Abdoel Moeis dan Hari Sastra

Beni Setia *
Lampung Post, 28 April 2013

AKHIRNYA, di Bukittinggi, Minggu (24/3/2013), Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Wiendu Nuryarti resmi menatapkan 3 Juli sebagai Hari Sastra Indonesia –dengan berpatokan ke hari kelahiran Abdoel Moeis. Jadi tak heran kalau momentum pengumuman resmi itu dilakukan di kompleks SMAN 2 Kota Bukittinggi, yang dulu pernah jadi tempat sastrawan Abdoel Moes bersekolah. Continue reading “Abdoel Moeis dan Hari Sastra”

TAFSIR SEJARAH DALAM NOVEL SALAH ASUHAN

Maman S. Mahayana *

Setiap karya sastra adalah hasil pengaruh yang rumit dari faktor-faktor sosial-politik-kultural. Novel Salah Asuhan (1928) karya Abdoel Moeis, juga kelahirannya tak dapat dilepaskan dari faktor-faktor tersebut. Itulah sebabnya, usaha mengungkapkan apa yang sebenarnya terjadi di balik teks Salah Asuhan, penting artinya untuk menangkap amanat pengarangnya yang juga berkaitan erat dengan situasi sosial dan semangat zamannya. Continue reading “TAFSIR SEJARAH DALAM NOVEL SALAH ASUHAN”

POLITIK DALAM SASTRA ZAMAN BALAI PUSTAKA

Maman S. Mahayana *

Membandingkan novel Sitti Nurbaya dengan karya sastra yang terbit melampaui zamannya dari belahan bumi mana pun, tentu saja dibolehkan. Begitu juga tak ada undang-undang yang melarang mencantelkan tema atau konteks novel itu dengan kondisi sosio-budaya yang terjadi pada masa kini. Bukankah kita “masyarakat sastra” meyakini, bahwa begitu karya itu terbit dan kemudian menyebar ke khalayak pembaca, seketika pula ia bebas dimacam-macami. Pembaca punya hak penuh memperlakukannya sekehendak hati, termasuk dalam hal memaknainya. Continue reading “POLITIK DALAM SASTRA ZAMAN BALAI PUSTAKA”