“ANAK INI MAU MENGENCINGI JAKARTA?”

Ahmad Tohari *

Tentu tidak ada penumpang yang setuju kereta api malam dari timur itu berhenti sesaat menjelang stasiun Pasar Senen. Tapi nyatanya kereta api itu benar-benar berhenti. Entah ada apa di depan sana. Penumpang yang sudah bangun banyak yang mengeluh. Tiga laki-laki secara bersamaan melihat jam tangan mereka dengan wajah kecut. Masinis di ruang kemudi dan dua kondektur di gerbong paling depan mendesah kesal. Continue reading ““ANAK INI MAU MENGENCINGI JAKARTA?””

Ronggeng Dukuh Paruk : Cacat Latar yang Fatal

F. Rahardi *
Majalah Horison, Jan 1984

Kesan utama yang segera timbul sehabis baca novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari (Gramedia, Jakarta 1982) adalah adanya sebuah latar (setting) yang sangat bagus. Latar tersebut terbentuk suasana alam pedesaan dengan lingkungan flora serta faunanya dan Ahmad Tohari berhasil melukiskannya dengan bahasa yang bagus dan menarik. Kesan yan begitu mendalam terhadap latar tersebut juga lebih diperkuat lagi oleh tidak terlalu luarbiasanya unsur-unsur lain seperti kerangka cerita, tema, alur, karakter tokoh dan lain-lain. Continue reading “Ronggeng Dukuh Paruk : Cacat Latar yang Fatal”