Cikal Bakal #2

Muhammad Yasir

A. Darwish terbuang dari Lamongan, ditolak para tetangga di Gresik, dan terdampar di Surabaya bersama istrinya, seorang perempuan Madura. Beberapa waktu lalu, dia kerap datang ke toko buku hanya untuk bercerita bagaimana pesakitan hidup di darah dan dagingnya serta membantu memotret buku-buku.

Hampir dua minggu ini, lelaki jangkung dan lemah ini tidak datang ke toko. Dia memberi kabar bahwa sekujur badannya lemas dan sakit. Bahkan untuk berjalan di koridor rumah pun dia tidak mampu. Dia juga tidak menceritakan apa sesungguhnya penyakitnya itu. Akan tetapi, muncul dugaan dalam kepala bahwa kekurangan vitaminlah dia.

Sesekali dia menceritakan bahwa dia gagal menulis. Terkhusus menulis cerita pendek dan puisi. Dia bertanya, apakah dirinya kurang peka dan menghayati kepedihan hidupnya; terbuang dari Lamongan, ditolak para tetangga di Gresik, dan terdampar bersama istrinya yang baik dan telaten merawatnya di Surabaya?

“Aku merasakan bahwa kepekaanku terlalu lemah untuk bekerja menyerap dan merasakan kepedihanku?” Katanya sembari menghadap layar PC.

Di saat bersamaan, istrinya bersedih. Perempuan-perempuan seperti istrinya mungkin tidak memiliki bahasa yang mewakili kesedihan hatinya. Tapi cintalah yang membuat dia bertahan dan melakukan penerimaan terhadap A. Darwish. Atau, barangkali ada hal yang mewah pada diri A. Darwish. Bisa saja. Hanya dia yang merasakan itu.

2021 Surabaya.

2 Replies to “Cikal Bakal #2”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *