Catatan Singkat: Merdeka itu Berjalan di atas Cita-cita!

Nurel Javissyarqi *

Sudah lama tak menulis lewat status facebook. Untuk memulainya kembali, yang ringan-ringan dulu. Kali ini, ditujukan pada orang-orang yang mencemburi saya atas kengangguran diri pribadi. Semoga nanti, tiadalah terbersit tindakan somse, kecuali demi mereka tak cemburu lagi atau kembalilah saling menginsyafi. Ada-ada saja pertanyaan seolah ingin tahu perputaran uang di saku, semisal “Selama ini tidak pernah menghasilkan uang dari website?” Batin ini agaknya berontak, “Jangan hubungkan sastra dengan uang di hadapan saya!” Selanjutnya, sambil dengar musik Mehter Ottoman, diperturutkan ini lelangkah… Bismillah… (Sepertinya agak sungkan, tapi biarkanlah dituntaskan guna pada ‘mingkem’, dan tiada pertanyaan semacam itu lagi).
***

Alhamdulillah, saya terlahir dari keluarga kalangan menengah, dibanding tetangga sedesa. Sekecilnya, ortu sudah memiliki perabotan mewah, misalkan televisi dan mobil. Dan sewaktu masih bocah, sekitar tahun 1980-an, pergaulan orang tua (ortu) telah memasuki kelas atas, terbukti setiap bulan saya diajak ke Surabaya untuk mengikuti arisan bersama para pedagang keturunan Tionghoa dengan pesta makan ala mafia. Sampai terbersitlah dambaan dimasa itu -kelak dewasa menikah dengan gadis china berkulit putih aduhai. Tapi hayalan soal gadis mulus berbanding terbalik dengan keseharian saya yang condong bergaul bersama teman-teman tak berada, tersebut lantaran diri begitu terhanyut oleh kekisah mengenai orang-orang utama atau para alim ulama yang kerap didongengkan para guru ngaji. Dan nyatanya sejak belia lebih menikmati kehidupan sederhana. Contoh waktu ortu membelikan sepatu, lebih memilih yang mereknya sama dipakai teman Ibtidaiyah. Namun agak berbeda, tatkala menginjak Tsanawiyah, tergiur juga pakaian bermerek.

Pergaulan dengan para pedagang Tionghoa Surabaya tersebut Alhamdulillah secara fisik keluarga besar kami mendukung, Emak berkulit putih laksana orang keturunan China, Abah berhidung mancung seolah keturunan saudagar dari bangsa Arab. Semenjak itulah, saya berusaha belajar ambil manfaat pandangan orang lain demi lelangkah berikutnya. Perihal ini mengingatkan masa-masa berangkat ke Jombang demi mondok saat naik bus antar kota, kerap kali gonta-ganti gaya penampilan, kadang awut-awutan seperti preman atau pencopet, kadang ‘macak’ santri tulen. Dari sini jadi tahu, kebanyakan orang melihat dari penampilan saja, dan kala kuliah menggondrongkan rambut pun ambil untung sebaik-baiknnya hingga kerap naik bus ke Jogjakarta, duduk di bangku untuk orang bertiga, saya pakai sendirian berleha-leha. Pungkasnya – hanya mata dekatlah, yang mengerti rindu dari pedihnya ujung pena.

Mungkin saya termasuk orang boros menghambur-hamburkan rupiah sebelum tahun 2011 atau dari masa kanak hingga tahun 2010. Hampir semua keinginan pribadi terpenuhi, tapi hasrat saya tidaklah ‘neko-neko,’ itu bisa saja lantaran kemujaraban wejangan guru ngaji dan sekolah, yang terserap secara alami dalam diri seorang bocah. Mengenal rokok, sejak pergaulan teman Tsanawiyah, dan sampai kini masih. Ketika Aliyah di Jombang, saya semakin boros, rokok Malboro, dan berhenti merokok Malboro atau menguranginya dengan merek lain, dikarena sempat muntah darah. Tahun 1995-2001 kembara ke Jogja, akhir di Magelang ditutup di Ponorogo, kemudian pulang ke Lamongan tahun 2002 -menikah. Pernikahan tersebut kandas tahun 2011, dan entah semilir angin apa mendorong diri balik ke bencah Jeruksing (bermukim di kediaman Dr. Sutejo), Njoresan, Tegalsari (Ponorogo). Kegagalan membina rumah tangga barangkali yang menyadarkan untuk tidak terlampau egois mengenai dunia perbukuan, setidaknya masa-masa sebelumnya lebih percaya ungkapan, ujaran atau pengetahuan yang bertebaran di buku (kitab), daripada obrolan di warung kopi misalnya, dan tidak atau kurang peduli kehidupan orang lain, kecuali berhubungan dengan keilmuan. Pengembaraan kedua di tlatah Reyog atas bimbingan sang motivator ulung Sutejo, diri pribadi saya sedikit demi sedikit diarahkan mengenai kehidupan bersosial. Sekecilnya mulai belajar menghafal nama-nama kawan baru yang tidak melulu berkecimpung di dunia penulisan. Dulu, hampir semua ucapan pula tindakan seseorang, yang tidak tertera di buku (kitab), saya abaikan. Dahulu, dikala keluar rumah tak membawa uang banyak, kurang percaya diri. Di bumi Bathara Katong kedua itulah baru sadari, bahwa menerima pemberian atau belas kasih itu berat, sangat berbeda tangan di atas betapa ringan. Pada titik inilah saya percaya, bahwa kedudukan memberi dan menerima adalah sama derajatnya atau tiada tinggi-rendah.

Dalam nilai material alam perbukuan, banyak teman saya sukses hingga jadi milioner, tapi hingga kini tiada cemburu, termotivasi untuk kaya raya pun tidak, mungkin saya telah kenyang mengenal gula-gula kehidupan sejak belia, atau merasai cukup menikmati hidup di dalam kesederhanaan. Sampai suatu kali bertanya kepada teman milioner tersebut, salah satunya pemilik penerbitan Araska, “Jangan-jangan saya tidak normal, karena kurang tertarik uang atau kemewahan? Dan sepertinya tiada jawaban, sambil kami terus melangkah di alur masing-masing tetap berkawan baik. Maka ketika tahun 2015 berniat menikah kembali, saya utarakan pada calon pasangan, “Kalau membina keluarga dengan saya, jangan berharap bisa kaya.” Ini tidak lebih lantaran diri masih mencintai dunia tulis-menulis, atau lebih banyak waktu membaca. Aha, jadi teringat semasa kecil pernah berdoa, “Ya Allah, kelak ketika dewasa, berikanlah pekerjaan yang tak banyak keluarkan tenaga fisik, tapi yang berhubungan dengan pemikiran,” karena menyadari tubuh yang kurus. Alhamdulillah, pernikahan kedua hanya dengan maskawin sebuah puisi, ini suatu bukti istri saya tak berharap lebih akan kebutuhan berumah tangga. Sekali lagi Alhamdulillah.
***

Parahnya sekitar setahun lalu dan lebih, saya dengar diantara pencemburu ada sempat berkata, “Lihat saja nanti, dipastikan gagal lagi berumah tangga.” Repot memang, ketika tidak tahu gaya hidup, pola pikir pilihan jalan hayati, rongga napas ketentuan disamping ketetapan Tuhan. Memang mungkin ada eloknya, ketika seseorang menyenangi kegiatan suatu hal yang dianggap mengasyikkan sekaligus beri untung, lantas mengajak orang lain berlaku sama, misal ortu saya sejak kecil mengarahkan diri menjadi pedagang, tapi ketika ketidaksepahaman terjadi, saya kira kurang bijak menyalahkan pilihan atau gaya orang lain, apalagi sampai membilang sekalimat di atas. Toh, saya tidak sekalipun ngerecoki keluarga mereka. Alhamdulillah, istri saya kadang mengikuti pola saya ketika ada pihak luar kasih berita kurang sedap dengan laksana cermin. Contohnya ketika dari luar menakut-nakuti ataupun meragukan pasangan kita, dibalikin saja kabar tersebut kepada mereka. Saya kira, hanya kaum kesepian yang mencari kerjaan sampingan, atau bahasa lain ngegosip.

Bisa dibilang saya orang pasar dan bodoh. Kata “bodoh” terbit sejak belia, sebagai anak terlahir prematur, urusan nalar kerap buntu kecuali tertimpa gencetan. Dan itu pun terjadi -saya ingat betul kejadiannya: saya bertiga dengan dua teman naik perahu ruyung melaju di atas sungai, saat itu usia kami kelas empat Ibtidaiyah, perahu tersebut terbalik karam, kedua teman bisa berenang, sementara saya tidak, maka merangkaklah diri dari dasar sungai wingit sambil mengingat-ingat tepian terdekat, Alhamdulillah sampai di tepi keselamatan. Di waktu lain saya cetuskan sebuah kata mutiara, kalau tak keliru terkumpul di buku Ujaran-Ujaran Hidup Sang Pujangga, “Orang yang selamat dari bencana, akan menyelamatkan bangsanya.” Tentu aforisma tersebut didukung banyak referensi atas kejadian-kejadian menimpai para tokoh, agar apa yang terkata sealur perjalanan suatu sejarah. Mengenai kata “pasar,” pembaca tahulah arus persaingan di dalamnya, yang mengharuskan bermental tangguh agar tidak dianggap enteng lawan pebisnis, sebisa mungkin menguasai jalur-jalur perdagangan, jikalau berhasrat menerjuninya. Dan sejak Tsanawiyah, pergaulan hidup saya sudah dengan orang-orang serampangan luar desa, diri pelajari betul dan tercacat di lembar-lembar ingatan. Saya pikir benar, kejujuran paling utama di segenap kehidupan. Akhirnya, Hasbunallah wanikmal wakil nikmal maula wanikman nasir, la hawla wala quwwata illa billahil aliyyil azim…
***

*) Tukang posting di website Sastra-Indonesia.com dan puluhan pasukan blogspot.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *