Sastra dan Politisasi Agama

Alawi Al-Bantani *
Radar Sampit, 24/06/2018

Secara pribadi saya kurang tertarik dengan analisis novel “Perasaan Orang Banten” yang dihubungkan dengan karya Solzhenitsyn (Sehari dalam Hidup Ivan Denisovitch). Sastrawan Rusia itu tidak menjawab problem yang diajukan kaum politisi tentang pembangunan masyarakat yang ideal. Sifat kesusastraan hanya mengajukan pertanyaan-pertanyaan secara mendasar, karena di situlah keterbatasan ruang-gerak sastrawan yang tidak memegang kendali dan kewenangan – seperti halnya penguasa – untuk memutuskan suatu problem kemasyarakatan. Continue reading “Sastra dan Politisasi Agama”

Selayang Pandang Sastra Dayak

Setia Budhi, Ph.D *
Radar Sampit, 19 Juli 2020

Abstrak

Sastra tulisan oleh penulis Dayak sebenarnya sudah lama ada. Bahkan, beberapa berkelas dunia. Sayangnya, belum ada yang mengumpulkan karya-karya mereka yang terserak dan tercerai-berai dimana-mana, di sepanjang zaman. Hingga kini, memang tidak banyak penulis, pengarang, dan sastrawan, yang lahir dari etinik ini. Akan tetapi, diantara mereka telah mengambil bagian dalam perjalanan sejarah sastra Indonesia. Katakanlah misalnya nama Fridolin Ukur -salah seorang anggota Angkatan’66, JJ. Kusni – Continue reading “Selayang Pandang Sastra Dayak”

Aryadi Mellas, ”Nabi Sastra”-nya Annuqayah

Raedu Basha *
radarmadura.jawapos.com, 1/4/2019

Kalau Anda bertanya, siapakah salah seorang gembong sastra Indonesia di Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk, Sumenep, sehingga pesantren tersebut dikenal sebagai ”lumbung santri penyair”? Jawabannya adalah, tidak lepas dari seorang santri lelaki kelahiran Besuki, Jawa Timur, bernama Aryadi Mellas.

”Aryadi Mellas seumpama nabi bagi sastra dan kesenian di Pondok Pesantren Annuqayah sendiri,” jawab M. Faizi, seorang pengasuh muda Pondok Pesantren Annuqayah yang juga dikenal sebagai penyair, saat saya berkunjung ke rumahnya, 2 September 2015. Continue reading “Aryadi Mellas, ”Nabi Sastra”-nya Annuqayah”

Mempertanyakan Puisi Nadhaman

Raedu Basha *
Republika, 21 Sep 2014

Diakui atau tidak, puisi berbentuk nadham yang dimaksud dalam tulisan Dimas Indiana Senja (selanjutnya Dimas), “Estetika nadhaman (Republika, Ahad, 24 Agustus 2014) hanya bentuk ekspresi kebosanan dunia perpuisian akhir-akhir ini. Mengapa demikian? Puisi-puisi dalam dekade kekinian dalam pengamatan saya seperti diwakili oleh bahasa judul puisi Joshua Igo, “Puisi yang Mencari Alamat”. Continue reading “Mempertanyakan Puisi Nadhaman”

PEMUPUKAN SIKAP DAN PERILAKU POSITIF APRESIASI SASTRA (19)

Djoko Saryono

Sebagaimana sudah dikatakan bahwa sikap dan perilaku positif pengapresiasi diperlukan untuk menciptakan, mengembangkan, dan meningkatkan iklim, lingkungan, dan kegiatan apresiasi sastra. Oleh karena itu, sikap dan perilaku negatif pengapresiasi sastra perlu disingkirkan atau dibuang dan kepadanya perlu ditumbuhkan sikap dan perilaku positif. Di samping itu, sikap dan perilaku positif pengapresiasi sastra yang sudah tumbuh dan ada perlu dipupuk terus agar mantap dan kuat. Mantapnya dan kuatnya sikap dan perilaku positif pengapresiasi sastra akan membuat iklim, lingkungan, dan kegiatan apresiasi sastra semakin baik. Continue reading “PEMUPUKAN SIKAP DAN PERILAKU POSITIF APRESIASI SASTRA (19)”

Bahasa »