Kuburan Teater Afrizal Malna

Fahrudin Nasrulloh *
Jawa Pos, 20 Jan 2013

Ada yang tak selesaikah setelah kita menonton teater? Mungkin masih ada bara kecil di puntung rokok yang diludeskan ke asbak dan itu berkelip-kelip sebentar lalu mati, serupa itukah yang mengendap pada diri penonton seusai pertunjukan teater? Kita akan menghadapi Afrizal dengan banyak ketakterdugaan. Ia datang dari dunia pecah belah. Dari dunia puisi-puisinya yang konon disangka gelap. Dari biografi puisi yang tak berhenti mencari rumah bahasanya. Namun teater terus dibuat, dipanggungkan, dan di sanalah bahasa dan peristiwa dalam pertunjukan teater bertemu. Continue reading “Kuburan Teater Afrizal Malna”

Teater dan Kita

A.S. Laksana
Jawa Pos, 14 Nov 2016

Pada Sabtu, 20 Agustus 2016, saya makan nasi goreng bersama penyair Afrizal Malna di trotoar depan gerbang Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Malam itu saya baru saja mengajar kelas penulisan kritik sastra yang diadakan Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta (DKJ). Pada hari yang sama, komite teater menyelenggarakan diskusi. Afrizal adalah ketua Komite Teater DKJ untuk kepengurusan periode 2015–2018. Continue reading “Teater dan Kita”

Puitika Rumah Sakit Jiwa Dalam Sajak-sajak F. Rahardi

Afrizal Malna

BEBERAPA kali F. Rahardi mengatakan kepada saya bahwa sajak-sajaknya yang terkumpul dalam Soempah WTS (Puisi Indonesia 1983), ia buat dengan main-main. Tidak jelas apa yang ia maksud dengan “main-main”. Apakah ia merupakan suatu cara dalam menulis sajak, yaitu cara main-main. Atau keseluruhan dari sajak-sajaknya adalah merupakan suatu permainan, suatu yang main-main, sesuatu yang tidak serius, yang tidak memiliki usaha terhadap pendalaman, suatu yang bernilai hanya sebagai suatu permainan. Dan apabila ini diteruskan akan menjadi : main-main merupakan salah satu gaya penulisan sajak. Continue reading “Puitika Rumah Sakit Jiwa Dalam Sajak-sajak F. Rahardi”

Arsip Aku di Kedalaman Krisis

Afrizal Malna *
Kompas, 9 Mar 2014

KALIMAT ini letaknya agak ke kiri, di antara lipatan udara bergaram, botol kecap, dan daftar menu dengan serakan pasir laut tertempel pada ”cover”-nya. Lalat memenuhi meja makan, seperti titik-titik hitam bersayap.

Beberapa kalimat agak berantakan, ketika aku mencoba menatap Ni Komang Ayu. Hewan kecil itu kadang bermain di antara rambut Ni Komang yang terurai panjang, seperti mengukur jarak antara kesunyian dan pikiran-pikirannya. Continue reading “Arsip Aku di Kedalaman Krisis”