Perempuan di Lambung Kota

Adek Alwi
http://www.suarakarya-online.com/

PEREMPUAN itu sudah lenyap ditelan Jakarta, justru di depan mataku pula. Padahal tengah kubangun bulan di wajahnya, agar kami dapat mandi cahaya purnama di suatu kota yang serba tidak tergesa-gesa. Dan bercakap-cakap berdua dengan suara rendah tentang hidup sehari-hari, anak-anak, para sahabat, tetangga ataupun sanak-famili. Continue reading “Perempuan di Lambung Kota”

Bukittinggi di Peta Sastra

Adek Alwi*
http://www.suarakarya-online.com/

KOTA Bukittinggi, Sumatera Barat, boleh jadi sudah lenyap dalam peta sastra Indonesia. Atau bulatan-merahnya yang dulu tegas, nyata, sekarang samar saja. Tidak terdengar lagi aktivitas sastra di kota itu.

Juga tak terbaca karya sastrawan yang ada di kota itu, misalnya dalam jurnal dan majalah sastra atau ruang-ruang sastra surat kabar. Beda dengan kota tetangganya, dan yang lebih kecil, Payakumbuh. Continue reading “Bukittinggi di Peta Sastra”

“Tarian Cermin”: 99 Sajak Mustafa Ismail

Adek Alwi
http://www.suarakarya-online.com/

PALING tidak ada tiga sebab mengapa tahun 1970-an dan 1980-an tak banyak benar sastrawan asal (dan yang tinggal di) Aceh kita kenal. Pertama, mereka mungkin tak serajin LK Ara, Isma Sawitri, Zakaria M Passe (untuk contoh yang tak banyak itu) mempublikasikan karyanya di majalah dan koran Jakarta. Kedua, teknologi informasi termasuk dunia penerbitan belum semaju periode-periode sesudah itu. Continue reading ““Tarian Cermin”: 99 Sajak Mustafa Ismail”

Azwina Azis Miraza: Yang Melangkah di Jalan Sastra

Adek Alwi
http://www.suarakarya-online.com/

DUA kumpulan puisi Azwina Aziz Miraza diluncurkan di PDS HB Jassin, TIM, Jakarta, 16 Januari 2009. Ina, begitu ia biasa disapa, lahir pada 13 Januari 1960 dan wafat 8 September 2008. Jadi, walau agak terlambat peluncuran dua buku itu juga dimaksudkan rekan-rekan seniman di Jakarta sebagai peringatan 100 hari kepergian Azwina, sekaligus hari kelahiran dia. Dan Ina memang tak mungkin untuk tidak dikenang. Continue reading “Azwina Azis Miraza: Yang Melangkah di Jalan Sastra”

Pengarang Indonesia dan Dunia yang Terbuka

Adek Alwi
http://www.suarakarya-online.com/

USAI Idul Fitri 2007 lalu Pemrov DKI Jakarta kembali merazia kaum urban baru, seakan menegaskan lagi “ketertutupan” Jakarta bagi mereka. Tetapi bagi kaum pengarang hal itu kini tidak penting-penting amat. Mau terbuka atau tertutup Jakarta bukan lagi yang memiliki fasilitas terlengkap dan oleh karena itu harus diserbu. Dunia telah berubah. Juga Tanah Air, berkat kemajuan teknologi informasi-komunikasi. Continue reading “Pengarang Indonesia dan Dunia yang Terbuka”