Yesus dan Si Holger

Fahrudin Nasrulloh
Jawa Pos, 16 Des 2007

Sore itu, 14 Desember 2002, langit cerah memendarkan cahaya kuning keperak-perakan dari patung Sleeping Buddha di Maha Vihara Mojopahit Trowulan. Tersebutlah Purnawarman, seorang kawan lawas di bangunan suci itu, yang beberapa hari sebelum ia memutuskan mengembara ke India, ia memberikan seabrek buku kepada saya. Salah satunya sebendel buku berparab Jesus Lived in India: His Unknown Life Before and After the Crucifixion karangan Holger Kersten. Continue reading “Yesus dan Si Holger”

SASTRA PERLAWANAN TERHADAP LUPA

Kajian atas DAZEDLOVE karya Rodli TL
Haris del Hakim*

Pengantar
Saya tidak mungkin menjelaskan atau menafsirkan bagaimana isi novel Dazedlove secara keseluruhan. Saya tidak ingin menciptakan satu asumsi tertentu sebelum pembaca membaca novel ini. Karena itu, saya hanya memberikan catatan-catatan yang saya anggap perlu dan menarik bagi saya. Anda pasti memiliki rasa tertarik yang berbeda dari saya dan tidak mungkin saya memaksakan ketertarikan saya kepada Anda, kecuali saya hanya merekomendasikan novel ini sangat penting yang mana nilai pentingnya akan saya jelaskan kemudian. Continue reading “SASTRA PERLAWANAN TERHADAP LUPA”

Apologia, Absurditas dan Puisi

Mashuri

Abad ini tidak hanya berada di akhir gagasan tentang puisi. Dunia imaji sudah terbelah dan jumbuh dengan realitas yang terfiksikan; dan ide-ide tentang bahasa semakin rapuh dan jauh dari proyeksi kreatif. Dalam kondisi hiperrealitas dan dunia dengan citra yang direkayasa, diperlukan upaya kreatif yang subversif untuk mengoyak kebuntuan itu. Salah satunya adalah dengan menembus batas, dan meradikalkan konsep tradisi dan pembaruan dalam titik yang paling ekstrim. Continue reading “Apologia, Absurditas dan Puisi”

Buku Puisi versus Buku Cerpen

Fahrudin Nasrulloh
Jawa Pos, 13 Juli 2008

Pada awalnya sejarah sastra kita adalah puisi. Dimulai dari pantun hingga puisi lama yang dapat disusuri lewat puisi-puisi Amir Hamzah. Selanjutnya berkembang di masa Chairil Anwar pada era 45. Kemudian gebrakan Sutardji Calzoum Bachri dengan membebaskan makna dari beban kata pada 1970-an dan Afrizal Malna pada 80-an dengan “puisi gelap”nya. Continue reading “Buku Puisi versus Buku Cerpen”

MENGADA BERSAMA JOSTEIN GAARDER

Nurel Javissyarqi*
http://pustakapujangga.com/?p=72

“Untuk mengada, kita tidak hanya mendapat jatah tempat. Kita juga punya rentang waktu yang sudah ditetapkan.” (Jostein Gaarder).

Pun bagaimana, dunia diciptakan melewati pengadaan, semisal mengawali tulisan yang menggelora. Segala yang terbentang kemudian, ternyata bukan endapan dalam, juga tidak sedari rentetan panjang penalaran. Kadang keseluruan mendadak meloncat dari fikiran-perasaan yang sempat terbangun, yang tidak sanggup mengikuti gerakan peredarannya. Continue reading “MENGADA BERSAMA JOSTEIN GAARDER”