Andrea Hirata, Ingin ‘Sulap’ Tanah Kelahiran Jadi Desa Sastra Pertama

Endro Yuwanto, Neni Ridarineni
http://www.republika.co.id/

Penulis novel ‘Laskar Pelangi’, Andrea Hirata, ingin menjadikan Desa Linggang, di Pulau Belitung, yang merupakan tanah kelahirannya sebagai desa sastra pertama kali di Indonesia.

”Sampai sejauh ini konsep Desa Sastra Linggang merupakan inisiatif pribadi saya saja. Konsep ini sudah lama ada dalam pikiran dan ide saya itu semakin menemukan jalan ketika saya dapat beasiswa sastra ikut International Writing Program (IWP) 2010 di University of Iowa, Amerika Serikat ini. Continue reading “Andrea Hirata, Ingin ‘Sulap’ Tanah Kelahiran Jadi Desa Sastra Pertama”

Andrea Hirata: Kita dalam Krisis Keteladanan

Triyanto Triwikromo
suaramerdeka.com

FILM Laskar Pelangi “yang bakal diputar secara serentak di seluruh Indonesia” 25 September diperkirakan akan ditonton jutaan penonton menyusul kesuksesan novelnya yang telah dinikmati oleh lebih dari 1 juta pembaca. Namun sungguh mengejutkan, di tengah kegemuruhan kabar indah itu, Andrea Hirata, sang novelis yang juga telah melahirkan Sang Pemimpi dan Edensor (nominator Khatulistiwa Literary Award 2007), serta Maryamah Karpov Continue reading “Andrea Hirata: Kita dalam Krisis Keteladanan”

MENYIBAK RUH SUKSES MENULIS ANDREA HIRATA

Sutejo
Ponorogo Pos

Jawa Pos tanggal 14 Desember 2007, memuat feature yang inspirasional, yakni tentang perjalanan buku yang menjadi bestseller dari pengarang yang tidak mau disebut sastrawan. Lelaki pengarang ini dalam perjalanan akademiknya luar biasa: (a) lulus di UI dengan predikat cum laude, dan (b) S2 dari dua perguruan tinggi luar negeri yang juga cum laude. Bukan masalah pendidikannya yang luar biasa tetapi nuansa spiritualitas yang mengikat. Lelaki luar biasa ini bernama Andrea Hirata. Continue reading “MENYIBAK RUH SUKSES MENULIS ANDREA HIRATA”

Laskar Pelangi dan Ihwal Film Nasional

Fahrudin Nasrulloh*
Jawa Pos, 19 Okto 2008

Memperingati 10 Nopember 1945 adalah mengenang pekik hidup-mati, geriung tank yang merangsek, dan simbahan getih di Jembatan Merah Surabaya. Ini lelayap bayangan saya kiranya, sebelum saya menyimak memoar Bung Tomo dalam bukunya 10 Nopember (Penerbit Balapan: Jakarta, 1951). Tersebab itu, saya memburu berbulan-bulan film garapan Imam Tantowi yang berjudul Soerabaia 45: Hidup atau Mati!. Susah memang, tapi akhirnya ketemu juga di rentalan film di depan GOR Jombang. Continue reading “Laskar Pelangi dan Ihwal Film Nasional”