
Djoko Saryono * Continue reading “DEFORMASI PUITIK, AFRIZAL[IAN]ISME, DAN GEGAR BUDAYA”
Arsip Aku di Kedalaman Krisis
Afrizal Malna *
Kompas, 9 Mar 2014
KALIMAT ini letaknya agak ke kiri, di antara lipatan udara bergaram, botol kecap, dan daftar menu dengan serakan pasir laut tertempel pada ”cover”-nya. Lalat memenuhi meja makan, seperti titik-titik hitam bersayap.
Beberapa kalimat agak berantakan, ketika aku mencoba menatap Ni Komang Ayu. Hewan kecil itu kadang bermain di antara rambut Ni Komang yang terurai panjang, seperti mengukur jarak antara kesunyian dan pikiran-pikirannya. Continue reading “Arsip Aku di Kedalaman Krisis”
Tulisan Kelinci Merah
Afrizal Malna *
Kompas, 11 Nov 2012
BAU tanah seperti ladang kenangan, perputaran dari yang tumbuh tanpa perubahan, dan rumah-rumah air tanpa banjir. Bau daun, dahan-dahan pohon, lumut yang memberi warna pada batu dan kayu, semua seperti kalimat padat yang membuat hutan seperti konser kebisuan. Continue reading “Tulisan Kelinci Merah”
Pasir Retak
Afrizal Malna *
Jawa Pos, 20 Mei 2012
HUJAN turun di atas api. Suara api dan suara hujan bercampur seperti suara sungai dengan alirannya yang deras. Keduanya menjadi nyanyian cinta menjelang senja.
Hujan tak tahu kenapa api membuat warna merah jingga yang panas, api juga tak tahu kenapa hujan dipanggil hujan setiap ia turun, seperti mahluk terbuat dari air yang turun dari langit. Mereka berdua, hujan dan api itu, mengatakan: Continue reading “Pasir Retak”
KELUHAN PRAMOEDYA DAN KEADAAN KINI
Anindita S. Thayf *
Kompas, 22/07/2020
Sejak tahun 1952, Pramoedya Ananta Toer sudah mengeluhkan soal kondisi finansial pengarang Indonesia. Lewat dua esai, Hidup dan Kerja dan Keadaan Sosial Para Pengarang: Perbandingan Antarnegara, Pramoedya membandingkan pendapatan pengarang Republik Rakyat Tiongkok dengan pengarang Indonesia. Continue reading “KELUHAN PRAMOEDYA DAN KEADAAN KINI”
