Hikmah Pembaca, “Chemistry” Pengalaman Kebahasaan dan Keruhanian Puisi

Abdul Wachid B.S. *
badanbahasa.kemdikbud.go.id

Medium puisi adalah bahasa yang merupakan lambang-lambang yang digunakan untuk berkomunikasi oleh manusia sehingga membangun suatu komunitas pemakai bahasa tertentu yang disebut suku, bangsa, dan negara. Lambang-lambang yang dipakai oleh bahasa dipengaruhi oleh banyak faktor pembangunnya, baik alam maupun manusia, yang direspons oleh manusia. Dapat dipahami bahwa bahasa sehari-hari yang dipakai berkomunikasi oleh masyarakat pemakainya merupakan sistem perlambangan. Continue reading “Hikmah Pembaca, “Chemistry” Pengalaman Kebahasaan dan Keruhanian Puisi”

TERALIENASINYA MANUSIA DARI DUNIA YANG DIPERSEPSI DAN DIPOSISIKANNYA

Abdul Wachid B.S. *
badanbahasa.kemdikbud.go.id

Kesadaran terhadap ruang dan waktu adalah obsesivitas pribadi aku-lirik di dalam sajak-sajak Bagus Likurnianto. Kemarin, hari ini, dan esok senantiasa dipertanyakan eksistensinya oleh aku-lirik. Sampai batas yang paling ekstrem dia mempertanyakan, “Amaya, kita ini siapa?” Itulah bentuk dari pertanyaan-pertanyaan eksistensial aku-lirik di dalam banyak sajaknya, sebagaimana sebuah “Pawon”, yang telah membakar keheningan dalam dada: Continue reading “TERALIENASINYA MANUSIA DARI DUNIA YANG DIPERSEPSI DAN DIPOSISIKANNYA”

Bahasa Sajak di Antara Subjektivitas

Abdul Wachid B.S. *
badanbahasa.kemdikbud.go.id

Ada perbedaan tertentu antara bahasa di dalam sajak dan bahasa di luar sajak. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa bahasa pada umumnya adalah alat untuk mengomunikasikan segala sesuatu yang berhubungan dengan hal-hal yang berlangsung di dalam jiwa manusia. Sementara itu, yang membedakan bahasa di dalam sajak dengan bahasa di luar sajak adalah adanya kenyataan lain yang tersembunyi di balik bahasa sajak yang berupa tujuan awal penyair, ungkapan hati, perasaan, daya khayal, dan wilayah kenyataan baru yang sedang dijelajahi penyair. Continue reading “Bahasa Sajak di Antara Subjektivitas”

Puisi Menjadi Media Ekspresi Pengalaman Religius

Abdul Wachid B.S. *
badanbahasa.kemdikbud.go.id

Di dalam tasawuf, yang dimaksudkan dengan cinta (mahabbah) adalah cinta mutlak kepada Allah. Menurut Ibnu ‘Arabi (via Affifi, 1989: 238), basis timbulnya cinta itu disebabkan oleh keindahan. Di samping itu, “Islam sendiri benar-benar menganggap aspek ketuhanan sebagai keindahan dan gambaran ini dijadikan tumpuan istimewa dalam tasawuf, yang secara alami berasal dan mengandung inti (haqaa’iq) ajaran Islam,” demikian ungkap Seyyed Hossein Nasr (via Hadi W.M., 2001: 10). Continue reading “Puisi Menjadi Media Ekspresi Pengalaman Religius”