LENGA TALA: BETIS DAN KUTUKAN (84-89)

Sunu Wasono

LENGA TALA: BETIS DAN KUTUKAN (84)

Di hadapan Kurawa dan Pandawa dua orang seperguruan itu saling bertukar pengalaman setelah sekian lama tak bertemu. Semua yang ada di sekitar mereka menyimak. “Seharusnya kita bisa berbincang lama pada waktu Kakang ke Pancalaradya. Tapi tragedi itu membuat kita tak bisa berbincang lama-lama. Kakang pamit dalam keadaan masih sakit hati. Continue reading “LENGA TALA: BETIS DAN KUTUKAN (84-89)”

LENGA TALA: BETIS DAN KUTUKAN (60-68)

Sunu Wasono

LENGA TALA: BETIS DAN KUTUKAN (60)

Yamawidura terkejut. Tak dinyana bahwa ada musuh di dalam selimut. Baru ia mau bicara kepada Sengkuni, Gandamana yang marahnya tak bertepi itu telah menggelandang Sengkuni ke alun-alun. Ditumpahkanlah amarahnya ke Sengkuni. Setelah dijotos dan ditendang berkali-kali, Sengkuni dibanting. Kedua tangannya ditelikung. Continue reading “LENGA TALA: BETIS DAN KUTUKAN (60-68)”

LENGA TALA: BETIS DAN KUTUKAN (50-59)

Sunu Wasono

LENGA TALA: BETIS DAN KUTUKAN (50)

Keluar dari istana Pancalaradya, Kumbayana tak mau menoleh lagi ke belakang. Hasrat untuk berguru pada seseorang sudah bulat. Seseorang itu tak lain adalah Ramabargawa. Ia berharap setelah tamat dirinya akan mendapat jalan untuk memberi pelajaran Gandamana yang telah merusak tubuhnya. Ia yakin apa yang diinginkannya akan terlaksana. Untuk itu, ia pun tak henti-hentinya berdoa. Dalam doanya ia minta keadilan kepada dewa. Ia minta agar keinginannya untuk memberi pelajaran Gandamana di kelak kemudian hari dikabulkan. Continue reading “LENGA TALA: BETIS DAN KUTUKAN (50-59)”