Rahasia Kumari

Agus Dermawan T
Suara Pembaruan, 04 Nov 2007

Tanggal 7 bulan 7 tahun 2007 jam 7 pagi terlanjur dimitoskan orang sebagai waktu yang istimewa. Oleh karena itu studio Radio Swarakita pada jam, tanggal dan bulan itu banyak menerima tawaran siaran langsung dari berbagai pihak. Seorang pendeta jauh hari telah meminta radio untuk membuka pintu untuknya, agar pada saat itu ia bisa siaran khotbahnya. Seorang pengusaha muda dan sebuah grup band yang siap moncer juga menyorongkan jadwal yang sama. Seorang politisi anggota DPR ingin berbicara tentang “Indonesia yang lebih baik” pada jam 7 pula. Begitu juga seorang kyai yang biasanya menyiarkan dakwah magrib di radio itu. Continue reading “Rahasia Kumari”

Pintu yang Terkunci

Azizah Hefni
Jawa Pos, 01 Juli 2007

Ia pergi dengan gayanya yang gagah. Tangannya meraih kemeja dan celana, lantas mengenakannya. Ia sisir rambutnya, ia tuangkan minyak pelicin di atasnya. Laki-laki itu meraih jam tangan di meja sisi ranjang tempatku rebah, menyemprotkan minyak wangi, mengambil tas, dan memakai sepatu. Tanpa menolehku yang pura-pura terpejam, ia membuka pintu terkunci itu. Tak ada bunyi derit. Cukup halus ia membuka dan menutupnya. Barulah suasana tenang. Seperti lautan yang sepi gulungan ombak. Seperti pasar yang jelang petang. Seperti sekolahan yang ditinggalkan para murid. Continue reading “Pintu yang Terkunci”

Perut

Yanusa Nugroho
Jawa Pos, 03 Feb 2008

Malam larut, pekat, panas seperti ter. Tak ada udara yang mau bergerak, dan orang-orang itu pun seperti kehilangan pikiran.

Sementara laki-laki itu sendiri bahkan tak punya sebatang rokok pun untuk diisap. Kemarin, istrinya marah besar. Mungkin kesurupan roh Betari Durga. Semua dikutuknya. Bahkan tempayan kosong mereka, yang sudah beberapa bulan ini tak sempat terisi apa-apa itu, dikutuknya habis-habisan. Untunglah, kutukannya tidak manjur, sehingga tempayan itu tetap berujud tempayan. Continue reading “Perut”

Lubang Air

Eko Tunas
Suara Merdeka, 03 Juni 2007

BERLINANGAN air mata Rae membawakan air putih, melihat Roy memandang keluar jendela sambil menangis. Di luar sana sejauh mata memandang hamparan kota yang basah, lalu kali cokelat membelah kota. Gedung-gedung tinggi basah, juga sampah menggunung berleleran. Bahkan pesawat terbang di antara gerimis renyai, dan kereta api menembus rumah-rumah raya. Orang-orang tertunduk, membiarkan air mata yang terus mengalir dan dibiarkan karena saputangan telah kuyup. Tapi di jendela itu Roy tersenyum-senyum di antara linangan air mata, juga Rae yang bertubuh membasah. Continue reading “Lubang Air”

Sungai yang Tenang

Hudan Hidayat
Republika, 15 April 2007

Aku memandang ke sungai yang tenang. Dari jendela kamar lantai dua rumahku, nampaklah sungai yang tenang itu. Kadang-kadang hinggap burung di atasnya. Burung yang kecil. Dari kamarku terlihat ringkih. Tapi, ia tak pernah jatuh ke sungai itu. Selalu bisa terbang. Ringkih, tapi bisa terbang. Continue reading “Sungai yang Tenang”