Gaya Hidup “delete” Kritik Seni “enter” Promotor Seni

Afrizal Malna*
Kompas,6 Mei 2007

HAMPIR selama dua minggu, sejak awal April kemarin, saya beberapa kali sempat bertemu dengan Boedi S Otong, sutradara Teater Sae yang hidup sebagai performer di Eropa sejak awal tahun 1990-an.

Selama dua minggu itu saya cenderung terlalu memaksakan diri untuk bisa bertemu dan ngo- brol dengannya. Tubuh dan jiwa saya terasa sakit dan tidak siap untuk bertemu dengan siapa pun waktu itu. Continue reading “Gaya Hidup “delete” Kritik Seni “enter” Promotor Seni”

Afrizal Malna dan Titarubi: Merajut Cinta Yang Hilang

Sabrank Suparno *

Bagi kalangan perteateran dan sastra (puisi), siapa yang tidak mengenal sosok melankolis Afrizal Malna? Tokoh yang disebut-sebut sebagai seniman multidimensi, tajam sebagai seniman, sekaligus peka sebagai sosiolog. Sosok kondang sebagai tokoh kontroversi di era-korup, kolusif terhadap kebijakan orba, sekaligus eksis menjumpai generasi kontemporer setelah rezim orba tumbang. Continue reading “Afrizal Malna dan Titarubi: Merajut Cinta Yang Hilang”

Afrizal Malna: Puisi dan Geometri Ruang Imajiner

Asarpin *

Setiap yang saya lakukan harus ada rasionalisasinya… Sebab saya tak mau terombang-ambing dalam wilayah yang cenderung tak bertuan.
–AFRIZAL MALNA, dalam esai ”Proses Kreatif”, dimuat dalam bagian akhir buku himpunan puisi Kalung dari Teman.

Dan waktu adalah air
–AFRIZAL MALNA, fragmen puisi ”Fanta Merah untuk Dewa-dewa” Continue reading “Afrizal Malna: Puisi dan Geometri Ruang Imajiner”

Template Afrizal Malna

Ribut Wijoto
Radar Surabaya, 7/11/2010

Dalam beberapa hal, saya adalah penggemar Afrizal Malna. Ketika suatu kali Afrizal bilang bahwa banyak penyair sekarang sebenarnya tidak punya alasan untuk menulis puisi, sungguh, saya terpesona.

Apakah pernyataan itu dilontarkan setelah melalui riset yang panjang, pertimbangan mendalam, atau sekadar ceplosan, saya tidak tahu pasti. Yang pasti, dalam beberapa hari bahkan bulan, pernyataan itu terus terngiang dalam benak saya. Continue reading “Template Afrizal Malna”

Bahasa »