Selembar Daun

A. Muttaqin
Koran Tempo, 4 Agu 2013

DAUN ini, entah daun apa—bentuknya bergerigi dan gerigi itu masih seperti beranak-pinak lagi, seperti kombinasi daun sakun, pepaya dan daun ganja—yang entah jatuh dari ranting mana, memintaku jadi pohon. Suatu sore, di jalan pulang, tepat di sisi kelokan yang menghubungkkan langgar, pasar krempyeng, pos ronda dan klinik bersalin, daun itu tiba-tiba bangkit dari tanah dan menghadang langkahku. Continue reading “Selembar Daun”

Sajak-Sajak A Muttaqin

cetak.kompas.com

Kuda Cahaya

Dia hanya kelebat, secepat kilat, tapi rambutnya yang panjang dan pekat, membebat kakiku yang jadi ungu setelah menyebut namamu: Kau yang lebih tinggi dari mimpi, lebih senyap dari sepi, lebih rinai dari bunyi. Dan dengan semua yang berakhir /i/ yang tak juga sampai

di watas wiru ini, ia memenuhi panggilanmu. Mencuci luka juga bunga-bunga yang tak jadi madah. Continue reading “Sajak-Sajak A Muttaqin”