Cita Rasa Baru Keroncong

Aguslia Hidayah
http://www.korantempo.com/

Nyak Ina Raseuki dan kawan-kawan menafsirkan kembali keroncong dan mementaskannya di Salihara pekan lalu. “Pepaya, mangga, pisang, jambu// dibawa dari Pasar Minggu// di desa banyak penjualnya// di kota banyak pembelinya”

Lagu keroncong lawas itu mengantarkan sensasi lain. Sensasi yang bukan ala Mus Muyadi, Sundari Sukoco, atau Anastasia Astutie. “Sensasi keroncong yang lain” itulah yang disajikan oleh sebuah kelompok musik keroncong yang menamakan dirinya Kroncong Tenggara di Salihara pada Jumat dan Sabtu malam pekan lalu. Berbalut baju putih-putih bersetelan kain sarung, mereka memperkenalkan kolaborasi musik khazanah nusantara itu dengan ragam genre musik lainnya. Continue reading “Cita Rasa Baru Keroncong”

FLORET, KIPAS, dan PERTARUNGAN

Aguslia Hidayah*
http://www.korantempo.com/

Di Salihara, koreografer Rury Nostalgia menampilkan perang tanding Adaninggar-Kelaswara secara menarik.

Tak ada anak panah diluncurkan dari busur, seperti diceritakan Yasadipura I dalam Serat Menak Cina. Detik-detik kematian Adaninggar, sang putri Cina, di tangan koreografer Rury Nostalgia diwujudkan dengan penari yang berputar-putar hingga sorot lampu redup. Continue reading “FLORET, KIPAS, dan PERTARUNGAN”

Visi Chairil tentang Kota

Aguslia Hidayah
http://www.korantempo.com/

Sajak Aku Berkisar Antara Mereka paling eksplisit merefleksikan visi Chairil Anwar tentang kota.

“Saya hanya akan menawarkan tafsir seorang pembaca, yang melihat Chairil Anwar sebagai subyek dalam landasan sebuah modernisasi. Bukan sebagai “aku” yang “individu”, tapi sebagai “aku” dalam posisi “subyek”. Bukan sebagai “aku” yang “dari kumpulannya terbuang”, bukan sebagai aku yang mencari kebebasan perorangan dari norma kolektif, melainkan “aku” yang merdeka dari segala hendak meneguhkan kepribadian yang kritis.” Continue reading “Visi Chairil tentang Kota”

Sarimin Bersalah

Aguslia Hidayah
http://www.tempointeractive.com/

Jakarta:Apa salah Sarimin? Ia hanya menemukan kartu tanda penduduk di tengah perjalanannya. Tukang topeng monyet keliling itu menemukannya saat melintas di kawasan Taman Lawang. Namun, ia malah dituduh mencuri dompet. Masalah semakin pelik manakala kartu identitas tersebut ternyata milik seorang hakim agung. Continue reading “Sarimin Bersalah”

Sajak kepada Soeharto

Aguslia Hidayah
http://www.korantempo.com/

Sementara sekeliling penuh pesta tenjor jingga/ Tapi darah tumpah dijalan raya kampus Trisakti/ Tapi peluru berdesingan di ruas Semanggi…

Sajak berjudul Perjalanan Nusantara Sejuta Nuansa itu dibacakan penyair Diah Hadaning di di Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Ahad lalu. Sejumlah penyair berkumpul dan membaca sajak dalam acara bertajuk “Soeharto dalam Sajak”. Continue reading “Sajak kepada Soeharto”