SELAMAT JALAN MAS RADHAR…

Radhar Panca Dahana (26 Maret 1965 – 22 April 2021)

Aguk Irawan MN *

“Kalau ke Jakarta, jangan lupa singgah di Bale Sastra Kecapi ya, Guk?” Sms-nya dulu sering masuk ke hp saya. Begitu sesekali saya mampir, dengan niat menimba ilmu kebudayaan. “Orang besar” yang merasa kecil dan bersahaja itu kemudian mengumpulkan teman-teman, lalu pertemuan berakhir di meja makan dengan ia yang mentaktir. Ya, selalu begitu. Continue reading “SELAMAT JALAN MAS RADHAR…”

PUASA, PUISI DAN RUANG BATIN

Aguk Irawan MN *
Kedaulatan Rakyat, 28 Mei 2017

“Agama dimulai dari momen puitik, Budha di bawah sebatang pohon di Bodh Gaya, Musa di puncak Sinai, Muhammad di Gua Hira. Karena itu, menulis puisi itu situasi terpuncak dalam momen penghayatan atau pengalaman bagi seorang yang beragama. Jadi tak cukup, hanya sepasang mata penyair saja yang jatuh cinta pada kertas, tapi juga jiwanya. Ya jiwa penyair harus jatuh cinta kepada Tuhan.” Demikian ungkap penyair senior KH. D Zawawi Imron, Continue reading “PUASA, PUISI DAN RUANG BATIN”

HUDA S NOOR: BAKAT SENI, CINTA DAN KESENDIRIAN

Aguk Irawan MN

Pada hari Selasa, 6 April 2021 kemarin adalah hari duka bagi bangsa Indonesia. Dua putra terbaiknya, Umbu Landu Paranggi dan Daniel Dhakidae meninggalkan kita untuk selamanya. Kita tahu Umbu, reputasinya bukan hanya seorang penyair legendaris Maliboro, tetapi ia juga paus dan begawan puisi, begitu halnya dengan Dhakidae, ia lebih dari seorang intelektual, tapi juga Sang Pamomong melalui Prisma yang dikomandani. Continue reading “HUDA S NOOR: BAKAT SENI, CINTA DAN KESENDIRIAN”