CAMUS DIBUNUH KEMBALI DI ATAS PANGGUNG

Ekwan Wiratno *

Di tengah jalanan yang membeku pada tanggal 4 Januari 1960, sebuah mobil Facel Vega tergelincir dan menabrak sebuah pohon (Willsher, 2011). Kecelakaan itu merenggut nyawa seorang filosof dan sastrawan besar, Albert Camus. Tahun itu hanya berjarak dua tahun saja setelah Camus memenangkan penghargaan Nobel Sastra. Maka secara fakta, Camus telah meninggal sejak itu.

Sebagai seorang filosof dan sastrawan, Camus sejatinya tidak benar-benar mati sebab buah pikir dan karyanya terus diperbincangkan, sehingga sebuah dialog imajinatif dengan Camus terus berjalan sampai kapanpun. Sehingga tak terlalu tepat bahwa kita sebut Camus benar-benar telah meninggal.

Tapi pada pertunjukan Teater Ego (Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Brawijaya), pada tanggal 18 November 2018, Camus telah dibunuh. Mungkin dapat dikatakan bahwa mayatnyapun telah dikubur dalam-dalam dan sama sekali tak diingat.
***

Pembunuhan Albert Camus, sejatinya adalah pembunuhan gagasan. Naskah Caligula, yang dianggap merupakan salah satu naskah yang mampu merumuskan konsep absurditas Camus, menjadi kerontang ketika dipentaskan Teater Ego. Kedalaman cerita dan ide-ide hanya disampaikan secara parsial dan cenderung terfragmentasi. Naskah yang ditulis Albert Camus pada tahun 1938 tetapi baru dipublikasikan pada tahun 1944 tersebut sebenarnya menyimpan demikian banyak ide-ide absurditas dan eksistensialisme (bersama dengan novel The Stranger, dan kumpulan esainya The Myth of Sisyphus).

Apa yang disajikan dalam panggung malam itu terkesan serampangan. Pembacaan terhadap naskah tersebut terasa tidak tuntas sehingga mengakibatkan ide yang tersimpan dalam naskah menjadi hanya dapat diulik pada lapis terluar. Padahal, absurditas seringkali membutuhkan pembedahan berlapis-lapis untuk mampu menggali ide secara komprehensif.

Pertunjukan tersebut berlangsung sekitar satu jam dan hanya menyajikan potongan-potongan adegan yang disusun secara “kasar” sehingga tidak menghadirkan kesatuan pertunjukan. Aktor-aktor masih bersifat mekanis dan seringkali lepas dari karakter yang dibangun. Belum lagi persoalan teknis-strategis yang seringkali memperburuk kondisi pertunjukan. Secara perlahan akan kita uraikan satu-persatu.
***

Secara singkat naskah Caligula menyediakan pergulatan jiwa-nilai seorang Caligula. Sepeninggal adiknya, Drusilla, yang begitu disayanginya, Caligula menyimpulkan bahwa dunia sama sekali tidak memuaskan. Dia menantang persahabatan dan cinta, solidaritas manusia umum, baik dan jahat. Sampai pada akhirnya dia melanggar semua tatanan nilai.

Camus menganggap bahwa “Caligula adalah kisah bunuh diri yang mulia.” Caligula menerima kematian karena dia mengerti bahwa tidak ada seorang pun yang dapat menyelamatkan dirinya sendiri dan orang itu tidak bisa bebas dengan mengorbankan orang lain.
***

“Caligula merupakan drama aktor dan sutradara,” demikian tulis Camus dalam pengantar kumpulan naskahnya (Camus, 1958). Artinya proses kreatif dalam menyiapkan pertunjukan naskah Caligula merupakan pekerjaan rumah beberapa pihak sekaligus. Sutradara, sebagai pihak yang paling bertanggungjawab dalam sebuah pertunjukan, harus mampu memberikan dorongan bagi timnya untuk mampu memahami naskah dan konsep pertunjukan. Sementara aktor, sebagai ujung tombak, harus demikian menguasai konten dan Teknik penyampaian. Apabila ditilik dari kedalaman ide yang harus disampaikan, maka beban seorang sutradara dan aktor menjadi kunci.

Apa yang terjadi di panggung Teater Ego menunjukkan kelemahan keduanya. Sutradara menyusun pertunjukan dalam bagian-bagian yang tak menyatu dan cenderung menghadirkan akrobat-akrobat saja. Adegan disusun berdasarkan alur yang minimalis (saya curiga ini akibat pemotongan serampangan pada naskah). Miskinnya alur tersebut mengakibatkan kedalaman intrik dan faktor-faktor pendukung absurditas Caligula menjadi hampir hilang sepenuhnya. Secara umum memang dapat ditangkap apa yag dilakukan Caligula, tetapi motif dan kedalaman pergulatan eksistensialisnya tidak nampak.

Aktor juga tidak mampu merumuskan absurditas secara utuh. Aktor masih bersifat mekanis dan menuruti arahan sutradara secara berlebihan. Aktor bergerak tanpa dorongan yang cukup kuat sehingga kental sekali kesan bahwa aktor bergerak atas formasi yang jelas telah ditentukan oleh sutradara. Hal ini menunjukkan bahwa peran aktor minim sekali. Tokoh Caligula, yang kehadirannya adalah salah satu kunci, hanya menunjukkan akrobat bak sebuah sirkus. Aktor menyajikan gerak-gerak yang tidak berenergi dan seringkali terlihat dengan jelas kelelahan di dalamnya. Hal ini umumnya terjadi akibat latihan aktor kurang intensif dalam menguasai gerak semacam itu.

Sementara aktor-aktor lain menunjukkan kondisi yang lebih buruk lagi. Konsep pemunculan aktor secara tradisi memang menarik, tapi cenderung menghabiskan waktu. Ritme yang dibangun dalam sebuah adegan kemudian pudar setelah menunggu aktor berpindah dari “ruang tunggu” ke panggung. Aktor-aktor menujukkan mata yang kosong tanpa tujuan dalam bergerak. Hal ini mudah sekali diamati.

Persoalan lain adalah panggung yang cenderung dua dimensi. Panggung memang dikelilingi oleh tempat penonton yang berbentuk tapal kuda, tapi teknik gerak dan blocking aktor masih dua dimensi. Aktor-aktor tidak mampu memuaskan segala sisi. Belum lagi kelemahan penataan cahaya yang semakin membenarkan kesan dua dimensi tersebut. Sumber cahaya hanya satu sudut saja, yaitu di depan panggung. Kondisi seperti itu mengurangi kemampuan penonton dalam menonton secara lebih utuh. Hal tersebut diperparah dengan keberadaan kursi yang cenderung minor. Kursi, sebagai sebuah representasi kekuasaan Caligula, hanya dibuat dari kayu yang ringkih dan mungil. Apabila dibandingkan dengan aktor dan property atau set lain maka keberadaan kursi menjadi tidak terlalu menonjol. Ini tentu sebuah kerugian.
***

Maka tidak berlebihan untuk mengatakan bahwa Camus telah kembali mati. Bahkan dibunuh ditengah keterbatasan kemampuan dan kemampuan mahasiswa dalam literasi. Di tengah miskinnya referensi dan kemauan untuk menggali kemungkinan-kemungkinan pemanggungan. Itulah sialnya Camus.

Sebagai sebuah pertunjukan teater, Pementasan Teater Ego hanyalah sebuah pameran etalase dan akrobat. Dimana unsur-unsur pertunjukan ditempel di panggung tanpa benang merah yang memikat.

Tapi, keberanian dan keinginan untuk menggarap naskah yang demikian bagus dan berbobot selayaknya mendapatkan apresiasi. Tentu apresiasi tersebut tidak berlebihan di tengah kemalasan membaca literature yang bersifat filosofis dan rendahnya kualitas naskah karya komunitas sendiri. Semoga semakin banyak pertunjukan teater, terutama teater mahasiswa, yang tertantang untuk menggunakan referensi-referensi yang jauh lebih berbobot. Dan tentu saja, dengan kemampuan literasi dan kemampuan pemanggungan yang lebih mumpuni. Semoga harapan ini tidak berhenti sebagai harapan.
***

Referensi:

Kim Willsher. 2011. Albert Camus might have been killed by the KGB for criticising the Soviet Union, claims newspaper. https://www.theguardian.com/books/2011/aug/07/albert-camus-killed-by-kgb
Albert Camus. 1958. Caligula & Three Other Play. Vintage Books. New York.

*) Penulis dan sutradara teater, mendalami teater sejak sekolah menengah, telah menghasilkan belasan pertunjukan, puluhan naskah lakon dan belasan kritik dan wacana teater. Penulis membuka diskusi secara terbuka terkait dunia teater melalui media sosial dengan nama yang sama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *