Malam Seribu Bulan

Ahmad Zaini*

Kilatan lampu menembus celah pepohonan di depan rumah. Bias sinarnya tidak teratur terganggu dedaunan yang bergoyang diterpa angin. Bayang-bayangnya melukis dinding rumah yang cerah oleh cahaya lampu. Pada meja makan telah berjajar berbagai menu berbuka puasa. Istriku sengaja menghidangkan menu yang tidak seperti biasanya. Hari ini ia membuat menu istimewa yang penuh gizi agar nutrisinya mampu mengganti tenagaku yang semalam tercurah demi ibadah di bulan suci. Continue reading “Malam Seribu Bulan”

Harapan Hampa

Ahmad Zaini*

Di ruang tamu yang sepi, Halimah duduk sendiri sambil menyulam kebayanya yang robek. Jemarinya menari telaten hingga tepi kain yang terpisah tersambung lagi. Tatap matanya sayu memikirkan anak perempuannya yang kini mengadu nasib mengikuti tes CPNS di daerah tempat ia tinggal. Ia kaget saat ujung jarum menusuk jarinya lalu setetes darah keluar segar. Serta merta ia mengaduh kesakitan kemudian ia meraih guntingan kain untuk membalut lukanya. Continue reading “Harapan Hampa”

Doa Malam Ketujuh

Ahmad Zaini*

Kumandang lantunan doa bergema dari rumah Yasak. Suara ratusan orang yang berjejal di rumah berbahan dari bambu itu berebut khusuk menembus celah-selah dinding rumah yang sudah lapuk. Tangis isak serta linangan air mata terus mengalir dari para pelantun doa. Mereka sibuk mengusap air mata dengan ujung baju atau dengan sarung untuk menahan air mata bening yang terus mengalir. Doa-doa terus bergema diiring hembusan angin rawa yang menembus celah dinding-dinding rumah. Continue reading “Doa Malam Ketujuh”