L.K. Ara dan Semangat Sastra yang Terus Menyala

Lesik Keti Ara, Sosok inspiratif dari Tanah Gayo


Willy Ana
steemit.com

ANAK-anak muda pegiat sastra menyapanya dengan sebutan Ayah. Ayah Ara. Termasuk saya. Putra kelahiran kutelintang Takengon Aceh Tengah 12 November 1987 adalah salah seorang sastrawan penting Indonesia. L.K. Ara, nama lengkapnya Lesik Keti Ara, adalah seorang penyair yang hingga sekarang terus berkarya dan terus aktif dalam kegiatan-kegiatan sastra di mana saja. Meskipun usianya sudah senja, 81 tahun, ia tak pernah lelah. Ia kerap hadir di banyak kegiatan sastra di dalam dan luar negeri. Penampilannya teduh dan bersahaja. Ia sosok “ayah” bagi para penulis muda seperti saya.

Bukan hanya berkarya, LK Ara juga masih bekerja dalam bidang yang sangat dicintainya yakni dunia buku. Ia ikut mengelola perpustakaan milik sebuah grup bisnis retail terkemuka di Indonesia. Jadi pagi-pagi ia sudah ke kantor, sore ia pulang ke tempat tinggalnya — sebuah kamar kost di kawasan Kemang, persis di belakang Kantor Wali Kota Jakarta Selatan. “Kalau pagi saya jalan kaki ke kantor. Sambil olah raga. Pulangnya baru naik bajaj,” ujarnya suatu kali ketika kami bertandang ke tempat tinggalnya. Tempat kerjanya berjarak sekitar satu hingga satu setengah kilometer dari tempat tinggalnya.

Ia memilih tinggal di tempat kos dekat tempat kerja. Adapun rumah pribadinya berada di Cimanggis, Depok. “Tidak kuat kalau harus jalan dari Cimanggis tiap pagi ke Blok M,” ujarnya pada saat yang lain. “Belum lagi macetnya.” Memilih kos juga membuat ia bisa menghemat waktu yang bisa ia pergunakan untuk menulis dan membaca. Setiap hari selalu ada puisi yang ia tuliskan. Sebelumnya, puisi itu sering diposting di Facebook dan grup Ruang Sastra. Belakangan ia mengenal Steemit dan puisi-puisinya pun diposting di media sosial berbasis blockhain itu.

Kegiatan menulis sudah ia mulai sejak duduk di bangku SMP. Putra Gayo ini mengenyam pendidikan di Bangku SD dan SMP Takengon, pendidikan di Taman Madya (Taman Siswa Medan) dan meneruskan pendidikan di perguruan tinggi Jurnalistik, Medan . Ayah Ara juga pernah menjadi guru SMP Sinar Kemajuan Jakarta pada tahun 1959. Ia juga bekerja di kantor Kabinet Perdana Menteri hingga tahun 1962. Setahun kemudian ia pindah ke Balai Pustaka sampai pensiun tahun 1985. Saat ayah Ara bersekolah di Taman Madya Medan , ia menjadi Redaktur Kebudayaan Mimbar Umum yang terbit di Kota itu. Kala itu, ia banyak menulis sajak-sajak yang dimuat Majalah Indonesia, Mimbar Indonesia, dan Pustaka Budaya, Jakarta. Buku-buku yang ia lahirkan tak hanya puisi, juga esai, analisis sastra, hingga buku cerita anak.

L.K. Ara tercatat sebagai pengarang yang menulis lebih banyak genre karya sastra. Hingga sekarang tercatat lebih 20 buku puisi yang ia terbitkan dan puluhan buku lain seperti buku cerita anak, puisi anak, cerita rakyat, esai, teks budaya, karya-karya sastra tradisi, seperti didong dan pantun, dan sebagainya. Ia juga sering bekerjasama dengan teman-teman sesama penyair seusianya pada waktu itu untuk membuat antalogi sastra bersama. Antara lain : Bersama sahabatnya Taufiq Ismail, ia menyusun antalogi sastra Aceh dengan judul Seulawah (1995).

Ayah Ara juga dikenal aktif dalam seni pentas. Pada tahun 1967 ia ikut mendirikan Teater Balai Pustaka bersama Rusman Sutiasumarga dan M. Taslim. Ia juga dikenal sebagai “penaja” yang membawa dan memperkenalkan kesenian dari Aceh yaitu Toet . Ayah Ara juga tercatat sebagai ketua Asosiasi Kesenian Gayo (ASG). Dan tahun 2005 ia menjadi motor penerbitan buku-buku sastra di Bangka Beliting (Babel).

Ayah Ara tidak pernah letih dan patah semangat dalam dunia sastra. Ia benar-benar mendedikasikan dirinya ke dunia kesenian. Ia tak henti menerbitkan karyanya. Hampir tiap tahun ada bukunya yang terbit. Pada tahun lalu (2017) ia menerbitkan kumpulan puisi Sufistik berjudul “Ucap Gemercik Air”. Dan buku ini diluncurkan di Perpustakaan MPR RI. Yang dihadiri oleh puluhan penyair termasuk saya @willyana dan Bapak Ahmad Depoditiro, Direktur Pasaraya.

Tahun lalu sejumlah sastrawan yang dikoordinatori oleh saya @willyana dan @musismail mengajak sejumlah sastrawan Indonesia dan negeri tetangga untuk memberikan apresiasi sekaligus memperingati ke-80 tahun usia beliau. Kami membuat antalogi sastra 80 tahun LK Ara. Dengan judul Jejak Kata (penyusun @musismail, @willyana, Imaji Indonesia). Peluncuran buku ini diselenggarakan di sebuah kafe berlokasi di Jakarta yang berada di samping Hotel Melineum yaitu Boulevard Aceh Coffee. Acara itu diadakan bertepatan dengan 80 hari kelahirannya pada November 2017. Alhamdulillah peluncuran buku ini sukses. Dengan dihadiri sejumlah sahabat dekat Ayah Ara dan penyair lainnya. Antara lain, Yose Rizal Manua, Eka Budianta, Fikar W Eda, @jkfarza, dan lain-lain.

Meskipun usianya sudah senja, tapi ayah Ara tetap memberikan inspirasi kepada anak-anak muda terutama di kalangan penulis atau penyair dan seniman untuk jangan berhenti menulis dan berkarya, Jangan patah semangat. Tidak hanya mendukung seniman sastra, ia mendukung seniman bidang seni apa saja. Kini, misalnya, ia tiap hari menulis puisi yang dipersembahkan untuk Nabila, putri Gayo yang sedang berkompetisi di Liga Dangdut Indosiar. “Tiap hari saya menulis satu puisi berjudul Bunga Nabila,” ujarnya. Nabila, yang menjadi peserta dari Aceh, masuk enam besar kompetisi itu. Tercatat sudah lebih dari 15 puisi yang ia ciptakan untuk Bunga Nabila ini. Tak hanya itu, ia juga beberapa kali menonton langsung penampilan Nabila di stasion televisi Indosiar.

Pada tanggal 6 April 2018 lalu, ayah Ara diundang ke Istana Negara dalam acara pertemuan para seniman dan budayawan dengan Bapak Presiden Jokowi. Ayah Ara pun punya ide membuat buku puisi tentang Pak Jokowi ketika tinggal dan bekerja di Tanah Gayo. Sekarang ia sedang menyiapkan buku itu yang direncanakan terbit dalam tahun ini. Saya sempat diperlihatkan rancangam awal cover buku itu.

Ide-idenya memang terus muncul untuk menulis dan mewarnai sastra dan kesenian Indonesia. Semoga Ayah Ara selalu sehat dan terus menginspirasi sampai akhir hayatnya.

Depok, 30 April 2018

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *