Tradisi Sebagai Sampiran

Teddi Muhtadin *
Pikiran Rakyat, 26 Juli 2009

Saya ingin memahami sisindiran (pantun dalam bahasa Indonesia) sebagai suatu proses kreatif berkebudayaan, sebagai penghargaan kepada tradisi, dan sebagai penghormatan terhadap tafsir. Sisindiran, sebagaimana kita ketahui, adalah salah satu bentuk puisi lisan yang terdiri atas dua bagian, yaitu cangkang (sampiran) dan eusi (isi). Sampiran, umumnya, merupakan permainan bahasa yang memikat, sedangkan isi merupakan pesan yang hendak disampaikan.

Sutardji Calzoum Bachri pernah menulis tentang pantun dengan cara yang memikat. Baginya, tak ada hubungan makna antara sampiran dan isi, selain kedekatan bunyi. Model sampiran dan isi ini kemudian ia gunakan untuk memahami realitas perpuisian Indonesia yang memiliki dua kecenderungan, yakni kecenderungan kepada sampiran dan kecenderungan kepada isi.

Dalam kehidupan masyarakat Sunda dan Indonesia, sisindiran sangat akrab dan menjadi salah satu jenis sastra lisan yang populer. Bentuk sisindiran sangat fleksibel karena dapat digunakan sebagai kritik sosial atau sekadar olok-olok. Banyak hal bisa dijadikan sampiran, dan dibuatkan isinya, atau dipelesetkan. Bukan hanya lagu, juga nama orang, “Titik Sandora”, budak leutik gedé sora.

Barangkali, kuatnya tradisi ini yang membuat Haji Hasan Mustapa sering mendendangkan sisindiran yang populer pada masanya, namun dengan isi yang berbeda. “Moal sacangkang saeusi,” begitu kata Hasan Mustapa seperti tersurat dalam guguritan “Puyuh Ngungkung dina Kurung”. Sisindiran yang dipopulerkan Éon, misalnya, ia beri isi dengan renungan-renungan tasawuf.

Yang menarik bagi saya, mengapa Hasan Mustapa tidak jauh berbeda dengan anggapan Sutardji bahwa tak ada hubungan “alamiah” antara sampiran dan isi, selain kedekatan bunyi semata. Barangkali, kalau kita mencari model, hubungan antara sampiran dan isi ini mirip dengan umang, bukan seperti siput. Mantel bagi umang sama dengan baju bagi kita –mantel bukan bagian alamiah dari tubuhnya. Oleh karena itu, ia bisa menggantinya kapan saja membutuhkannya. Selain itu, dengan menggunakan sisindiran yang sudah populer, Hasan Mustapa mengetahui jalan terbaik untuk mengekspresikan ide-idenya yang tidak mudah dipahami.

Karena sisindiran-sisindiran Hasan Mustapa menggunakan sampiran yang populer dan isi yang mengakar pada tasawuf Islam, saya jadi berpikir, bukankah ini merupakan salah satu bentuk bagaimana tradisi Sunda dan Islam didialogkan?

Jika hubungan Sunda-Islam menggunakan cara bagaimana Hasan Mustapa merakit sisindiran-nya berarti ada beberapa hal yang bisa dicatat, di antaranya, tak ada hubungan alamiah antara Sunda dan Islam, selain merupakan konstruksi sosial dan budaya. Dari sini saya melihat kecerdikan Hasan Mustapa dalam menempatkan renungan-renungan tasawufnya dalam sampiran sisindiran yang populer. Atau, keindahan bunyi sampiran sisindiran yang akrab itu “dipelesetkan” dan dijadikan jalan masuk oleh Hasan Mustapa untuk mencapai renungan-renungannya.

Memang daya pukau sisindiran terletak pada sampirannya. Kadang-kadang dengan sampiran yang baik secara sugestif orang sudah bisa menebak isinya. Ada beberapa peribahasa “Banda deungeun” (artinya, bangga memakai barang kepunyaan orang lain), “Bangbung ranggaék” isinya “Tadi embung ayeuna daék” (artinya, tadinya menolak sekarang mau), dan sebagainya.

Lebih jauh, hubungan antara sampiran dan isi ini dapat pula dijadikan model hubungan antara teks dan tafsir.

Ketika Hasan Mustapa membuat isi yang berbeda dari sisindiran yang populer, berarti ia melakukan penafsiran baru terhadap teks sampiran yang sudah menjadi tradisi. Tentu saja, bahwa tafsir adalah kontekstualitas tradisi yang hakikatnya merupakan pembaruan. Dan, ketika Hasan Mustapa memakai sisindiran Sunda populer dengan isi tasawuf Islam, hal ini dapat dibaca sebagai penafsiran tradisi dengan paradigma Islam.

Pamungkas, jangan tinggalkan tradisi! Sebab, dalam tradisilah kita menemukan keakraban dan kenikmatan.

Akan tetapi, tradisi hanyalah sampiran. Ia memerlukan isi, ia memerlukan tafsir baru. Dan, ketika tafsir sudah menjadi populer dan menjadi tradisi, ia perlu ditafsir ulang. Begitu seterusnya.
***

*) Teddi Muhtadin, Dosen Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *