Polemik yang Tak Aplikatif

Beni Setia
Lampung Post, 5 Sep 2010

KHASANAH sastra Indonesia penuh pertentangan biner yang tidak ada putusnya. Dari polemik kebudayaan dengan pilihan mem-Barat atau mereaktualisasi Timur. Lantas yang mendunia dengan yang menggali kekayaan lokal.

Terjadi clash antara sastra realisme sosial versus sastra agamawi dan humanisme universal. Keperkasaan liris menghasilkan penentangan berwujud Pengadilan Puisi di Bandung, di Surabaya almarhum Muhamad Ali mengeluhkan dominasi c.q. esei Izinkan Saya Bicara pada dekade 1970-an. Lantas lahir sastra sufi eskapistik dan sastra kritik sosial. Lalu muncul gerakan RSP dan BP. Continue reading “Polemik yang Tak Aplikatif”

MEMBACA UNTUK MEMAHAMI “ALAM PIKIRAN YUNANI” BUNG HATTA

Dwi Klik Santosa *

Setiap bangsa, betapa juga biadabnya, mempunyai dongeng dan tahyul. Ada yang terjadi karena diceritakan dari mulut ke mulut untuk menyegarkan cakrawala keseharian. Ada juga yang dimaksudkan sebagai muslihat untuk menakut-nakuti anak-anak, supaya ia jangan terlampau nakal.

Ada pula yang timbul atau muncul karena keajaiban alam, yang menjadi ihwal heran dan takut. Karenanya banyak orang yang lantas menyangka alam ini penuh dengan serba kegaiban dan keajaiban karena mitos dewa-dewa serta biduanda dan bidadarinya yang bermacam-macam itu. Continue reading “MEMBACA UNTUK MEMAHAMI “ALAM PIKIRAN YUNANI” BUNG HATTA”

Sastra Amerika Latin: Tak Sekadar Macondo vs. McOndo

Tanggapan untuk Artikel Imam Muhtarom

Ronny Agustinus *
Kompas, 23 April 2006

Untuk membahas khazanah sastra Amerika Latin yang demikian luas, beragam, dan vital dalam percaturan sastra dunia, sungguh penting bagi si pembahas untuk mengenali tema bahasannya dari sumber primer (artinya membaca betul-betul setiap penulis dan buku yang dirujuknya), agar terhindar dari generalisasi dan penyederhanaan berlebihan yang berpotensi menyesatkan. Continue reading “Sastra Amerika Latin: Tak Sekadar Macondo vs. McOndo”

Ladang Jiwa

Ladang Jiwa Laksmi Shitaresmi

A. Anzieb

Pameran ini dipersiapkan dalam kondisi yang tak mudah bagi Laksmi Shitaresmi. Perupa kelahiran Yogyakarta, 9 Mei 1974 ini mesti pandai-pandai membagi waktu – satu sisi ia harus mengerjakan “sesuatu” yang ada di sebelah kanan, disaat yang sama ia juga harus mengerjakan “sesuatu” yang ada di sebelah kirinya, memikirkan sesuatu yang menggumpal dalam kepalanya, meninggalkan jauh hal-hal di belakang dan terus menatap menjalani apa yang ada di depannya. Continue reading “Ladang Jiwa”