Rumah Warisan

Yonathan Rahardjo *
Republika, 13 Jan 2008

Kematian perempuan tua itu membangunkan duka. Terik matahari, yang membuat penduduk malas keluar rumah, tak sanggup menahan hati menuju gelap, ditutupi mendung kesedihan. Menantu perempuan tua itu, yang pertama kali menjumpai kematian sang perempuan tua, menjerit pilu.

Tangis janda anak kedua almarhumah itu mengundang cucu-cucu dan keponakan serta tetangga-tetangganya untuk datang. Kabar duka pun menyebar dari mulut ke mulut, memagnet anak-anak jenazah untuk segera berdatangan. Keluarga besar anak pertama, anak ketiga dan anak kelima, melengkapi anak cucu terdekat, menyatu dengan saudara dekat, tetangga-tetangga dan semua pelayat.

Suasana perkabungan bergulir dari satu acara ke acara lain, ditangani mereka yang ada. Sedang anak keempat beserta keluarganya dalam perjalanan dari luar kota.

“Catur sebentar lagi tiba.”

“Apa Ragil sudah dalam perjalanan?” tanya anak lelaki ketiga yang paling percaya diri menjadi pemimpin perkabungan.

“Sudah. Namun, ia hanya dikabari bahwa Emak dalam kondisi kritis.”

Banjir air mata terus mengalir merata pada diri para anak perempuan tua itu. “Emak menyusul Bapak dan Mas Dwi.”

“Kita segera berangkat begitu Catur datang.”

Keberangkatan jenazah pun dipastikan ketika dari ujung gang terdengar raung tangis Catur, anak lelaki keempat. Catur berjalan limbung, dipapah oleh istri dan anak-anaknya.

Prosesi harus berkejaran dengan perginya siang. Secepat langkah iring-iringan pengantar jenazah, secepat itu pula pemakaman yang diiringi nyanyian duka pengantar kepergian sang perempuan ke pemakamannya. Baru esok harinya si bungsu, anak perempuan almarhumah, Ragil, tiba, setelah menempuh perjalanan sepanjang Pulau Jawa. Yang menyambut adalah ketiadaan orang tersayang. Saudara-saudaranya tidak mungkin berdusta dengan suasana perkabungan yang begitu jelas. Meski, mereka membiarkannya membuka kain pintu kamar emaknya dan di situ tidak ia jumpai perempuan tua itu di atas pembaringannya.

Tangis kembali memecah hari. Wajah-wajah sedih kembali dibanjiri air mata duka, tidak mampu menahan diri sekaligus mencegah luapan duka cita anak bungsu yang baru tiba.

“Mengapa kalian membohongiku? Emak sudah dikubur! Aku tak boleh memberi penghormatan terakhir padanya?”

“Ragil, jangan salah paham. Sekarang kami antar ke makam Emak.”

Di tanah kuburan yang masih basah, perempuan muda itu pingsan. Tangan-tangan saudara-saudaranya mencegahnya tersungkur mencium tanah bertabur bunga yang belum kering.

“Anakku, Emak sudah tenang di sini. Emak sudah bertemu dengan Bapakmu.”

“Emak, mengapa lebih sayang Bapak daripada aku, anak kesayanganmu?”

“Sayangku pada Bapakmu sebesar sayangku padamu, anakku.”

“Mengapa tidak menungguku datang agar aku mencium Emak sebelum Emak bertemu Bapak?”

“Itu bukan kemauanku, anakku. Saudara-saudaramu yang menginginkan jasad Emakmu ini segera dimakamkan sebelum petang.”

“Bukankah Emak masih bisa disemayamkan malamnya, diiringi doa-doa penghiburan, dan baru dimakamkan esok harinya, ketika aku sudah pasti tiba?”

“Ragil, Emak tak kuasa menahan kakak-kakakmu. Sedang mereka bersiteguh dengan adat kebiasaan yang mereka kenal.”

Diiring senyum ibunya yang sangat ia kenal, perempuan muda itu tersilaukan oleh cahaya yang begitu terang. Ragil melihat ibunya tak setua yang ia kenal, bergandeng tangan dengan lelaki muda yang rasanya sangat ia kenal.

“Bapak…!”

Ragil, perempuan muda itu, tiba-tiba sadar. Saudara-saudaranya memandangnya dengan penuh rasa heran.

“Adik bungsu, mari kita pulang. Biarkan Emak tenang bersama Bapak dan Mas Dwi di rumah baru ini,” ajak saudara-saudaranya ketika Ragil siuman.

“Mas Dwi? Aku tadi tidak berjumpa dengan Mas Dwi. Aku hanya berjumpa dengan Emak dan Bapak.”

Saudara-saudara lelaki, kakak-kakak dari anak bungsu itu, terhenyak.

“Mengapa hanya Emak dan Bapak? Mengapa tidak bersama Dwi?”

Perjalanan pulang dari makam digelayuti pikiran-pikiran kusut, suasana duka diracuni hati cemburu.

“Jangan-jangan Emak dan Bapak tidak sayang pada Dwi,” pikir si sulung Eko tentang hubungan adik kandungnya dengan kedua orang tuanya yang sama-sama sudah tinggal nama.

“Jangan-jangan Emak dan Bapak juga tidak sayang padaku seperti tidak sayangnya mereka kepada Dwi,” pikir Tri, anak ketiga.

“Jangan-jangan…. Ah, biarlah,” pikiran gundah tapi pasrah mendera anak ke empat, Catur.

“Wajar kalau Emak paling sayang pada Ragil. Sebab, ia anak bungsu dan satu-satunya perempuan,” anak lelaki kelima, Ponco, punya pikiran sendiri.

Bagaimanapun, mereka, empat anak lelaki dan satu perempuan yang masih hidup, bersama istri, suami dan janda anak kedua, beserta semua anak mereka, tak dapat menghindar dari suasana duka. Tidak ada lagi orang tua yang melahirkan dan membesarkan mereka.

Mereka merasa masih melihat kehadiran kedua orang tua terkasih di antara wajah-wajah mereka dalam cermin. Darah yang mengalir dalam tubuh mereka adalah darah orang tua yang sama. Tapi, mengapa harus ada perasaan aneh ini?

“Rumah ini adalah rumah Emak dan Bapak, cermin kehadiran beliau berdua. Pasti beliau berdua pun membagi rumah ini bagi kita berenam,” tiba-tiba Tri, anak nomor tiga, berkata dengan suara keras.

“Apa maksudmu, Tri?”

“Kita masih dalam suasana duka!”

“Ya, kita memang berduka. Tapi, kita semua adalah anak-anak Emak dan Bapak.”

“Maksudmu?”

“Emak dan Bapak pasti sayang kita semua. Karena sayang kita, pasti Emak dan Bapak mau anaknya yang paling mampu menukar rumah ini dengan harga tertinggi untuk menggantikan hak semua anaknya.”

“Berhenti!”

“Karena aku yang paling mampu, maka aku yang akan membeli rumah ini.” “Tutup mulutmu, Tri! Soal ini kita bicarakan sesudah seribu hari meninggalnya Emak!”

“Sudah! Sudah! Ngaco, kalian semua! Ngomong tidak berperasaan!” Isak tangis dari Ragil, adik perempuan bungsu mereka, menampar setiap mulut untuk langsung terdiam.

“Tanah kuburan Emak masih basah, kalian sudah ngomong soal warisan.”

“Ragil, aku tahu, kamu tidak memikirkan soal duniawi ini, karena kamu memang menjadi perempuan pemimpin umat bersama suamimu. Begitu juga aku. Selain berhasil menjalankan ibadah tertinggi dalam agamaku, aku tetap mengimbangi dengan sukses duniawi seperti usahaku jadi jagal sapi yang sukses bersama mbakyumu, istriku! Tapi, kakak-kakakmu? Lihat, bisa apa mereka? Mencari nafkah saja dengan membesarkan betis. Menghidupi keluarga saja kembang-kempis. Apalagi mau membahagiakan Emak yang baru saja menyusul Bapak. Mana bisa?”

Tidak ada upaya menghentikan celoteh lelaki anak ketiga dari enam bersaudara dan tinggal hidup lima orang itu. Si bungsu diam. Bahkan suaminya yang sedari tadi hanya menjadi penonton ‘pergulatan’ lima bersaudara itu hanya diam dan menenangkan istrinya dengan meremas telapak tangannya.

Sejak saat itu, sekembali ke kota tempat tinggalnya, Ragil tidak pernah lagi berkunjung ke rumah yang baru saja ditinggalkan emaknya. Sedang kakak-kakaknya, Eko, Tri, Catur dan Ponco, tersekat tenggorokannya. Tri, yang mengumbar hasrat sebelum waktunya itu, meneguk ludah sendiri. Wajahnya merah, menanggung cibiran dan sorotan mata menghina dari siapapun yang terhitung keluarga dan para tetangga.

“Kuburan orang tua masih basah, sudah ribut soal warisan…,” celoteh meraka.
***

*) Yonathan Rahardjo, kelahiran Bojonegoro, Jawa Timur 17 Januari 1969. Karya-karyanya diantaranya: Novel: Lanang (2008), Taman Api (2011), Wayang Urip (2012), Anak Turun Airlangga (2019), Pertobatan Seorang Golput (2019), Antologi Cerita Pendek: 13 Perempuan (2011), Antologi Puisi: Jawaban Kekacauan (2004), Kedaulatan Pangan (2009), Ilmiah Popular dan Jurnalistik: Avian Influenza, Pencegahan dan Pengendaliannya (2004), Air Sehat untuk Ternak Ayam (2012), Mengatasi Stres Ayam (2012), Flu Burung, Kajian dan Penanggulangan (2014), Beternak Ayam Petelur (2016), Sejarah Sastra dan Literasi Bojonegoro (2018).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *