Lubang Air

Eko Tunas
Suara Merdeka, 03 Juni 2007

BERLINANGAN air mata Rae membawakan air putih, melihat Roy memandang keluar jendela sambil menangis. Di luar sana sejauh mata memandang hamparan kota yang basah, lalu kali cokelat membelah kota. Gedung-gedung tinggi basah, juga sampah menggunung berleleran. Bahkan pesawat terbang di antara gerimis renyai, dan kereta api menembus rumah-rumah raya. Orang-orang tertunduk, membiarkan air mata yang terus mengalir dan dibiarkan karena saputangan telah kuyup. Tapi di jendela itu Roy tersenyum-senyum di antara linangan air mata, juga Rae yang bertubuh membasah.

Air condition menggigilkan, tapi mereka bercerita tentang asal mula manusia. Justru di kamar hotel berbintang lima, dengan gumam irama kaset bagai Sang Oidipus memanggil-manggil ibu libidonya.
“Ini air putihnya, Roy,” kata Rae, menaruh gelas putih di meja kecil dekat bantal. Lalu melenggang ke almari pakaian, mengambil handuk yang ternyata pun basah. Bersijingkat ia sambil menghanduki tubuhnya, menghindari air yang menetes dari atap. Tetesan-tetesan air itu membentuk irama saat menimpa kaleng atau plastik penampung. Iramanya mengingatkan pada lagu kanak-kanak tentang bunyi hujan. Dan dengan tersenyum-senyum, Rae menirukan lagu yang dihapalnya sejak kecil. Waktu begitu cepat berlalu, tak terasa usianya sudah menginjak paro baya.

Tapi begitu muda laki-laki yang datang untuknya dan memberinya air mata di atas putih sprai membasah.

“Apakah setiap orang menangis seperti kita?” tanyanya, mendekati Roy di jendela itu.
“Ya, juga tersenyum seperti kita.”
“Apakah hanya orang seperti kita, sayangku?”
“Maksudmu?”
“Kau lihat perkampungan di bawah gedung-gedung tinggi itu?” tunjuknya, seraya merangkul bahu Roy.
“Ya.”
“Bukankah di sana juga ada penghuni.”
“Kau selalu menyindirku.”
“Tidak,” dekap Rae, “aku hanya mau mengatakan…”
“Ya, aku memang berasal dari perkampungan itu, aku memang datang dari bawah.”
“Dan aku di atas?” bisiknya, menggoda.
“Nggak lucu!”
“Habis kamu terlalu berperasaan.”
“Itu yang kamu suka, kan?”
“Hmm…”
“Baik,” cetus Roy, “di perkampungan itu juga ada air yang menetes dari genting. Pakaian dan perabotan semua basah, juga televisi.”
“Mereka juga menangis?”
“Bahkan menangis sambil tertawa.”
“Tertawa?” tanya Rae seperti tak percaya, “seperti apa tertawa mereka?”

Roy mencoba tertawa, “ha ha ha..!”
“Seperti itu?”
“Kira-kira,” tukas Roy, “coba kamu bisa nggak tertawa?”

Rae berusaha tertawa, tapi tidak bisa.
“Orang seperti kamu memang hanya bisa tersenyum,” kata Roy, “aku pun di sini hanya bisa tersenyum, tidak bisa tertawa lagi seperti mereka.”

Rae menelengleng, tak habis bertanya-tanya. Bagaimana mungkin orang-orang di perkampungan itu bisa tertawa. Padahal hidup mereka di bawah, tetesan air tentu lebih bocor dan banyak lagi. Iramanya mungkin seperti lagu dangdut yang mereka sukai. Air putih mereka jelas tak sebening di rumah yang lebih tinggi dari rumah mereka. Kalau pun sama tentu dari mencuri dengan cara membobol pipa saluran air minum di bawah tanah. Bagaimana mungkin mereka bisa tertawa sambil berlinangan air mata, dalam waktu bersamaan. Sedang di rumah yang lebih tinggi para penghuni hanya bisa tersenyum, meski linangan air mata mereka sama debitnya.
***

“KAU akan lebih heran kalau tahu penghuni rumah-rumah di sekeliling sampah itu,” tunjuk Roy ke arah sampah menggunung.

“Rumah-rumah yang mana?”
“Itu! Buka lebar-lebar mata kamu.”

Rae membelalakkan mata, “Apa itu bukan juga sampah?”
“Itu rumah-rumah juga!”

Penasaran Rae mengambil teropong, dan meneropong ke arah yang ditunjukkan Roy. Sampah menggunung itu memang membentuk leleran ke arah bantaran kali. Leleran yang ternyata kumpulan barang-barang rongsokan hasil pulungan. Tampaklah bantaran kali itu mengorang-orang. Mereka adalah laki-laki berkatok kolor dan perempuan berdaster kumal. Banyak juga kanak-kanak telanjang bulat. Di antara mereka ada yang mandi di kali. Ada juga yang melakukan aktifitas keseharian. Mencuci pakaian, memasak, mandi. Di lantai papan lapuk yang menjorok ke kali, ada juga yang nongkrong di bilik-bilik sempit tanpa atap.

Dan deretan mengumuh sepanjang bantaran itulah ternyata rumah-rumah mereka. Beratap genting menghitam basah, atau beratap seng karatan, tertindih batu bata atau ban-ban bekas. Jendela-jendela bilik pun dibiarkan terbuka. Rae meneropong ke satu jendela bilik, tampak air yang menetes-netes dari atap, begitu banyak bocorannya. Sayang Rae tak bisa melihat tempat tidur di balik dinding papan. Sesaat dilihatnya kemudian, seorang laki-laki muda melongok keluar jendela. Benar, laki-laki muda itu menangis sambil tertawa. Sesaat kemudian seorang perempuan paruh baya ikut melongok keluar jendela, juga menangis sambil tertawa.

Rae terkejut melihat laki-laki muda itu mirip Roy, dan perempuan paruh baya itu mirip dirinya. Hanya bedanya laki-laki muda itu agak hitam, dan meski pun perempuan paruh baya itu berkulit sawo matang tapi penuh perhiasan emas. Anting emas, gelang-gelang emas, bahkan tertawanya menampakkan beberapa gigi emas. Seperti tak peduli, mereka pun tampak sesekali saling menyentuhkan ciuman air mata. Saling berangkulan sambil berbicara memandang keluar jendela. Entah apa yang mereka bicarakan, mungkinkah tentang kota yang basah, meski langit bahkan tak mendung. Rae memberikan teropong pada Roy, mengarahkan ke titik sama.

“Itu Boy,” kata Roy.
“Perempuannya?”
“Raekah.”
“Kok kamu kenal?” tanya Rae seperti menyimpan cemburu.
“Siapa tak kenal Raekah, orang yang paling disegani di kawasan bantaran.”
“Lihat perhiasan emasnya, bahkan gigi-gigi emasnya.”
“Ya saja, dia bos sampah.”
“Bos?” telak Rae.
“Kalau kamu bos hotel bintang lima, dia bos yang menampung barang-barang rongsokan dari para pemulung.”
“Memangnya aset mahal?”
“O, meskipun rongsokan, tapi asetnya miliaran!”

Rae terdiam, kemudian desahnya, “Selama ini aku tak melihat mereka.”
“Sekarang kamu punya mata yang bisa melihat, manisku.”
“Aku lupa melihat ke bawah,” decah Rae seraya menyandarkan kepalanya pada bahu Roy.
“Yang kau lihat bukan lagi hanya diriku?”
“Sekarang ini bahkan aku merasa baru mengenal cinta.”
“Habis selama ini yang kamu lihat gedung-gedung jangkung, hotel-hotel berbintang sainganmu, real estate patunganmu.”

Rae menghela serangkum napas, lalu decahnya, “Mereka benar-benar menangis sambil tertawa.”
“Tertawa lebar.”
“Ya, tertawa lebar!”

Diam, saling pandang senyum.
Saling menghapus air mata, tapi air mata mereka terus berlinangan.
Tak surut-surut, seperti ada air berlubang yang terus mengeluarkan air mata.

“Kamu akan lebih heran lagi kalau melihat ke bawah jembatan itu,” kata Roy kemudian, mengarahkan teropong ke titik lain.
“Ah, memangnya ada apa di bawah jembatan?”

Roy menurunkan teropong, katanya, “kamu kan sering melewati banyak jembatan di kota ini, saat kamu mengendarai mobil mewahmu?”

“Kenapa?”
“Kamu tak menyadari, di bawah jembatan yang kamu lewati ada juga perkampungan.”
“Ah?”
“Bahkan ada RT-nya segala,”
“Ah!”
“Nggak percaya?” tukas Roy sambil menyerahkan teropong, “Teropong bawah jembatan dekat stasiun itu!”
***

RAE meneropong ke arah yang ditunjukkan Roy. Dan ia terkejut, melihat rumah-rumah di bawah jembatan dengan aktivitas penghuninya. Mereka laki-laki bersarung tergulung sampai lutut serta perempuan berkutang hitam dan berkain pendek. Ada juga kanak-kanak bermain-main di air kali mampat. Jendela rumah di rongga jembatan itu pun dibiarkan terbuka. Dan Rae melihat air yang menetes dari beton jembatan itu, bocorannya lebih banyak lagi. Sesaat kemudian dilihatnya seorang laki-laki muda melongok sambil meludah keluar jendela. Ia terkejut karena laki-laki muda itu mirip Roy, meski berkulit hitam dan tubuhnya penuh tato.

Lebih terkejut lagi karena ia melihat, laki-laki muda itu menangis sambil tertawa terbahak-bahak. Sesaat kemudian dilihatnya seorang perempuan paro baya ikut melongok keluar jendela, juga menangis sambil tertawa terbahak-bahak. Perempuan paro baya itu pun mirip dirinya, meski tubuhnya lebih gempal dan berkulit legam dengan rambut keriting nyaris kribo. Mereka seperti selalu mencium bau anyir atau bangkai, di rumah berdinding papan lapuk mirip kandang ayam atau pagupon burung dara. Bau rutin yang membuat mereka tak habis meludah, meski segenap penghuni tetap berusaha bertahan, mencoba tak menyerah.

“Kamu tahu, siapa mereka?” tanya Rae, saraya menyongsongkan teropong.

Roy menerepong ke satu titik yang ditunjukkan Rae, “Itu Sanut, hanya orang-orang tertentu yang tahu reputasinya.”
“Bagaimana?”
“Dia perampok yang paling ditakuti, karena tega menggorok leher atau mengeluarkan isi perut korbannya.”

Rae tergelinjang.
“Tapi dia pahlawan.”
“Pahlawan?”
“Ya,” tegas Roy, “Karena korbannya hanya khusus para koruptor.”
Rae menghela serangkum napas, tanyanya, “Perempuannya?”

“Rosita, mantan istri pejabat paling bersih yang dibunuh secara misterius, karena berusaha membongkar kasus korupsi di lingkungan pejabat. Termasuk penyelewengan dana pembangunan demi kepentingan proyek-proyek pribadi, yang menggusur pasar dan perkampungan rakyat kecil. Rosita sekarang meneruskan perjuangan almarhum suaminya, secara tidak tanggung-tanggung. Dengan menunjukkan kepada Sanut, para koruptor yang layak menjadi korban perampok berdarah dingin itu.”

Rae termangu-mangu, pandangan ngungunnya jauh menerawang. Lalu katanya, “Sekarang aku tahu hakikat rumah.”
“Bagaimana, menurutmu?”
“Rumah, besar atau kecil, rumah mewah atau rumah di bawah jembatan, tetap namanya rumah.”

Roy menyentuhkan ciuman air matanya.
“Sekarang aku juga tahu, apa hakikat orang kaya dan orang miskin,” desah Rae.
“Menurutmu, apa?”
“Persoalan orang miskin adalah kemiskinan, persoalan orang kaya adalah ketidakgunaan.” *)
Mereka saling menyentuhkan ciuman air mata.

Tiba-tiba mereka melihat, air menggenangi jembatan itu, melimbak dari rongga hingga naik ke atas buhul. Menggenangi rumah-rumah bantaran, membawa leleran sampah sampai jauh. Menggenangi perkampungan demi perkampungan dengan debit yang terus naik. Bahkan rumah-rumah mewah tinggal tampak atap-atapnya, seperti jajaran perahu-perahu. Juga gedung-gedung pemerintahan, hanya tampak bendera yang basah-matanya tertunduk dalam tangisan bagai berabad-abad jiwa.

Orang-orang bahu membahu, dengan menangis sambil tertawa. Menangis sambil tertawa lebar. Atau menangis sambil tertawa terbahak-bahak. Ada juga yang menangis sambil tersenyum, tak peduli pada harta miliknya yang terendam air atau terhanyut.

Pohon-pohon bertumbangan, tanah longsor.
Di bagian lain, genangan lumpur bagai lautan berasap.
Lalu gempa, dan tsunami.

Mereka tetap tersenyum sambil menangis, meski melihat pesawat terbang jatuh, kapal tenggelam, kereta api terguling.

Dalam keterpanaan Rae dan Roy sesekali melihat mayat terapung, telentang.
Telentang menatap ke langit dengan bibir tersenyum.
Tersenyum dengan berlinangan air mata.

Ya, dengan tersenyum sambil berlinangan air mata mereka berdua tak habis bertanya-tanya, dari mana air yang menggenangi seluruh kota. Apakah dari air mata seluruh warga. Dan kenapa setiap orang di kota itu terus berlinangan air mata. Dari mana air mata mereka yang terus mengalir.
Mungkinkah dari ratapan lubang air?
***

Semarang, 4 Februari 2007

Catatan: *) Ungkapan “Kata-Kata Mutiara untuk Revolusionis” oleh John Tanner.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *