BEKAL LANJUT PENGAPRESIASI SASTRA (17)

Djoko Saryono *

Yang dimaksud dengan bekal lanjut pengapresiasi sastra ialah bekal tambahan atau berikutnya yang seyogianya dimiliki oleh pengapresiasi sastra agar dapat melakukan kegiatan apresiasi sastra secara lebih bermakna, meluas, mendalam, kaya, dan tajam. Bekal lanjut ini tidak harus dimiliki, tetapi sebaiknya atau seyogianya dimiliki. Jika tidak dimiliki, seorang pengapresiasi sastra tetap dapat melakukan kegiatan apresiasi sastra. Jika dimiliki, seorang pengapresiasi sastra bukan hanya dapat melakukan kegiatan apresiasi sastra, melainkan juga meluaskan dan mendalamkan perolehan kegiatan apresiasi sastra. Continue reading “BEKAL LANJUT PENGAPRESIASI SASTRA (17)”

BEKAL DASAR PENGAPRESIASI SASTRA (16)

Djoko Saryono *

Yang dimaksud dengan bekal dasar pengapresiasi sastra ialah bekal minimal yang harus ada dan dimiliki oleh pengapresiasi sastra agar dapat melakukan kegiatan apresiasi sastra secara minimal dan bersifat dasar. Segala sesuatu yang, inheren, melekat dalam diri pengapresiasi sastra bisa dijadikan bekal dasar. Jadi, bekal dasar ini bukan hasil pembelajaran yang khusus, melainkan bawaan dan penguasaan secara alamiah. Dalam batas tertentu memang dapat berupa hasil pembelajaran yang umum. Continue reading “BEKAL DASAR PENGAPRESIASI SASTRA (16)”

KERAGAMAN PENGAPRESIASI SASTRA (15)

Djoko Saryono *

/1/
Secara mental psikologis, keragaman pengapresiasi sastra dapat digolongkan menjadi dua macam, yaitu (i) pengapresiasi sastra yang intuitif-afektif, dan (ii) pengapresiasi sastra yang intelektualistis-kognitif. Yang pertama menekankan dan mengutamakan penggunaan unsur-unsur intuitif-afektif dalam melakukan kegiatan apresiasi sastra, sedangkan yang kedua menekankan dan mengutamakan unsur-unsur intelektualistis-kognitif dalam melakukan kegiatan apresiasi sastra. Sebagai contoh, Continue reading “KERAGAMAN PENGAPRESIASI SASTRA (15)”

KEIDIOSINKRETISAN DAN KEMOMENTANAN APRESIASI SASTRA (13)

Djoko Saryono *

Di muka sudah disinggung ihwal keindividualan, keidiosinkretisan, dan kemomentanan proses berlangsungnya apresiasi sastra. Ihwal keindividualan, keidiosinkretisan, dan kemomentanan ini perlu dijelaskan dan ditegaskan supaya penjelasan tentang keberanekaragaman dan faktor-faktor yang memengaruhi proses keberlangsungan apresiasi sastra tidak dipandang dan disikapi sebagai sesuatu yang konstan, tetap, dan tidak berubah. Sebabnya, kecenderungan mekanisme proses keberlangsungan apresiasi sastra dan faktor-faktor yang memengaruhinya berkaitan erat dengan keindividualan, keidiosinkretisan, dan kemomentanan ini. Continue reading “KEIDIOSINKRETISAN DAN KEMOMENTANAN APRESIASI SASTRA (13)”