Sebuah Cerita : Flashback

Dody Kristianto *

Bila dalam proses kreatifnya Afrizal Malna menyatakan bila ia seorang yang negatif, maka saya akan mencoba untuk positif. Tentu saya berpositif terhadap tulisan yang saat ini sedang berada di hadapan para pembaca sekalian. Positif dalam arti saya tak ingin berumit-rumit dan beraneh-aneh dalam tulisan ini. Artinya saya mencoba untuk berbincang gamblang dan membuka perihal mengenai proses yang saya alami. Meski saya tahu, jika gamblang dalam kacamata saya belum tentu bagi para pembaca. Continue reading “Sebuah Cerita : Flashback”

Wawancara Veronita dari IKJ

Putu Wijaya
http://putuwijaya.wordpress.com/

VERO: Mas Putu sejak kapan mengenal teater?

PW:Di Tabanan, Bali, kota kelahiran saya ada 2 gedung bioskop. Nusantara dan Bali Teater. Nusantara kadang-kadang diubah jadi gedung pertunjukan amal untuk mencari dana. Yang dipertunjukan adalah sandiwara yang berlatar perjuangan revolusi. Latihannya kadang di dekat rumah saya, sehingga waktu kecil saya sudah mulai melihat orang berlatih bersandiwara. Saya senang sekali. Tetapi setiap kali TK saya mengadakan pertunjukan, saya tidak pernah terpilih ikut main.Di gedung NUSANTARA (sekarang jadi took swalayan) itu juga pernah main rombongan sandiwara dari Persari Jakarta, dengan artis-artis seperti raden Mochtar (terkenal dalam film Bengawan Solo). Continue reading “Wawancara Veronita dari IKJ”

Puisi, Antara Simfoni dan Cahaya

Nurel Javissyarqi*
http://pustakapujangga.com/?p=651

Awalnya ini tidak disengajakan memprosesikan kreativitas penulisan puisi. Namun setelah terjadi, kehendak itu baru terhadir. Di saat-saat saya seolah penyair, padahal baru dua kumpulan puisi yang terbit, “Antologi Puisi Persembahan Sarang Ruh (1999),” dan “Balada-Balada Takdir Terlalu Dini (2001).” Maka dapat dikategorikan sebentuk proses kreatif awal. Dan tulisan ini pernah menjadi pengantar diskusi di kampus Unisda Lamongan, akhir tahun 2001. Continue reading “Puisi, Antara Simfoni dan Cahaya”

“HISAP-MENGHISAP” Master Scene Film Dokumenter

S. Jai
ahmad-sujai.blogspot.com

Esensi

FILM ini menggunakan sudut pandang tokoh tertentu sebagai ujung mata pisau sekaligus prespektif melihat kenyataan–data, tulisan, artefak, informasi yang berangkat dari kenyataan fakta real. Prespektif berarti mengandung pengertian “cara-cara” atau “pandangan dunia” tertentu terhadap masalah yang diangkat: menggugat alur dana pembagian cukai. Continue reading ““HISAP-MENGHISAP” Master Scene Film Dokumenter”