Tuti, Dharta, dan Hari Esok

Eka Budianta *
Kompas, 11 Feb 2007

INDONESIA dikaruniai jiwa-jiwa yang teguh dan pikiran brilian. Itulah kekayaan termahal bangsa ini yang tidak boleh dilupakan. Kepergian dua penyair “paruh waktu”, Tuti Gintini (45) dan AS Dharta (83), pada awal Februari 2007 dengan jelas mencatatkan hal ini. Mengapa terpaksa disebut “penyair paruh waktu”? Karena kepenyairan mereka menumpang pada predikat lain yang lebih mapan. Continue reading “Tuti, Dharta, dan Hari Esok”

A.S. Dharta (1923-2007): Akhir Hidup Pengarang Lekra

Ajip Rosidi *
Pikiran Rakyat, 17 Feb 2007

PADA dasarnya A. S. Dharta itu seorang romantis. Hal itu tampak di antaranya dari nama-nama pena yang digunakannya. Pada masa revolusi, ketika dia mulai menulis sajak dalam majalah Gelombang Zaman yang terbit di Garut dipimpin oleh Achdiat K. Mihardja dengan Tatang Sastrawiria, dia menggunakan nama Kelana Asmara. Kita tahulah kira-kira orangnya bagaimana kalau mempergunakan nama seperti itu. Continue reading “A.S. Dharta (1923-2007): Akhir Hidup Pengarang Lekra”

Mengenang Hidup Orang Lain

Ajip Rosidi *
Pikiran Rakyat, 7 Apr 2007

MENGENANG hidup orang yang sudah meninggal, niscaya tergantung kepada hubungan yang dikenang dengan yang mengenang. Setiap orang niscaya punya kenangan atau anggapan yang berlainan tentang seseorang. Tulisan saya “A. S. Dharta 1923-2007” (judulnya diubah redaksi menjadi “Akhir Hidup Pengarang Lekra”/ Khazanah, “PR”, 24/2/2007) telah mendapat reaksi dari dua orang yang berlainan. Continue reading “Mengenang Hidup Orang Lain”