Novel Orang-Orang Bertopeng (12)

Dimuat bersambung di harian Sinar Harapan, edisi 27 Maret-10 Mei 2002

Teguh Winarsho AS

Sementara Salman memasuki ruang pemeriksaan, Hasan mengerang-ngerang kesakitan setelah menenggak minuman dalam gelas. Tubuhnya berkelejotan mirip cacing dipanggang. Dari mulutnya terus mengalir cairan coklat-merah-kehitaman. Entah berapa banyak cairan yang keluar dari mulut Hasan, tubuhnya lemas tak bertenaga. Nafasnya mengerjat, satu-satu…

TUJUH

Hayya ‘alal falaah, Hayya ‘alal falaah…
Allahu akbar, Allahu akbar…
Laa illaha illallaah…

SUARA speaker dari meunasah baru saja mengumandangkan adzan ‘ashar. Tampak Haji Amir mengenakan kopiah dan surban putih berjalan terbungkuk-bungkuk menuju meunasah. Di belakang Haji Amir ada beberapa anak kecil melangkah saling bersicepat membawa buku iqro’ dan juz ‘amma. Seperti biasa Haji Amir akan menjadi imam salat ‘ashar lalu mengajar anak-anak mengaji hingga menjelang maghrib. Selain Haji Amir dan anak-anak, nyaris tidak ada laki-laki dewasa dan tua yang ikut jamaah ‘ashar di meunasah. Mereka masih sibuk di ladang dan sawah.

“….A-ba-ta. Ba-ta-a. A-ta-ba. Ta-a-ba…..”

Dari meunasah mulai terdengar suara anak-anak belajar membaca huruf arab diseling suara Haji Amir yang serak, parau. Kadang terdengar tongkat Haji Amir dihentak ke papan tulis ketika anak-anak mulai tidak konsentrasi belajar. Sontak anak-anak terdiam, melotot ke papan tulis.

“….Ja-a-ha. Ja-ha-sa. Ha-ja-ta. Ba-ha-sa. A-ha-ba….”

Matahari mulai runduk. Suara anak-anak terdengar semakin sayup. Pada saat bersamaan seorang laki-laki muncul dari balik tikungan jalan. Kemunculan laki-laki itu mengejutkan orang-orang yang baru pulang dari ladang. Mereka menduga laki-laki itu sudah tewas menemui ajalnya. Atau kalau pun pulang pastilah dalam keadaan sinting alias gila. Ternyata tidak. Laki-laki itu, Salman, sehat-sehat saja. Bahkan tidak ada bekas luka yang berarti ditubuhnya. Hanya goresan kecil di lengan kiri yang tidak seberapa.

Salman, laki-laki itu, menebar senyum pada orang-orang yang ditemuinya di jalan. Sesekali melambaikan tangan sambil bergegas tak sabar ingin segera sampai rumah.

Kedua orang tua Salman menyambut kedatangan Salman dengan suka cita, menangis haru. Dan, seperti biasa orang-orang kampung segera datang berduyun-duyun ke rumah Salman. Mereka ingin mendengar langsung cerita dari Salman.

Dengan lancar Salman menceritakan semua peristiwa yang ia alami bersama Hasan. Mulai dari ketika ditangkap gerombolan orang bertopeng di jalan setapak saat akan menghadiri rapat di rumah Teuku Malik sampai ia dimasukkan ke dalam mobil lalu dijebloskan ke dalam ruangan sempit, pengap, lalu dipindah lagi ke ruangan lain di tempat yang cukup jauh, entah di mana. Salman menceritakan semua peristiwa yang ia alami dengan detail seolah peristiwa-peristiwa itu sudah melekat kuat dalam batok kepalanya. Bagaimana kondisi ruangan yang ia huni; apa saja isinya, seberapa luas dan masih banyak lagi. Bagaimana perlakuan orang-orang bertopeng pada dirinya. Bagaimana makanan yang disuguhkan dan lain sebagainya.

Orang-orang kampung yang mendengar cerita Salman mengangguk-angguk, entah apa yang kemudian terlintas dalam benak mereka. Mungkin mereka membayangkan bentuk ruangan yang digambarkan Salman atau membayangkan seperti apa wajah gerombolan orang bertopeng itu.

“Terus bagaimana dengan Hasan? Di mana sekarang?”

“Iya, di mana?”

“Kenapa belum pulang?”

“Kenapa hanya kamu yang dibebaskan?”

“Ada apa dengan Hasan?”

Pertanyaan beruntun itu membuat Salman kewalahan, juga gugup. Sesuatu, entah apa, tiba-tiba berdesir di hatinya. Tapi Salman cepat bisa menguasai diri. Dihisapnya tembakau kretek di mulutnya dalam-dalam lalu disemburkan asapnya perlahan ke udara.

“Hai, jangan ribut sendiri. Biarkan Salman bercerita,” teriak seseorang di deretan belakang ketika suasana mendadak gaduh, bergeremeng, mirip lebah bubar.

Salman hanya tersenyum sembari menjentikan abu rokok.

“Begini,” Salman mulai bercerita lagi. Orang-orang menahan nafas. “Suatu malam ketika kami sedang tidur, orang-orang bertopeng itu mendatangi kami lalu menyeret Hasan keluar. Aku tidak tahu Hasan mau dibawa ke mana…..” Berhenti menghisap rokok. Sorot mata Salman mendadak berubah redup, menerawang jauh.

“Terus?”

“Hanya dua menit dari kejadian itu aku mendengar bunyi tembakan berkali-kali. Semula kukira itu tembakan kosong ke udara. Ternyata bukan. Beberapa saat kemudian tiga orang bertopeng membawa tubuh Hasan yang sudah hancur tak bernyawa ke hadapanku. Aku kasihan sekali. Aku sebenarnya tidak sampai hati melihat tubuh Hasan yang hancur. Tapi orang-orang bertopeng memaksaku. Aku akan ditembak jika tidak mau melihat Hasan….”

Untuk waktu yang cukup lama mendadak suasana sunyi. Senyap. Orang-orang tersirap cerita Salman.

“Lantas?” seseorang tiba-tiba menyela.

“Dibawa ke mana mayat Hasan?

“Entahlah, tapi, dari cerita yang pernah kudengar, konon, gerombolan orang bertopeng suka membuang mayat manusia ke jurang di tengah hutan atau dibawa ke laut lepas untuk menghilangkan jejak. Mayat-mayat itu akan menjadi santapan binatang buas. Aku menduga Hasan dibawa ke sana. Sungguh mengerikan…..” Salman geleng-geleng kepala diikuti orang-orang di sekitarnya.

Setelah puas mendengar cerita Salman, orang-orang pulang ke rumah masing-masing. Sampai di rumah, seperti biasa, mereka kemudian menceritakan apa yang baru mereka dengar kepada anak, istri, kakek, nenek, saudara, tetangga, atau siapapun juga yang belum mendengar cerita Salman. Begitu piawainya mereka bercerita seolah-olah mereka mengalami sendiri semua kejadian itu.

Berita kepulangan Salman dan berita kematian Hasan segera menyebar. Semua penduduk kampung tahu. Tidak ketinggalan keluarga Fatma.

Fatma sangat sedih mendengar berita itu. Belum hilang perasaan sedih kehilangan Hamidah, calon Ibu mertua, kini ia juga harus kehilangan Hasan, kekasihnya, tunangannya. Harapan-harapan yang dulu pernah ia bangun bersama Hasan, kini benar-benar musnah. Doa-doa yang ia lantunkan seolah tak berarti apa-apa. Dunia mendadak berubah menjadi kelam di mata Fatma. Tak ada sepercik cahaya yang dapat ia lihat untuk menjemput hari esok. Apalagi masa depan.

Fatma lebih banyak mengurung diri di kamar. Tak mau keluar kecuali untuk makan atau mandi. Fatma juga tidak mau ketemu dengan orang-orang kampung. Berulangkali Umi menasehati agar ia tabah menerima cobaan dan jangan terlalu larut dalam kesedihan. Tapi nasehat-nasehat itu hanya masuk telinga kanan, lalu keluar lagi lewat telinga kiri. Fatma tetap mengurung di kamar. Bicara seperlunya jika Abah atau Umi mengajak bicara. Beberapa teman Fatma yang datang ingin menghibur, hanya tertahan di ruang tamu karena Fatma benar-benar tak mau keluar menemui mereka.

Tubuh Fatma semakin kurus. Keceriaan lenyap dari wajahnya. Tak ada tawa, canda, celoteh, nyanyian atau apapun yang keluar dari mulut Fatma sebagaimana hari-hari biasanya. Pohon-pohon bunga milik Fatma di halaman depan kini juga menjadi layu tidak pernah disiram. Tidak ada orang yang mau merawat pohon-pohon bunga itu selain Fatma. Tapi Fatma sendiri kini nasibnya sama seperti pohon-pohon bunga itu; layu. Sayu.

“Sudahlah, Fatma, semua ini sudah diatur Allah. Kamu harus tabah. Kamu harus segera bangkit Fatma!” kata Umi suatu malam memberi semangat ketika hampir seharian Fatma mengurung di kamar.

“Seribu kesedihan tidak akan bisa mengembalikan Hasan. Jika benar Hasan sudah meninggal, doakan saja semoga dia bahagia disisi-Nya. Ini semua sudah menjadi takdir Allah…” Abah menyahut.

“Ada baiknya jika kamu mulai berpikir lagi tentang pekerjaan. Carilah kerja di kota. Dengan begitu kamu bisa cepat melupakan semua kejadian ini.”

“Betul, Fatma, menganggur terlalu lama tidak enak. Apalagi dulu kamu pernah kerja.”

“Ah, ya, siapa tahu tempatmu kerja dulu masih mau menerimamu.”

“Ya, siapa tahu, Fatma. Cobalah kamu datang lagi ke sana.”

Fatma menatap langit-langit kamar. Fatma sebenarnya tidak butuh nasehat-nasehat seperti itu yang hanya membuat dirinya hancur, semakin teringat Hasan. Yang ia butuhkan sekarang adalah kesendirian. Kesunyian. Untuk merenungkan semua kejadian yang beruntun menimpa dirinya. Jauh di dasar hati sebenarnya ia sadar bahwa dirinya memang harus bangkit. Harus melupakan semua kesedihan. Harus!

(bersambung)

***

One Reply to “Novel Orang-Orang Bertopeng (12)”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *