Obrolan mengenai Proses Kreatif Bersastra dan Berteater bersama Dody Yan Masfa

Wawancara di bawah ini, diambil dari Grup Facebook Apresiasi Sastra (APSAS) Indonesia


Dody Yan Masfa, lahir di Surabaya 15 Juni 1965, menulis puisi adalah kegemarannya sejak remaja, sebagai ngudo roso, katarsis, dan meneliti diri sendiri sejauh mana memiliki kepekaan rasa keindahan tentang bahasa tulisan. Prestasi karya bukan menjadi prioritas bagi dirinya. Menekuni teater sejak usia muda, sampai sekarang aktifitas itu menyeretnya untuk terus menulis. Dody adalah aktor dan sutradara teater Tobong. No Kontak: 085732439089 email : dodyyanmasfa@gmail.com

Nurel Javissyarqi: “Selamat merayakan Festival Puisi Mutakhir 2021 Pak! Pertanyaannya nanti menyusul, atau yang lain monggo bertanya dulu… Salam Sastra!” (Festival Puisi Mutakhir 2021 bertempat di Desa Weru, Paciran, Lamongan, Jawa Timur, tanggal 26 Juni 2021, oleh Komunitas Aksara Pesisir, atas Antologi Puisi “Perayaan Pertikaian dalam Rumah Puisi” karya Dody Yan Masfa).

Dody Yan Masfa: “Terima kasih Mas… Salam bahagia buat sampean yang selalu menggerakkan ruang literasi sastra… Semoga tak kan pernah berhenti…Aamiin…”

Nurel Javissyarqi: “Amien… ya Robbal alamien… Pak Dody, Apa yang mendorong sampean untuk terus bergerak dan berkarya hingga sekarang? Oya, sejak mulai tahun kapan, memasuki alam berkesenian?

Dody Yan Masfa: “Mulai bergabung dengan komunitas kesenian tahun 1987 Mas. Ya, tentunya ada masa-masa mengalami stagnasi, kejumudan, tapi selalu ada kesadaran baru yang menumbuhkan lagi spirit berkesenian. Semisal pemahaman ketika kita merasa tidak nyaman menyikapi kesenian sebagai kolektif art, kita bisa menyikapinya dengan personaliti art, atau sebaliknya. Banyak sekali teman-teman saya dulu, yang mandeg juga dari aktifitas berkesenian, karena tuntutan hal lain; karir politik, akademis, ya saya pikir itu pilihan, semuanya memang harus berani memilih, begitu juga berkesenian… Hal paling saya yakini dalam kesenian (teater) sebagai disiplin ilmu, dan selalu berfikir bahwa kesenian itu penting sebagai investasi bagi peradaban… Mungkin itu yang membuat saya masih terus bertahan berkesenian…

Nurel Javissyarqi: “Apa yang patut ditanamkan bagi generasi muda sekarang, ketika mengembangkan dirinya di dalam berkesenian, agar tetap menyetia jalan telah ditempuhnya, pula memiliki daya tahan terbaik kala melakoni alur luhur hidupnya? Sebelumnya matur suwon sanget Pak Dody Yan Masfa.”

Dody Yan Masfa: “Saya selalu menyerukan bahwa kesenian ialah investasi bagi peradaban, karena didalamnya menampung seluruh ilmu pengetahuan, dari tehne ke arte pula sebaliknya. Pendahulu kita yang melahirkan gagasan kesenian dari zaman ke zaman semuanya ilmuwan… sosiolog, teolog, filosof, politikus. Ada prinsip mendasar yang saya yakini, kesenian itu peralatan untuk mengolah referensi demi membaca masa depan… Kesadaran itulah Mas, yang selalu saya suarakan bagi generasi muda…”

Nurel Javissyarqi: “Matur suwon sanget Pak Dody atas jawabannya, dan mohon izin diposting nantinya -obrolan di Apsas ini…”

Dody Yan Masfa: “Siap, saya juga terima kasih Mas…”
***

Andy Eswe: “Halow Mas Dody… Saya bersua dengan Anda pertama di Solo, Teater Ruang. Itu sudah lama sekali. Dan ketika saya main ke Surabaya, sering juga melihat Anda, tapi belum pernah ngobrol meski acapkali satu tongkrongan. Hehwhw… Kali ini bertemu di FB dan berkesempatan untuk berbagi cerita dan tanya. Baik saya akan bertanya dalam hal teater, sejauh apa Mas Dody mengeksplorasi ruang-ruang untuk pementasan. Apakah selama ini di gedung panggung prosenium saja, ataukah juga di luar gedung? Mohon sharing pengalaman pementasan yang terkait dengan pilihan ruang yang Anda lakoni di kota Surabaya. Kemudian dalam hal susastra: Mas Dody lebih pada penulisan puisi, naskah drama, cerpen, atau novel? Bagaimana proses kreatif Mas Dody dalam berkarya sastra? Pada titik apa relasi / keterkaitan karya sastra dan karya teater? Lalu bagaimana mengolahnya hingga keduanya bersinergi?
Maaf, jika terlalu panjang dan bahasanya kurang bagus. Semoga bisa dipahami. Hehehe.. Salam dan hormat, Andy Eswe.”

Dody Yan Masfa: “Hai Mas Eswe, Salam dan Hormat pula…Wah ini pertanyaan berat semua… Pada teater Mas, saya mengawali proses di teater sejak tahun 1987, di teater Jaguar Surabaya. Tahun-tahun itu, teater lebih ke bentuk konvensional, dengan aturan pemanggungan yang ketat, prosenium, ada jarak penonton, ada visi, membangun, menciptakan penonton yang begitu-begitulah… Memasuki tahun 2000- an, mulai mengenal panggung tapal kuda sampai panggung arena, tentunya teater mengalami pola baru untuk penciptaan scenografi, untuk menyikapi penonton berada di tiga dan empat arah… Maka di tahun 2001, ketika saya mendirikan Teater Tobong, melanjutkan perkembangan pola baru, terlebih munculnya wacana tentang -teater alternatif, eksplorasi, ruang publik, teater tubuh… Nah, hadirnya wacana-wacana itulah yang membuat kita memiliki fleksiblelitas dalam penciptaan proses kreatif, apalagi sekarang kian hadir pula wacana-wacana baru, teater lintas disiplin, teater kota, teater foklor, instalasi teater dsb… Nah, kita Teater Tobong dan saya khususnya tidak menafihkan hal-hal baru tersebut, senyampang hal itu kita yakini menjadi pilihan proses kreatif kita, di ruang apapun, baik indoor maupun outdoor…
Dan untuk sastra, saya menulis puisi sejak remaja sih, SMP, SMA, nah beberapa waktu berikutnya mengalami stagnan, mandek sampai mengenal teater. Ada ruang-waktu yang penting bagi perjalanan proses saya di teater dan sastra, yaitu masa tahun 1999-2000, sebelum saya mendirikan Teater Tobong… Ada ruang proses kreatif yang kita bikin waktu itu, yaitu Teater Barzah, yang memang diniatkan untuk eksperiment. Waktu itu kita berfikir bahwa berteater tidak hanya sekadar mementaskan naskah-naskah orang lain, atau naskah yang sudah jadi, kita yakin bahwa kita harus memproduksi naskah sendiri. Nah, kebetulan waktu itu lagi maraknya wacana tentang teater non lakon, atau naskah non lakon (cerita ). Itulah yang memotivasi saya untuk menulis naskah-naskah, tulisan-tulisan lepas yang prioritasnya bukan ke cerita, tapi tema. Teks teks tematik yang tidak diikat oleh alur cerita, penokohan, seperti layaknya naskah-naskah konvensional, akhirnya keterusan kesenangan menulis lagi. Waktu itu kita menyebutnya teks besar (best teks), untuk dieksplorasi manjadi visual pertunjukan teater di program eksperiment teater Barzah… Maka saya pikir memang sangat dekat korelasi teks sastra dengan teater, meski saya masih mayakini bahwa wilayah teks dengan wilayah penciptaan itu punya kebebasannya sendiri-sendiri. Menurut saya, teks lepas atau best teks itulah yang cocok untuk mengantar kebebasan proses penciptaan… Karena itu, meskipun saya memberanikan diri menyebut tulisan-tulisan saya itu puisi, masih terasa sekali sebagai best teks teater… begitu Mas Eswe, hehehe maaf kalau jawabannya kurang memuaskan…
***

Lutfi S.M : “Selamat siang Om Do… Apa kabar? Semoga sehat selalu. Oya, sebelumnya saya ucapkan selamat dan sukses, atas diluncurkannya buku puisi karya sampean kamarin hari. Mohon maaf, saya belum bisa mengikuti, tersebab selepas kegiatan di Rumah Budaya Pantura itu, tiba-tiba badan drop, indera penciuman hilang fungsi, dan menjalar ke seisi rumah. Mohon doanya. Begini… Oya, dalam beberapa kesempatan terakhir, Om Do kerap mensosialisasi/mempublikasi/mempopulerkan istilah “sastra pertunjukan”. Pertanyaan saya: 1). Apakah itu sastra pertunjukan? 2). Apakah (kira-kira) ada perbedaan dari sastra yang dipentaskan alias “pertunjukan sastra” (macam pembacaan puisi, deklamasi, musikalisasi puisi, teaterikal puisi, drama, dll), ataukah bagaimana? Mungkin cukup itu dulu pertanyaan dari saya, yang semestinya kemarin saya diskusikan langsung saat bersua tetapi gagal. Terimakasih, dan Wassalam…”

Dody Yan Masfa: “Artinya, puisi yang dibacakan atau dideklamasikan itu sudah menjadi pertunjukan, sama halnya dengan naskah teater, naskah teater itu karya sastra. Nah, untuk menjadikannya sebuah pertunjukan, ya dikerjakan dengan khaidah teater. Nah sastra pertunjukan, berdasarkan asumsi saya, atau harapan saya tidak sekadar hanya dibacakan, bagaimana karya sastra yang bernama puisi itu bisa dikerjakan dengan pendekatan khaidah teater… Sebetulnya, bukan saya yang mempopulerkan.. Istilah sastra pertunjukan sudah ada beberapa tahun lalu… sebetulnya persoalan asumsi saja. Saya berasumsi, bahwa puisi itu identik dengan keberadaan teks yang memiliki metafora, rima, irama, suasana, bahkan cerita. Lantas saya berasumsi, jika puisi dideklamasikan dengan menggunakan karakter suara, emosi, gerak, suasana, maka keberadaan puisi sebagai sekadar teks akan bertambah kekuatannya. Nah, saya mengasumsikan bahwa itu adalah konsep pertunjukan.

Lutfi S.M.: “Oo… Berarti pada dasarnya memang memiliki kekhasan tersendiri dan itu melalui proses penggarapan yang utuh ya, Om… semacam alih wahana teks ke bentuk perform, begitukah?”

Dody Yan Masfa: “Seperti halnya jawaban saya kepada Mas Eswe, bahwa ada era dimana teks teater tidak harus merujuk pada kekuatan cerita, atau lakon, tapi bisa kekuatan tema (naskah non lakon). Kenapa tidak dengan puisi? Puisi bisa didekati dengan khaidah teater, semisal Emha Ainun Nadjib mengerjakan puisinya “Lautan Jilbab” menjadi pertunjukan teater. Saya mengasumsikan itu adalah sastra pertunjukan, yang lebih berkembang, ketimbang seorang Emha membacakannya sendirian, meskipun bisa disebut sebagai sastra pertunjukan…”
***

Sholihul Huda: “Selamat sore Om Dody, salam kenal dari saya. Sebenarnya sudah lama sekali saya ingin berkenalan dengan Om, sejak bertemu di Taman Budaya Cak Durasim, tetapi masih malu-malu. Dan mumpung ini ada kesempatan bertanya, saya ingin bertanya singkat saja sesuai pengetahuan saya yang minim tentang sastra. Puisi Mutakhir itu yang seperti apa ya Om?… terima kasih…”

Dody Yan Masfa: “Hihihi… Kata yang benar dan baku adalah Mutakhir. Arti kata mutakhir menurut KBBI adalah: terakhir, terbaru, modern.”

Sholihul Huda: “Ooo, jadi ini puisi yang terakhir Om, yang terbaru, atau yang modern? Keren Om puisi-puisinya… Terima kasih atas jawabannya yang lugas dan jelas sekali…”

Dody Yan Masfa: “Puisi bebas itu bagi saya modern Mas, kalau puisi klasik itu puisi terikat… dan hari ini puisi bebas masih uptodit… Lah, mau saya sebut festival puisi posmo, atau puisi 4.0. malah nggak cocok..”
***

Agus R. Subagyo: “Selamat sore Pak Do… Entah kapan dan di mana pertama bertemu dengan sampeyan. Aku mau bertanya, bagaimana caranya ketika kita mandeg dalam menulis?”

Dody Yan Masfa: “Hehehe… sebetulnya itu bukan mandeg otentik Mas, pengalaman saya mengatasinya dengan menumbuhkan kesadaran, mengalihkan dengan menabung referensi. Misalnya menyerap hal-hal empiris, membaca wacana sastra, membaca karya-karya orang lain, berdiskusi. Hal-hal itulah yang akan memperkaya kita akan perbendaharaan referensi… Kayaknya itu caranya… sehat selalu Mas…”

Agus R. Subagyo: “Aamiin. Aku saiki gak tau nulis Pak Do,… Tapi ngetik…”

Dody Yan Masfa: “Wkwkwkwk…iyo… satu jempol apa dua jempol…”

Agus R. Subagyo: “2 jempol Pak do, hehe…”
***

Sangat Mahendra: “Hallo Om Dody Yan Masfa, saya salah satu fans jenengan, tanya dong Om…
kaki Om terbuat dari apa? Bagaimana nafas Om sepanjang itu? Apakah yang Om percayai dalam hidup? Salam Om! Sehat dan bahagia selalu.”

Dody Yan Masfa: “Salam bahagia Mas Mahendra. Terhadap bumi yang keras, tajam dan terjal. Tuhan tidak membuat kulit pembungkus lembut untuk menutupi seluruh permukaan bumi : Ia menghadiahi kita sepasang kulit bagi kaki. Dalam tubuh ada banyak hal sederhana yang memiliki religiusitas, jika kita selalu mengingatnya dalam pikiran dan perasaan… “Ragawidya” (religiusitas prilaku sehari-hari), termasuk berjalan dan bernafas. Cosmologi alam Mas, alam di dalam diri dan di luar diri, hidup saya kuserahkan pada korelasi keduanya… Hihihi.. macak religius dan filosofis.. tentunya jawaban saya itu harus selalu dilanjutkan-diperbincangan dalam perjumpaan kita Mas Mahendra…”

Sangat Mahendra: “Matur tengkyu.”
***

Sigit Susanto: “Salam kenal Mas Dody Yan Masfa. Ikut bertanya, 1). Ketika sampean menemukan sebuah embrio kisah untuk ditulis, bagaimana menimbang embrio itu untuk ditulis dalam puisi atau naskah teater? 2). Embrio kisah seperti apa yang biasanya muncul? Bisakah embrio kisah itu ditulis dalam dua genre, puisi maupun teater atau cukup sekali saja puisi/teater? 3). Adakah puisi sampean yang berbentuk seperti teater? Sepertinya Faust-nya Goethe lebih menyerupai teater ketimbang puisi atau naskah teater sampean yang puitis. 4). Bagaimana sampean memperlakukan naskah puisi/teater yang gagal? Mungkin diperbaiki lagi, diingat, atau dilupakan sama sekali 5). Adakah karya sampean, baik puisi maupun teater, tiba-tiba ada orang bilang, Wah, Mas….cerita itu mirip kisahku pribadi?… Matur Thanks you. Salam Sehat.”

Dody Yan Masfa: “Salam Mas Sigit… Adakalanya embrio itu berasal dari hal yang sudah ada referensinya, baik secara empiris maupun yang bersifat literatif. Kemudian referensi tersebut dikorelasikan dengan tema yang pas untuk diangkat sebagai isi dari tulisan (puisi atau best teks teater). Untuk puisi, saya lebih membebaskan tema, tapi kalau untuk best teks saya lebih memilih tema yang universal. Sampai hari ini saya masih meyakini tema tentang kematian (untuk best teks teater), yang masih kuat, kematian bukan sekadar fisik, tetapi bisa kematian nurani, pikiran, kematian kesadaran terhadap kemanusiaan, peradaban, dsb. Dan berkaitan Faust-nya WG Goethe (itu naskah babon Mas, yang memiliki kelengkapan khaidah naskah teater yang lengkap), ada prolog, epilog, dialog, monolog, seliloqui, ada narasi, semuanya lengkap sebagai naskah teater, bahkan skema partitur orkestra untuk ilustrasi musiknya pun menjadi bagian dari tokoh dalam naskah tersebut. Untuk tulisan yang gagal, -saya membiasakan ada proses revisi Mas, sering kali puisi hari ini, itu bersumber dari puisi lama yang tertimbun, yang pernah saya tulis…”

Sigit Susanto: “Matur nuwun terima kasih paparannya Mas Dody Yan Masfa.”

Dody Yan Masfa: “Sama-sama Mas…”
***

Buku-buku karya Dody Yan Masfa:

***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *