi. Jadi bukan lantaran kurang setia pada jalur Betawiyang oleh siaran pers lembaga kesenian Betawi di atas pada sayembara penulisan cerita Betawi yang mereka adakan dikatakan sebagai ‘kurang istiqomah berada dalam jalur sastra Betawi’ dan karya-karyanya ‘terasa masih jauh panggang dari api’.

Dan sesungguhnya, justru di sinilah terlihat kematangan mereka dalam berkarya. Sebab jika hanya ingin disebut sebagai sastrawan Betawi lantas menulis karya yang dipaksakan menjadi Betawi padahal secara tema dan isi tidak tepat -dengan sepenuhnya berbahasa Betawi atau berhumor-humor -alangkah konyol dan bodohnya ketiga orang ini.

Sebagai pengarang, mereka telah menunjukkan kesejatiannya sebagai pemilik rumah: Menentukan sendiri bentuk dan warna cat tembok rumahnya, lantaran itu adalah otoritas dirinya secara penuh. Mereka bukan kuli bangunan. Dan soal ketiadaan media yang khusus berbahasa Betawi atau setidaknya ada media nasional yang menyediakan ruangminimal setengah halamanyang memberi ruang untuk cerita berbahasa Betawi, tentulah patut menjadi pertimbangan agar sastrawan-sastrawan Betawi tidak dikatakan ‘tidak setia’.

Ini pelurusan, mungkin pula akan dikatakan sebagai pembelaan. Kehadiran mereka sejak dekade tahun 1990-an hingga hari ini, terutama setelah lewatnya masa Firman Muntaco dan SM Ardan, sesungguhnya hanya meneruskan nama-nama lain yang muncul jauh lebih awal untuk membangun sebuah pondasi di masa silam namun nyatanya kini malah banyak dilupakan orangselain turut meninggikan tembok bangunan berjulukan kaum intelektual Betawi. Siape bilang anak Betawi nggak berbudaye?
***

Tabe!
Malam, Pondok Pinang.

*) Chairil Gibran Ramadhan, Cerpennya tampil di media nasional dan buku bersama The Lontar Foundation: Menagerie 5 (ed. Laora Arkeman, 2003) dan I Am Woman (ed. John H. McGlynn, 2011), serta Perempuan di Kamar Sebelah: Indonesia, Woman, and Violence (Kompas Gramedia, 2012, antologi tunggal). Cerpennya dalam nuansa Betawi tampil di: Sebelas Colen di Malam Lebaran (Masup Jakarta, 2008, buku tunggal), Ujung Laut Pulau Marwah (buku bersama TSI III, Tanjungpinang, 2010), Si Murai dan Orang Gila (buku bersama DKJ, 2010) dan Ibu Kota Keberaksaraan (buku bersama JILFest II, 2011). Kini mengelola Penerbit Padasan dan Stamboel: Journal of Betawi Socio-Cultural Studies.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *