“Soliloque” Percakapan Dengan Diri Sendiri


Amien Kamil *

To be Or not to be
That it’s the question.
Hamlet – Willliam Shakespeare

Tempat Kejadian Perkara (TKP) itu letaknya menjorok sedikit lebih jauh ke utara dari area tersibuk kota Berlin; Prenzlauer Berg Strasse. Sebuah tempat yang menarik untuk melepas kepenatan hidup dan kontemplasi di malam hari, tepatnya di sekitar stasiun U-Bahn; Eberswalder Straße. Barangkali karena kecintaan sekaligus kekagumannya kepada Dramawan Irlandia Samuel Beckett; peraih hadiah Nobel 1969 yang terkenal dengan karyanya “Waiting For Godot”, maka Bar itu oleh pemiliknya; Olivert Ebert & Christina Neves diberi nama : “Becketts Kopf” (Kepala Beckett). Mereka bilang tujuan Bar “Beckett Koft” (Kepala Beckett), tempat itu adalah ; “Untuk menyempurnakan indra!”

Indra, yang terangsang oleh cairan memikat,
akan menjadi sehalus sayap kupu-kupu.
Kaupun siap untuk terbang bersama mereka.

Tiada neon sign ataupun papan nama, namun pabila kau lihat ada wajah Samuel Becket yang keriput dan bercahaya oleh sinar lampu di jendela sekitar jalan Prenzlauer Berg Strasse, itu adalah tanda bahwa Bar tersebut “open/buka/offnen”. Kau hanya harus membunyikan bel pintu untuk berkunjung masuk. (meskipun kau tak dengar ada suara, hanya lampu merah redup yang akan terpancar di dalam bar menandai kehadiranmu dimuka pintu). Kau hanya perlu menunggu beberapa menit sebelum pintu dibuka oleh waiters.

Memasuki Bar “Becketts Kopf” terpancar suasana yang tenang, temaram lampu-lampu gantung menambah indah suasana. Malam itu, kunjungan aku untuk yang kesekian kalinya. Aku pilih ruang yang diijinkan untuk merokok. Seorang waiter wanita berambut blonde bermata biru menghampiri meja, tersenyum ramah, mengucap salam dan memberikan daftar menu cocktail.

Aku baca sekilas dan tertarik untuk coba salah satu rasa dari daftar menu tersebut lantas memesan “Forrest Coctail”, itupun setelah baca deskripsi formula rasanya yang bernada puitis sekaligus menggambarkan cocktail tersebut yang dibilang merupakan “Tradisi minuman abad pertengahan. Dimana berhembus uap aroma dari tetesan wisky di atas lumut. Daun keemasan berjatuhan di atas daun yang lembab, terhampar gerumbulan kilau rumput hutan dan deretan pohon cemara yang berbau wangi rosemary”.

Tak beberapa lama “Forrest Cocktail” itupun tersaji di atas meja. Tegukan pertama langsung terasa dan imajinasiku langsung melayang jauh, terbang bersama kupu-kupu. Hahaha… wawancara imajiner antara side A dan side B berlangsung pada tegukan kedua tepat ketika DJ mengganti music irama Afro-American jazz dengan music house Perancis.

Amien : Bung, mungkinkah bisa menulis puisi, cerpen atau novel bila tanpa alat tulis?!
Kamil : Haha, Boleh jadi kalau orang awam serta kebanyakan orang akan bilang, persis seperti apa yang pernah diucapkan oleh Asmuni, pelawak Srimulat berkumis Hitler yang bilang “Ooooo… itu sungguh hil hil yang mustahal!” sama dengan bahwa itu adalah sesuatu yang gaib alias mustahil hil hil bin musykil alias mendekati syirik.

Sssstttt, yang bisa dibilang dan masuk katagori ‘memancing tak pakai umpan’ hanyalah memancing kerusuhan. Biasanya Korlap alias Koordinator Lapangan akan menyediakan mobil ambulance, kemudian mengisinya dengan batu-batu dan tak lupa pula ia juga akan menyiapkan segepok amplop serta dana yang dialokasikan untuk sejumlah nasi bungkus.

Bisa hubungi PT Demo via WA or telpon, kasih jadwal dan bila sudah deal, transfer uang yang disepakati dan pada jadwalnya tinggal monitor di TKP. Rendevous-nya bisa kumpul di depan Istana, Bawaslu, DPR/MPR atau …. Bila amplop sudah dibagikan bukan mustahil dalam hitungan menit akan langsung terjadi bentrokan antara massa bayaran dan petugas keamanan. Lantas dari desas desus bisa dikarang sebuah cerita yang tak perlu mesin ketik atau personal computer ataupun laptop ataupun benda-benda tulis lainnya. Cukup dibisikkan atau diucapkan di warung kopi, lantas bisa saja cerita itu menyebar seperti hama wereng dan epidemic penyakit.

Menulis dan alat tulis adalah dua hal yang berbeda namun punya hubungan intim tanpa harus disahkan oleh penghulu dan KUA. Lantas dengan perkembangan teknologi alat tulis dan dunia penulisan itu menjadi berkembang begitu pesat. Tak pernah terpikir pada jaman Poejangga Baroe sebelumnya, bila sastrawan bisa menulis scenario, novel, cerpen ataupun Einsten menulis tesis ilmiah dan Romeo merayu Juliet atau tokoh-tokoh kelontong lainnya hanya mempergunakan Ipad atau handphone yang didalamnya ada aplikasi untuk menulis dengan format yang cukup canggih.

Ssstttt, jauh sebelum teknologi android muncul, dikisahkan dalam Alkitab saat Nabi Musa AS berada di puncak Gunung Sinai, ia menerima 2 Loh Batu yang berisi “The Ten Commandement” (Sepuluh Perintah Tuhan), ada juga yang menyebut kedua batu itu “Loh As-Syahadat” yang menurut mitos purba kabarnya ditulis langsung dengan jari Allah.

Aku menatap lekat mata lelaki berambut dread-lock yang ada didepanku, lantas melanjutkan ucapanku.

Bahkan Pithecantrothropus Erectus; manusia pada jaman purba, ketika Dinosaurus dan Mastodon masih berkeliaran di alam bebas rimba belantara ataupun bermukim dalam goa maupun sering tergelincir dari terjalnya tebing gunung, mereka pun juga telah menuliskan kesaksian melalui sejumlah artefak sekaligus tanda-tanda misteri alam semesta di dinding dinding goa dengan tanpa alat tulis populer yang dikenal saat ini dan dideskripsikan sebagai alat tulis.

Marques De Sade melukai jari tangannya untuk mendapat darah segar, lantas menuliskan imajinasinya yang liar dan kontraversial diatas kain seprai ataupun tembok saat ia di penjara. Hal itu ia lakukan setelah segala pena bulu (quils) ataupun kertasnya disita karena ia tak lagi mematuhi peraturan sipir penjara dan rambu gereja untuk bersikap sesuai norma dan tak lagi menuliskan stensilan novel porno yang amoral dan mengungkapkan kebobrokan gereja dengan perilaku asusila.

Begitupun Pramoedya Ananta Toer saat ia berstatus tahanan politik dan di penjara, di Pulau Buru. Konon, sebelumnya ia hanya menceritakan kisah Minke dan Nya Antosoroh itu pada tahanan politik lainnya sebelum akhirnya mendapat mesin ketik, kertas dan karbon untuk menuliskan Trilogi Pulau Buru : Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa & Rumah Kaca.

Kita pun juga tahu, sebelum ada sastra tulis dalam masyarakat adat di Nusantara, dikenal Sastra Tutur/Oral/Lisan yang diwariskan dari generasi ke generasi sebelum akhirnya diguriskan dalam lontar dan didalam perkembangannya kemudian melesat lantas disalin menjadi digital.

Amien : Bung, apa seseorang bisa menulis bila tak bisa membaca?
Kamil : Dalam antologi puisi “Catastrophe 1965 ; Elegi Untuk Pramoedya Ananta Toer”, aku pernah menorehkan pena untuk menulis sebuah metafora yang berbunyi “Tubuhmu memiliki ribuan daun telinga untuk membaca jutaan milyard tanda-tanda”

Aku menghirup udara, merenung sejanak dan menyalakan rokok kretek, lantas mereguk coctail kembali sebelum akhirnya melanjutkan ucapanku. Sementara waktu beranjak perlahan, ditingkah music yang berganti irama.

Perlu kau tahu, menulis dan membaca, juga berbicara adalah hal hal yang berbeda serta membutuhkan keahlian tersendiri. Walau tak dapat dipungkiri bila kau tak bisa baca, bagaimana bisa menuliskan gagasan yang terbersit di pikiranmu serta melukiskan imaji untuk mendeskripsikan apa yang dibayangkan dan dirasakan untuk mengungkapkan keindahan ataupun pengalaman puitis yang tak sembarang orang bisa melihat lapisan panorama dan fenomena itu. Penyair melukis dengan kata kata, pelukis menggoreskan peristiwa dengan warna juga garis serta kombinasi komposisi dan bukankah sebuah photo puitik dan bersejarah juga bisa mengungkapkan lebih epic dan heroic dari ribuan kata kata. Walau kita tahu, hanya orang orang terpilih yang dikarunia anugerah untuk membaca cuaca serta mempunyai mata batin indra keenam yang terlatih untuk mendeskripsikan sejumlah kejadian di masa depan dengan presisi yang hampir sebagian tepat untuk meramalkan apa yang bakal terjadi di masa depan seperti halnya dengan orang pilihan yang memperoleh wangsit dan memang waskita.

Contohnya Empu Jayabaya dan Ki Nostradamus ataupun Eyang Jules Verne pengarang komik Science Fiction yang berkisah tentang angkasa luar, piring terbang ataupun makhluk Alien.

Terdengar sayup-sayup menyeruak dari loudspeaker di pojok Bar “Beckett Kopf” bait-bait syair lagu “Another Brick In The Wall” dari group band psychedelic rock dan progressive rock asal Inggris “Pink Floyd ;

“We don’t need no education. We don’t need no thought control.
No dark sarcasm in the classroom. Teacher, leave them kids alone.
Hey, Teacher, leave them kids alone.” ………….

Amien : Bung, Apa semua tulisan harus selalu bisa dibaca?
Kamil : O, Tidak setiap tulisan bisa dibaca setiap orang dan tidak setiap orang bisa membaca tulisan. Tulisan stenografi, morse, partitur, resep dokter, kitab arab gundul, sangsekerta, rajah, isim dan banyak lagi contoh lainnya hanya orang tertentu yang bisa membacanya.

Amien : Bung, Apa kau bisa menulis saat tidur?
Kamil : O, Tidak. Saat sedang tidur, aku coba istirah dari lelah nan penat dan hidup yang pekat. Namun seringkali juga aku mengharapkan datangnya impian dan itu sering aku jadikan pedoman untuk menafsirkan begitu banyak kejadian ataupun introspeksi untuk menata diri kembali. Sering juga banyak kejadian dalam mimpi bagai tamsil ataupun wangsit, hal itu aku jadikan rangsangan atau landasan dari sejumlah tulisan. Samuel Beckett pernah bilang “Takhayul adalah kebutuhan untuk melihat dunia dalam hal sebab dan akibat yang sederhana.”

Seorang lelaki paruh baya mengenakan jaket hitam pudar warnanya menghampiri meja, tersenyum, mengganggukkan kepala lantas berkata dengan bahasa jerman yang tak bisa kupahami, namun dari gerak tangan dan ekspresi wajahnya aku tahu bahwa ia ingin meminta rokokku yang ada di atas meja. Mungkin ia menghirup aroma rokok kretek yang kuhisap dan ingin juga merasakan sensasinya. Kuberikan sebatang dan menyalakan, ia mengucapkan “danke” ssambil tersenyum dan kembali berlalu ketempatnya.

Amien : Boleh aku tahu, apa ada cara agar tak bisa menulis?
Kamil : Caranya adalah kau harus terlebih dahulu percaya akan reinkarnasi, lantas bila kau bisa reinkarnasi dan kemudian lahir kembali ke dunia sebagai binatang ataupun sayuran. Bila tetap lahir sebagai manusia, kutuklah dirimu agar tak punya panca indra ataupun langsung lahir kembali menjadi Malin Kundang yang dikutuk Ibunya menjadi batu!

Lelaki yang seperti bayangan ataupun cermin didepanku sedikit tersentak kaget, alis matanya terangkat sebelum kembali ia melanjutkan pertanyaannya.

Amien : Apa betul bahwa buta huruf itu tak bisa baca dan melihat?
Kamil : Buta huruf itu tetap melihat, tapi tak bisa membaca. Perlu diketahui, buta huruf yang paling parah adalah bisa melihat dan membaca, tapi tak pernah membaca buku apapun dan dalam beberapa bulan tak pernah membaca novel, cerita pendek ataupun buku puisi dan ia tak pernah sekalipun membeli buku-buku sastra.

Amien : Apa hilang ingatan bisa membunuh setiap orang ataupun seniman?
Kamil : Tidak! Selain penyakit akut ataupun penyakit yang belum ditemukan vaksinnya yang sering membunuh orang adalah patah hati. Patah hati bisa jadi sumber inspirasi tapi juga bisa menyebabkan banyak seniman kehilangan gairah hidup dan bisa juga membunuh para seniman ataupun penulis, hingga ia hilang ingatan dan bisa menyebabkannya masuk rumah sakit jiwa!

Amien : Apakah betul angka-angka bisa menggantikan tulisan?
Kamil : Dalam situasi khusus, bisa! Kode kode rahasia dalam intelejen atau nomor kode buntut diciptakan untuk menggantikan tulisan , agar tak bisa dibaca oleh siapapun yang tak diinginkan. Numerologi ataupun angka-angka dalam kitab suci merumuskan suatu pengertian yang bisa dijabarkan melalui tulisan oleh orang-orang yang telah khatam dan mempunyai pengetahuan tentang hakekat tasawuf ataupun orang orang pilihan dari setiap keyakinan kepercayaan iman agama manapun.

Amien : Apa setiap tulisan sastra pasti diterima di Surga dan ditolak di Neraka?
Kamil : Hahaha, pertanyaan aneh dan sudah pasti saya tak bisa menjawabnya karena saya belum pernah sekedipan mata sekalipun berkunjung ke Surga atau Neraka. Tapi bila kau mendesakku menjawab, aku akan coba jawab. Boleh jadi, mungkin tulisan-tulisan sastrawi dari jaman sebelum Renaisance dari berbagai kebudayaan dunia cukup layak untuk menjadi bacaan di Surga, juga karya-karya masterpiece yang memperoleh Nobel, Pulitzer ataupun bahkan …. Hatsyiiii (tersedak) maaf…. Bahkan yang memperoleh penghargaan sastra dari Dewan Kesenian Jakarta ataupun karya sastra yang memperoleh Khatulistiwa Literary Award akan diterima di Surga sebagai bacaan hiburan yang menyenangkan.

Sedang di Neraka, seluruh tulisan sebagus apapun dari karya masterpiece pujangga abad ke berapapun sudah pasti akan hangus terbakar langsung jadi abu, baru ketika pada saat pengiriman sampai di gerbang Neraka. Lagipula tulisan terbaik apapun tak dibutuhkan karena hampir seluruh penghuni Neraka sebelum kena azab Allah SWT, di dunia sudah buta mata dan hatinya.

Sambil mengucapkan itu, matanya terpejam, istiqfar dan berdoa.
Suasana hening sejenak, hanya terdengar lamat-lamat suara percakapan ditingkah suara tawa dari pengunjung yang menempati meja seberang tempatku.

Amien : Apa setiap tulisan memiliki kehidupan setelah kematian?
Kamil : Setiap tulisan itu mempunyai kehidupan ganda dan dianugerahi hidup abadi, bahkan ia juga bisa punya sayap untuk bisa melewati ruang dan waktu melampaui ruang waktu penciptanya. Karyanya akan bisa menjadi universal dan melampaui jaman serta melampaui ruang waktu.

Malam telah makin larut. Beberapa waiter pria tampak membalikkan kursi keatas meja, sementara waiter wanita membereskan gelas yang telah kosong dan pemiliknya telah meninggalkan tempat itu.

Amien : Bung, apa menulis bisa menyebabkan encok dan jerawatan ?!
Kamil : Lho, bukan hanya itu! Encok dan Jerawatan hanya menjangkiti penulis pemula. Bila kaliber Maestro biasanya bisa menyebabkan Depresi, Spilis, Schizophrenia, TBC, Ambeien, percobaan bunuh diri dan bahkan ada juga yang menembakkan pistol ke kepalanya sendiri. Ernest Hemingway, salah satunya dan boleh jadi setelahnya adalah aku! Hahahaha……

Lelaki didepanku terkejut, matanya sedikit terbelalak. Ia coba menenangkan diri dengan meneguk minuman di hadapannya. Sementara aku tersenyum dalam hati dan merasa puas bisa membuatnya sedikit terhenyak.

Amien : Apa betul menulis itu enak ?
Kamil : Heuheuii …. Karena aku bukan koki apalagi gemar mengisi teka teki silang maka pertanyaan itu seharusnya diajukan pada penggemar makanan tradisional, pecinta klepon, putu mayang, gandasturi ataupun bakpia ataupun pelahap makanan cepat saji ataupun host wisata kuliner yang wajahnya selalu berminyak dan kelihatan dari matanya ia mengidap penyakit cacing pita.

Untukku, menulis itu adalah sesuatu yang menyenangkan dan melegakan. Sebuah upaya untuk keluar dan melarikan diri. Kabur dari segala rutinitas basi dan kaku yang seringkali tak perlu, penuh basa basi dan seringkali hal tersebut membuang waktu. Aku rasa bila aktivitas menulis itu tidak segera dikerjakan bukan hanya persendian dan sekujur urat tubuh kaku dan pikiran beku, namun juga imajinasiku menjadi tumpul dan macet bagai onderdil kurang dirawat ataupun diolesi minyak, berkarat.

Aku percaya dan yakin, menulis adalah juga sebuah terapi yang begitu melegakan sekaligus menyehatkan. Dengan menulis, aku bisa melupakan segala apapun yang pernah membuatku sakit hati dan putus asa. Kadang aku sering bertanya pada diriku sendiri “Bagaimana bisa seseorang yang tak pernah menulis atau tak pernah melukis ataupun tak pernah sekalipun bernyanyi atau bermain music dapat mengatur dirinya untuk tetap sehat dan bugar, bukan hanya fisik namun juga jiwa serta pikirannya. Bagaimana mungkin, ia bisa menenangkan dirinya dari penatnya problematic kehidupan atau stress akut berkepanjangan akibat tanggung jawab rumah tangga atau tekanan tanpa henti pekerjaan di kantor yang lantas menyebabkannya jadi hilang control atau menjadi melankoli, galau maupun panik serta sering dihinggapi ketakutan yang berlebihan. Bagaimana bisa?!”

Saat menyelesaikan kalimat terakhirnya, lelaki yang ada didepanku terlihat sedikit geram, volume suaranya sedikit meninggi, tangannya mengepal dan dari tatapan matanya serta nada suaranya ia seperti ingin menggugat sesuatu. Namun bisa jadi ia berpikir apa lagi yang hendak diutarakannya bila terlalu banyak orang yang lebih percaya dengan gincu daripada percaya dengan akal sehat. Sementara yang membela peradaban semakin tersudut dan termarjinalkan serta para pejuang seperti itu semakin sedikit jumlahnya. Sedikit saja, karena begitu banyak tantangan yang menantinya!

Beberapa lampu di pojok ruangan Bar “Becketts Kopf” telah lama padam. Beberapa waiters telah ganti pakaian, menjinjing tas dan bersiap-siap hendak pulang. Aku menghela nafas, bangkit dari kursi sejenak menoleh ke sekeliling ruangan dan beranjak melangkah ke pintu keluar.

Jalanan Prenzlauer Berg di depan Bar “Becketts Kopf” telah lengang, hanya ada beberapa pejalan kaki yang tampak santai menyusuri trotoar. Seorang homeless dengan misai tak beraturan berjalan gontai dengan botol bir di tangan.

Berlin, Karl Marx Strasse, 2011 – 2021.

Nukilan “Kitab Suci Para Pemberontak”, Bab 9 “Soliloque”, Mata Angin Publisher, 2021.
Notes, yang berminat untuk memiliki bukunya, sudah bisa kirim kabar ke messenger/inbox, Mazbro & Sista. Thanks bretsky! Salam dari Distrik Puisi, Kepulauan Kata, Republik Bahasa.

*) Amien Kamil, lahir di Jakarta 1963. Tahun 1983, sempat belajar di Sinematografi Institut Kesenian Jakarta. Tahun 1986-1996, bergabung dengan Bengkel Teater Rendra, terlibat dalam beberapa pementasan di kota-kota besar di Indonesia. Tahun 1988, ikut serta dalam “The First New York International Festival Of The Arts”, sempat juga mengikuti workshop di “Bread & Puppets Theatre” di Vermont, USA. Tahun 1990, pentas di Tokyo & Hiroshima, Japan. Tahun 1999, Tour Musik Iwan Fals di Seoul, Korea. Lighting Design untuk konser musik Iwan Fals hingga tahun 2002, pentas di seluruh kota-kota besar di Indonesia. Tahun 2003-2005, kolaborasi dengan penyair Jerman Brigitte Oleschinski. Pentas multimedia di Berlin, Koln, Bremen dan Hamburg. Selain itu juga memberikan workshop teater di Universitas Hamburg, Leipzig dan Passau. Mengikuti International Literature Festival “Letras Del Mundo” di Tamaulipas-Tampico, Mexico.
Tahun 2006, Sutradara “Out Of The Sea”, Slavomir Mrozek, Republic of Performing Arts, Teater Utan kayu, Jakarta. Tahun 2007, Antologi puisi “Tamsil Tubuh Terbelah” terbit dan masuk dalam 10 besar buku puisi terbaik Khatulistiwa Literary Award 2007. Tahun 2008, Poetry Performing “Tamsil Tubuh terbelah”, kolaborasi dengan Iwan Fals, Oppie Andaresta, Irawan Karseno, Toto Tewel, Njagong Percusion, Republic of Performing Arts, di Teater Studio, Taman Ismail Marzuki. Tahun 2009, Pameran lukisan & Instalasi “World Without Word” di Newseum Café. Tahun 2010, Sutradara Performing Arts “Elemental”, kolaborasi dengan pelukis mancanegara, Jakarta International School. Tahun 2011, Sutradara “Sie Djin Koei”, Republic of Performing Arts, Mall Ciputra, Jakarta. Di bulan April, Sutradara & Perancang Topeng “Macbeth”, William Shakespeare, Produksi Road Teater, Gedung Kesenian Jakarta. Mei-Juni, Kunjungan Budaya ke Denmark, Germany dan Norway. Juli, Mengikuti “ International Culture Dance Festival 2011” Sidi Bel Abbes, Algier, North Africa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *